Pecat dan Skorsing Mahasiswa, Rektor UNAS Dinilai Otoriter

Rabu, 13 Agustus 2014 - 14:37 WIB
Pecat dan Skorsing Mahasiswa,...
Pecat dan Skorsing Mahasiswa, Rektor UNAS Dinilai Otoriter
A A A
JAKARTA - Sejumlah kalangan mahasiswa Universitas Nasional (UNAS) Jakarta menilai Rektornya UNAS El Amri Bermawi sangat otoriter berkaitan dengan kelanjutan Surat Keputusan (SK) Rektor Nomor 112 Tahun 2014.

Salah satu isi SK tersebut yakni pengesahan dan pemberlakuan jam malam di universitas tersebut. Efeknya, beberapa mahasiswa di-drop out (DO) dan diskorsing.

Perwakilan Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UNAS Ponco Sulaksono menyatakan, pemberlakuan SK itu sangat tidak mewakili aspirasi dari kebanyakan mahasiswa. Surat itu dituding sebagai upaya penguatan kekuasan pihak rektorat yang dipimpin El Amri Bermawi.

SK yang merupakan perubahan dari SK sebelumnya itu bahkan tidak disosialisasi kepada seluruh elemen mahasiswa. Lewat sejumlah lembaga internal seperti Senat Mahasiswa (Sema), Badan Pengurus Mahasiswa (BPM) dan Unit Kerja Mahasiswa (UKM) sebenarnya sudah berupaya untuk melakukan audiensi. Semua ternyata sia-sia dan hanya menemui jalan buntu.

"Tindakan pihak rektor menandakan bahwa mahasiswa hanya akan dilihat dan dijadikan objek oleh para pimpinan kampus," tegas Ponco kepada wartawan di Jakarta, Rabu (13/8/2014)

Selain melakukan audiensi, gelombang protes turut dilakukan oleh mahasiswa, melalui aksi damai di kampus hingga aspirasi pribadi. Langkah ini pun nihil.

Bukan mendengar suara rakyatnya, rektorat malah melakukan tindakan represif dengan melayangkan teguran kepada mahasiswa yang protes. DO menjadi jalan atas ketidakpedulian rektorat.

“Empat kawan kami bahkan ada yang di-DO. Sedangkan yang diberikan skorsing ada tiga, termasuk saya," tandas Ponco yang juga tercatat sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Politik UNAS ini.

Yang membuat situasi semakin parah adalah pihak kampus menggandeng aparat kepolisian melakukan penahanan terhadap salah seorang mahasiswa UNAS, Agam. Dia kini ditahan di Polres Jakarta Selatan dengan alasan pengrusakan terhadap fasilitas kampus setelah dijemput di rumahnya kawasan Jakarta Selatan, Senin 11 Agustus 2014 siang.

"Kami sangat menyayangkan kenapa pihak kampus tidak bertanggung jawab, tapi malah mengeluarkan dan menahan anak didiknya. Sikap itu terlihat jelas bahwa pihak rektorat sangat arogan," ujar Ponco.
(kri)
Berita Terkait
Paradoks Pendidikan...
Paradoks Pendidikan Tinggi
Pengalaman 36 Tahun,...
Pengalaman 36 Tahun, Universitas Terbuka Ingin Bantu PT Lain
Kualitas Universitas...
Kualitas Universitas Oxford Tak Terkalahkan di Dunia
iSB Sediakan Jurusan...
iSB Sediakan Jurusan Akuntansi Internasional, Ini Sejumlah Keunggulannya
16 Lembaga Layanan Pendidikan...
16 Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi di Indonesia, Ini Daftar dan Kontaknya
100 Program Studi Vokasi...
100 Program Studi Vokasi Akan Dipadukan dengan Dunia Industri dan Kerja
Berita Terkini
Digelar 5 Hari, Ini...
Digelar 5 Hari, Ini Rangkaian Kegiatan MPLS 2026 untuk Murid TK
3 jam yang lalu
18 Sekolah Ikut Kejuaraan...
18 Sekolah Ikut Kejuaraan Fun Atletik ABK 2026, Dorong Olahraga Inklusif di Indonesia
4 jam yang lalu
Jalur Mandiri Ujian...
Jalur Mandiri Ujian Tulis UNJ 2026 Masih Buka Pendaftaran, Simak Persyaratannya
5 jam yang lalu
4 Pelajar Indonesia...
4 Pelajar Indonesia Siap Berlaga di Olimpiade Kimia Internasional IChO 2026
10 jam yang lalu
Unesa Buka Jalur TMUBK...
Unesa Buka Jalur TMUBK Gelombang 2 2026, Cek Persyaratannya
11 jam yang lalu
Hadirkan Direktur Kemenkes...
Hadirkan Direktur Kemenkes RI, FK Unair Cetak Multi-Star Doctor Komunikatif
1 hari yang lalu
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved