PTS di Papua-Papua Barat Siapkan Regulasi Pencegahan Kekerasan Seksual

Jum'at, 10 Mei 2019 - 12:37 WIB
PTS di Papua-Papua Barat...
PTS di Papua-Papua Barat Siapkan Regulasi Pencegahan Kekerasan Seksual
A A A
DENPASAR - Perguruan tinggi swasta (PTS) di Papua dan Papua Barat berharap menjadi leading sector sebagai institusi pendidikan tinggi yang memiliki regulasi internal dalam hal pencegahan tindak kekerasan, khususnya kekerasan seksual di lingkungan kampus. Mereka memahami kampus terbaik tidak hanya dilihat dari mutu pendidikan saja, tetapi juga kepastian keamanan bagi mahasiswa dan mahasiswi.

Demikian ditegaskan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XIV Papua-Papua Barat, Suriel S Mofu di sela Rapat Kerja Wilayah Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta di Lingkungan LLDikti Wilayah XIV Papua-Papua Barat di Denpasar, Kamis (9/5/2019), yang dihadiri sebanyak 63 pimpinan PTS baik rektor, ketua sekolah tinggi maupun pimpinan yayasan.

Salah satu pemateri dalam rapat tersebut, yaitu Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Livia Istania DF Iskandar, yang menyampaikan tentang pentingnya pergutuan tinggi untuk memiliki regulasi pencegahan kekerasan seksual. Regulasi dimaksud berupa peraturan internal baik yang dikeluarkan pimpinan yayasan maupun kampus, baik itu rektor atau ketua sekolah tinggi masing-masing.

Kepala LLDikti XIV Papua-Papua Barat, Suriel S Mofu mengatakan rapat kerja wilayah kali pertama yang melibatkan LPSK. Harapannya, kalangan perguruan tinggi di Papua dan Papua Barat bisa mendapatkan informasi tentang tugas LPSK.

“Kami ingin kampus menjadi rumah yang aman dan nyaman. Warganya merasa terlindungi sehingga perlu aturan yang ditetapkan pimpinan perguruan tinggi,” ujar Mofu dalam rilis yang diterima SINDOnews, Jumat (10/5/2019).

Menurut dia, kampus tidak hanya menghasilkan lulusan dengan intelektualitas yang tinggi tetapi juga harus berakhlak mulia, memiliki sifat yang baik dan mampu menjadi teladan. “Setelah mendapatkan materi LPSK, ada beberapa hal yang menjadi rekomendasi dari rapat ini, antara lain akan dilakukan kerja sama dalam bentuk MoU antara perguruan tinggi di Papua-Papua Barat dengan LPSK,” jelas Mofu.

Rekomendasi lainnya, lanjut Mofu, PTS di Papua-Papua Barat akan melahirkan produk peraturan pimpinan perguruan tinggi yang diimplementasi di kampus masing-masing. Ini bertujuan melindungi civitas akademika dari tindak kekerasan dalam bentuk apapun, khususnya seksual.

“Pimpinan PTS sambut baik usulan kerja sama dan butuh bimbingan teknis dari LPSK,” katanya.

Wakil Ketua LPSK Livia Istania DF Iskandar mengatakan, regulasi yang jelas dari para pimpinan perguruan tinggi sangat diperlukan sebagai pondasi untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan di kampus, khususnya seksual. Selain itu, diperlukan pula kode etik yang jelas bagi para dosen dan tenaga pendidikan, serta pedoman perilaku bagi mahasiswa dan mahasiswi.

Livia melanjutkan, pedoman pencegahan tindak kekerasan itu meliputi apa yang dimaksud dengan kekerasan akademik, pelecehan seksual, pelecehan akibat kekuasaan/penyalahgunaan kekuasan dan masalah-masalah lain yang ditimbulkan oleh pelecehan itu. Kemudian diatur pula mengenai sistem pencegahan, layanan konseling, dan langkah-langkah penanganan jika terjadi kasus.

Dia juga menekankan pentingnya meningkatkan partisipasi civitas akademika agar tidak permisif terhadap kekerasan akibat ketidaksetaraan relasi, antara dosen-mahasiswi/mahasiswa; dosen senior-dosen junior; pejabat struktural–pejabat nonstruktural. Yang juga penting, kepada siapa dapat melaporkan apabila terjadi hal tidak menyenangkan di kampus dan bagaimana kasus itu ditindaklanjuti.

Hal lain, kata Livia, diperlukan student center dengan kemampuan untuk menerima pelaporan yang juga dapat memberikan konseling darurat, serta meningkatkan sistem keamanan di kampus dengan tenaga pengamanan yang dapat memberikan bantuan yang cepat. “Regulasi yang dikembangkan nanti tidak hanya berorientasi pada penanganan pelaku, tetapi juga menghormati hak-hak korban,” tutur dia.
(kri)
Berita Terkait
Pengaduan Melonjak tapi...
Pengaduan Melonjak tapi Jumlah Pegawai LPSK Baru Terpenuhi 7,2 Persen
LPSK Luncurkan Ruang...
LPSK Luncurkan Ruang Sapa Korban Kekerasan Seksual hingga Pencopetan di Transjakarta
Duet LPSK-Media Massa:...
Duet LPSK-Media Massa: Upaya Genjot Kinerja Perlindungan Saksi dan Korban
Rumah Keluarganya Diteror,...
Rumah Keluarganya Diteror, LPSK Tawarkan Perlindungan ke Veronica Koman
LPSK Masih Butuh Keterangan...
LPSK Masih Butuh Keterangan Istri Irjen Pol Ferdy Sambo
LPSK Khawatir Restorative...
LPSK Khawatir Restorative Justice Dijadikan Keadilan Transaksional
Berita Terkini
Prabowo Gandeng Imperial...
Prabowo Gandeng Imperial College London Bangun 10 Universitas Kedokteran di Indonesia
39 menit yang lalu
BAZNAS DKI Jakarta Buka...
BAZNAS DKI Jakarta Buka Lowongan Kerja, Ini Syarat dan Posisi yang Dibuka
16 jam yang lalu
Hadapi Perubahan Dunia...
Hadapi Perubahan Dunia Kerja, Generasi Muda Perlu Dibekali Soft Skills Sejak Dini
16 jam yang lalu
Diumumkan Mulai Besok,...
Diumumkan Mulai Besok, Ini Link Pengumuman Hasil SMUP Unpad 2026
17 jam yang lalu
SPMB Jakarta 2026 untuk...
SPMB Jakarta 2026 untuk Sekolah Swasta SMP-SMA Tahap 2 Dibuka, Cek Cara Pilih Sekolah
19 jam yang lalu
Beasiswa GrabScholar...
Beasiswa GrabScholar 2026 untuk SD, SMP, SMA hingga S1 Dibuka, Cek Syarat Dokumen
21 jam yang lalu
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved