Dua Profesor Ini Akan Dikukuhkan Jadi Guru Besar UNS

Kamis, 10 Agustus 2017 - 20:11 WIB
Dua Profesor Ini Akan...
Dua Profesor Ini Akan Dikukuhkan Jadi Guru Besar UNS
A A A
JAKARTA - Jumlah guru besar Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah akan bertambah.

Prof Dr Wakit A Rais M Hum akan dikukuhkan menjadi Guru Besar Ilmu Linguistik (etnolinguistik) dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Wakit menjadi Guru Besar ke-185 UNS dan ke-23 FIB.

Selain Wakit A Rais, Prof Dr Suyitno MPd juga akan menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Kajian Sastra dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Dia akan diangkat sebagai Guru Besar ke-184 UNS dan ke-56 yang dimiliki FKIP. Keduanya akan dikukuhkan secara resmi saat Sidang Senat Terbuka UNS, 15 Agustus mendatang.

Prof Wakit A Rais sudah mengkaji hubungan bahasa dan budaya Jawa dalam perspektif kajian etnolinguistik sekitar 15 tahun, dan menghasilkan sekitar 40 karya penelitian terkait kebudayaan dan kearifan lokal Jawa.

“Kajian kurang lebih dari 15 tahun telah mendorong saya untuk menekuni berbagai
persoalan tersebut,” kata Wakit A Rais, Kamis (10/8/2017) siang.

Berpijak dari pengalaman tersebut, dalam pidato pengukuhan guru besar
nanti dirinya akan mengangkat kearifan lokal yang terangkum dalam bahasa Jawa sebagai tema utama.

Dia berpendapat ketahanan kepribadian masyarakat sangat ditentukan oleh kekuatan kearifan lokal (local genius) dalam menghadapi kekuatan global.

Sementara itu, Prof Suyitno sangat aktif dan konsisten dalam menekuni ilmu kajian sastra. Pria kelahiran Sukorejo, 22 Januari 1952 itu telah menghasilkan sekitar lima buku ilmiah dan sembilan penelitian terkait kajian sastra.

Dalam naskah pidato pengukuhan guru besar, Suyitno akan mengupas tuntas terkait adanya multi paradigma dalam kajian sastra. Juga menunjukkan antusiasmenya dalam melihat pendekatan kajian karya sastra dari sistem oligarki dan jerat kapitalisme.

“Saya berpendapat jika realitas sastra sebagai perpaduan realitas nyata dan realitas baru kreativitas pengarangnya bersifat subjektif. Realitas sastra bersandar pada visi pengarang dan tidak pernah terlepas dari hakikatnya yang imajinatif,” kata Suyitno.
(dam)
Berita Terkait
Paradoks Pendidikan...
Paradoks Pendidikan Tinggi
Pengalaman 36 Tahun,...
Pengalaman 36 Tahun, Universitas Terbuka Ingin Bantu PT Lain
Kualitas Universitas...
Kualitas Universitas Oxford Tak Terkalahkan di Dunia
iSB Sediakan Jurusan...
iSB Sediakan Jurusan Akuntansi Internasional, Ini Sejumlah Keunggulannya
16 Lembaga Layanan Pendidikan...
16 Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi di Indonesia, Ini Daftar dan Kontaknya
100 Program Studi Vokasi...
100 Program Studi Vokasi Akan Dipadukan dengan Dunia Industri dan Kerja
Berita Terkini
Iskandar Zulkarnain...
Iskandar Zulkarnain Tawarkan Model Hukum Baru Hubungan Kerja Dokter-Rumah Sakit yang Adaptif
15 jam yang lalu
Digelar 5 Hari, Ini...
Digelar 5 Hari, Ini Rangkaian Kegiatan MPLS 2026 untuk Murid TK
20 jam yang lalu
18 Sekolah Ikut Kejuaraan...
18 Sekolah Ikut Kejuaraan Fun Atletik ABK 2026, Dorong Olahraga Inklusif di Indonesia
20 jam yang lalu
Jalur Mandiri Ujian...
Jalur Mandiri Ujian Tulis UNJ 2026 Masih Buka Pendaftaran, Simak Persyaratannya
22 jam yang lalu
4 Pelajar Indonesia...
4 Pelajar Indonesia Siap Berlaga di Olimpiade Kimia Internasional IChO 2026
1 hari yang lalu
Unesa Buka Jalur TMUBK...
Unesa Buka Jalur TMUBK Gelombang 2 2026, Cek Persyaratannya
1 hari yang lalu
Infografis
Virus Hanta Merebak!...
Virus Hanta Merebak! Ini 5 Gejalanya yang Perlu Diwaspadai
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved