Ilmu Itu Nyawanya Islam dan Tiangnya Iman
Rabu, 18 Januari 2023 - 19:13 WIB
loading...
Foto bersama Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia Prof. Asep Saefuddin bersama para tokoh Islam dalam bedah buku Integrasi Ilmu dan Islam di Jakarta.
A
A
A
JAKARTA - Ilmu itu nyawanya Islam, dan tiangnya iman. Jika umat tidak berilmu, berarti tidak bernyawa. Kalimat ini dinyatakan tegas oleh Prof. Dr. Ir. H.A.M Saefuddin, dalam bedah buku "Integrasi Ilmu dan Islam" di Jakarta yang merupakan karyanya bersama Drs. Yuddy Ardhi.
Ia juga menyampaikan saat ini umat Islam masih bernyawa, walaupun tidak sempurna. Umat Islam ungkapnya imannya masih sering goyah, karena ilmunya tidak sempurna.
Saefuddin juga menyerukan agar kualitas sumber daya manusia Islam harus ditingkatkan. Untuk masa yang akan datang peranan sumber daya alam tidak lagi penting. “Jauh lebih penting adalah kualitas umat. Segala sesuatu yang disentuhnya ada nilai tambah . Jadi nilai barang meningkat ribuan kali dari nilai benda asal,” ucapnya.
Terkait dengan mempelajari ilmu yang berbasis Islam, H. A.M Saefuddin, menyampaikan bahwa saat ini banyak ilmu-ilmu yang sudah terintegrasi nilai-nilai keislaman, contohnya seperti Manajemen Islam, Bimbingan Konseling Islam, Pemasaran Syariah, dan Psikologi Islam.
Sementara itu penulis kedua Drs. Yuddy Ardhi menyatakan untuk mengetahui ilmu, harus mengetahui sumber ilmunya. Karena ilmu yang tidak dikonfirmasi dengan sumber ilmunya, akan terpengaruh dengan sekuler. “Contohnya adalah pemikiran liberalisme. Ketika kita sudah menjadi Islam, kita akan mengetahui pencipta, ajarannya. Al-Qur’an adalah sumber ilmu, dan menjadi landasan bagi ummat muslim di seluruh Indonesia. Misi dari buku ini adalah memaknai antara integrasi dan islam,” Ujarnya.
Dalam bedah buku yang diselenggarakan Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) ini dihadiri sejumlah tokoh penting. Prof. Asep Saefuddin, selaku Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia, Prof. Fathul Wahid Ph.D, selaku
Koordinatoriat Konsorsium Epistemologi Islam / Pengurus Harian BKS-PTIS, Prof. Hermawan Kresno Dipojono, selaku Ketua AMKI, dan Adian Husaini, selaku Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.
Acara dibuka dengan sambutan oleh, Prof. Fathul Wahid Ph.D, yang menyampaikan tentang scientific ilmiah, salah satunya dengan bagaimana masyarakat muslim bisa berpikir ilmiah secara islam, yaitu dengan “MasyaAllah, SubhanAllah” Ketika melihat suatu kejadian atau keindahan akan suatu hal. Ketika pandemi covid melanda, kepercayaan masyarakat Indonesia, akan science dan scientist meningkat. Sebanyak 34% publik kepada science dan scientist.
Ia juga menyampaikan saat ini umat Islam masih bernyawa, walaupun tidak sempurna. Umat Islam ungkapnya imannya masih sering goyah, karena ilmunya tidak sempurna.
Saefuddin juga menyerukan agar kualitas sumber daya manusia Islam harus ditingkatkan. Untuk masa yang akan datang peranan sumber daya alam tidak lagi penting. “Jauh lebih penting adalah kualitas umat. Segala sesuatu yang disentuhnya ada nilai tambah . Jadi nilai barang meningkat ribuan kali dari nilai benda asal,” ucapnya.
Terkait dengan mempelajari ilmu yang berbasis Islam, H. A.M Saefuddin, menyampaikan bahwa saat ini banyak ilmu-ilmu yang sudah terintegrasi nilai-nilai keislaman, contohnya seperti Manajemen Islam, Bimbingan Konseling Islam, Pemasaran Syariah, dan Psikologi Islam.
Sementara itu penulis kedua Drs. Yuddy Ardhi menyatakan untuk mengetahui ilmu, harus mengetahui sumber ilmunya. Karena ilmu yang tidak dikonfirmasi dengan sumber ilmunya, akan terpengaruh dengan sekuler. “Contohnya adalah pemikiran liberalisme. Ketika kita sudah menjadi Islam, kita akan mengetahui pencipta, ajarannya. Al-Qur’an adalah sumber ilmu, dan menjadi landasan bagi ummat muslim di seluruh Indonesia. Misi dari buku ini adalah memaknai antara integrasi dan islam,” Ujarnya.
Dalam bedah buku yang diselenggarakan Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) ini dihadiri sejumlah tokoh penting. Prof. Asep Saefuddin, selaku Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia, Prof. Fathul Wahid Ph.D, selaku
Koordinatoriat Konsorsium Epistemologi Islam / Pengurus Harian BKS-PTIS, Prof. Hermawan Kresno Dipojono, selaku Ketua AMKI, dan Adian Husaini, selaku Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.
Acara dibuka dengan sambutan oleh, Prof. Fathul Wahid Ph.D, yang menyampaikan tentang scientific ilmiah, salah satunya dengan bagaimana masyarakat muslim bisa berpikir ilmiah secara islam, yaitu dengan “MasyaAllah, SubhanAllah” Ketika melihat suatu kejadian atau keindahan akan suatu hal. Ketika pandemi covid melanda, kepercayaan masyarakat Indonesia, akan science dan scientist meningkat. Sebanyak 34% publik kepada science dan scientist.
Lihat Juga :