568.171 Siswa Paket Terancam Drop-out

Rabu, 14 Februari 2018 - 08:25 WIB
568.171 Siswa Paket...
568.171 Siswa Paket Terancam Drop-out
A A A
JAKARTA - Sebanyak 568.171 siswa sekolah paket terancam berhenti sekolah (drop-out). Penyebabnya mereka tidak mendapat bantuan operasional yang menunjang berjalannya sekolah.

Sekretaris Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Wartanto mengatakan, 568.171 siswa paket A, B, dan C ini awalnya tidak bersekolah.

Namun, mereka direkrut oleh pemerintah pusat untuk disekolahkan di sekolah paket sejak 2017. Masalah terjadi ketika mereka mendapat biaya pendidikan melalui Program Indonesia Pintar (PIP), namun lembaga pendidikannya kesulitan beroperasi lantaran tidak mendapat bantuan operasional pendidikan (BOP).

“Yang jadi masalah PIP dapat, tapi BOP tidak dapat, sehingga lembaga pendidikan nonformal khususnya pusat kegiatan belajar mengajar (PKBM) berteriak. Sudah direkrut, tapi biaya pembelajarannya tidak ada,” katanya di Kantor Kemendikbud, Jakarta, kemarin.

Wartanto mengatakan, Kemendikbud sudah berkomunikasi dengan Kementerian Keuangan agar BOP itu bisa diadakan. Dia menjelaskan, usulan anggaran bantuan operasional bagi lembaga pendidikan nonformal ini Rp500 miliar sehingga per anak bisa mendapat satuan biaya Rp750.000 hingga Rp1,5 juta per tahun.

Jika dirinci, total 568.171 siswa usia sekolah yang tidak bersekolah ini terbagi atas siswa paket A 69.905 siswa, paket B 242.004, dan paket C 256.262 siswa yang seharusnya masuk PIP 498.266.

Sedangkan total siswa paket kesetaraan yang mencakup siswa berusia di atas 21 tahun untuk Paket A sebanyak 177.264, Paket B 441.021 orang, dan Paket C 433.308 siswa.

Siswa ber usia di atas 21 tahun tidak mendapat KIP. Menurut Wartanto, jika tidak ada bantuan operasional, siswa paket ini kemungkinan terancam berhenti dari PKBM dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Total PKBM sebanyak 11.000 unit, sementara SKB ada 311 unit.

Wakil Ketua Komisi X DPR Abdul Fikri berpendapat, pemerintah harus memberikan bantuan biaya bagi siswa dan lembaga pendidikan nonformal ini.

Dia berpendapat tidak ada BOP ini karena kurangnya kementerian dalam menarasikan kebutuhan anggaran pada forum trilateral meeting, terutama kepada Kemenkeu. (Neneng Zubaidah)
(nfl)
Berita Terkini
Rekrutmen 3.053 Guru...
Rekrutmen 3.053 Guru PPPK Sekolah Rakyat Dibuka 8 Juni 2026, Lengkapi Persyaratan Ini
17 menit yang lalu
OSN 2026 Diikuti 941.692...
OSN 2026 Diikuti 941.692 Peserta, Kemendikdasmen Tegaskan Integritas dan Transparansi
13 jam yang lalu
Perpres ATS 2026 Diresmikan,...
Perpres ATS 2026 Diresmikan, Pemerintah dan Daerah Bersinergi Cegah Anak Putus Sekolah
14 jam yang lalu
President University...
President University Buka Kelas Khusus Taylor Swift, Ini yang Dipelajari Mahasiswa
17 jam yang lalu
Beasiswa PMDSU 2026...
Beasiswa PMDSU 2026 Dibuka, Kuliah S2-S3 Gratis Terintegrasi 4 Tahun
18 jam yang lalu
Pendaftaran SPMB SD...
Pendaftaran SPMB SD Kota Bogor 2026 Mulai 8 Juni, Ini Syarat dan Cara Seleksinya
19 jam yang lalu
Infografis
Bina Siswa Nakal di...
Bina Siswa Nakal di Barak Militer, Maarif Institut: Berpotensi Merusak Sistem Pendidikan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved