Masih Titik Beratkan Skolastik, Sistem Pendidikan Harus Direformasi
Kamis, 28 Februari 2019 - 15:52 WIB
Masih Titik Beratkan Skolastik, Sistem Pendidikan Harus Direformasi
A
A
A
JAKARTA - Sistem pendidikan di Indonesia saat ini dinilai belum mampu menjawab perkembangan zaman.
Sistem saat ini masih menitikberatkan sekolah dan orangtua untuk "memaksa" anak-anak untuk menguasai kemampuan skolastis seperti membaca, berhitung, matematika, bahasa Inggris.
Sistem seperti itu membuat sekolah dan orangtua lupa mengimbangi dengan pendidikan karakter bangsa Indonesia.
Untuk itu, sistem pendidikan saat ini dinilai harus direformasi total untuk membangun generasi bangsa yang lebih beradab.
“Pendidikan karakter harus menjadi program prioritas utama pemerintah dan kebijakan itu harus terbaca dalam kurikulum di semua level pendidikan mulai taman kanak-kanak (TK) sampai perguruan tinggi (PT). Di samping itu, harus menjadi gerakan sosial seluruh warga,” tutur Ketua Yayasan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Siti Musdah Mulia, di Jakarta, Kamis (28/2/2019).
Menurut Musdah, upaya menanamkan pendidikan karakter harus dimulai dari pendidikan calon orang tua (parenting education) sebelum menikah. Artinya, para calon orangtua harus mendapatkan bimbingan intensif cara mendidik anak di masa serba digital seperti sekarang ini.
Mereka juga harus diberi wawasan kebangsaan dan pendidikan agama yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Dengan parenting education, harap Musdah, para orangtua menjadi lebih siap dan paham cara mendidik anak, baik saat di rumah maupun di sekolah. Bersamaan dengan itu, pendidikan sekolah harus lebih kuat membangun aspek karakter dengan mengutamakan nilai-nilai, bukan mengajarkan teori semata.
“Guru harus terlebih dulu memberikan contoh teladan. Karena itu perlu ada semacam reformasi total dalam pelaksanaan pendidikan mulai dari tingkat bawah sampai tinggi,” ujar Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini.
Dia menjelaskan, pendidkan termasuk pendidikan melalui media harus menjadi institusi utama dalam membangun moral bangsa. Selain itu harus ada upaya melakukan seleksi ketat terhadap konten media, terutama di media sosial (medsos), agar peserta didik tidak begitu saja mendapatkan konten-konten dari medsos.
Untuk itu, sambung Musdah, para pemimpin negara dan elite politik harus menjadi contoh teladan. Pasalnya, ucapan dan perilaku di muka publik harus mengutamakan nilai-nilai Pancasila dan sejalan dengan prinsip hak asasi manusia (HAM).
“Kalau pemimpinnya beradab maka keputusan-keputusan yang dihasilkan, pasti akan lebih beradab, terutama dalam membangun karakter bangsa yang ber-Pancasila,” katanya.
Musdah juga menyarankan, selain pendidkan karakter sejak kecil, masyarakat sipil khususnya pemuda dan remaja juga perlu diberikan pendidikan politik yang berorientasi nillai-nilai spiritual yang humanis dan pluralistik.
Selanjutnya, kata dia, para pemimpin agama harus didorong untuk menyosialisasikan interpretasi agama yang akomodatif terhadap nilai-nilai Pancasila dan kemanusiaan serta menolak semua bentuk diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan, apa pun alasannya.
“Kalau itu dijalankan dengan baik, insya Allah, kita akan memiliki generasi bangsa yang beradab dan berkualitas,” tutur Musdah.
Sistem saat ini masih menitikberatkan sekolah dan orangtua untuk "memaksa" anak-anak untuk menguasai kemampuan skolastis seperti membaca, berhitung, matematika, bahasa Inggris.
Sistem seperti itu membuat sekolah dan orangtua lupa mengimbangi dengan pendidikan karakter bangsa Indonesia.
Untuk itu, sistem pendidikan saat ini dinilai harus direformasi total untuk membangun generasi bangsa yang lebih beradab.
“Pendidikan karakter harus menjadi program prioritas utama pemerintah dan kebijakan itu harus terbaca dalam kurikulum di semua level pendidikan mulai taman kanak-kanak (TK) sampai perguruan tinggi (PT). Di samping itu, harus menjadi gerakan sosial seluruh warga,” tutur Ketua Yayasan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Siti Musdah Mulia, di Jakarta, Kamis (28/2/2019).
Menurut Musdah, upaya menanamkan pendidikan karakter harus dimulai dari pendidikan calon orang tua (parenting education) sebelum menikah. Artinya, para calon orangtua harus mendapatkan bimbingan intensif cara mendidik anak di masa serba digital seperti sekarang ini.
Mereka juga harus diberi wawasan kebangsaan dan pendidikan agama yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Dengan parenting education, harap Musdah, para orangtua menjadi lebih siap dan paham cara mendidik anak, baik saat di rumah maupun di sekolah. Bersamaan dengan itu, pendidikan sekolah harus lebih kuat membangun aspek karakter dengan mengutamakan nilai-nilai, bukan mengajarkan teori semata.
“Guru harus terlebih dulu memberikan contoh teladan. Karena itu perlu ada semacam reformasi total dalam pelaksanaan pendidikan mulai dari tingkat bawah sampai tinggi,” ujar Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini.
Dia menjelaskan, pendidkan termasuk pendidikan melalui media harus menjadi institusi utama dalam membangun moral bangsa. Selain itu harus ada upaya melakukan seleksi ketat terhadap konten media, terutama di media sosial (medsos), agar peserta didik tidak begitu saja mendapatkan konten-konten dari medsos.
Untuk itu, sambung Musdah, para pemimpin negara dan elite politik harus menjadi contoh teladan. Pasalnya, ucapan dan perilaku di muka publik harus mengutamakan nilai-nilai Pancasila dan sejalan dengan prinsip hak asasi manusia (HAM).
“Kalau pemimpinnya beradab maka keputusan-keputusan yang dihasilkan, pasti akan lebih beradab, terutama dalam membangun karakter bangsa yang ber-Pancasila,” katanya.
Musdah juga menyarankan, selain pendidkan karakter sejak kecil, masyarakat sipil khususnya pemuda dan remaja juga perlu diberikan pendidikan politik yang berorientasi nillai-nilai spiritual yang humanis dan pluralistik.
Selanjutnya, kata dia, para pemimpin agama harus didorong untuk menyosialisasikan interpretasi agama yang akomodatif terhadap nilai-nilai Pancasila dan kemanusiaan serta menolak semua bentuk diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan, apa pun alasannya.
“Kalau itu dijalankan dengan baik, insya Allah, kita akan memiliki generasi bangsa yang beradab dan berkualitas,” tutur Musdah.
(dam)