Perguruan Tinggi Didorong Fokus Riset Kelautan, Hasto: Ini Masa Depan Indonesia

Senin, 06 Maret 2023 - 21:08 WIB
"Kita negara maritim tapi memperlakukan diri kita sebagai kontinental, karena tidak memahami pemikiran geopolitik Soekarno. Kapal Phinisi seharusnya kita kembangkan menjadi kapal modern. Apakah di sini (Makassar) ada industri elektronik untuk kapal Phinisi? Industri instrumentasi, industri baja yang handal untuk Phinisi modern? Tidak ada," kata Hasto.

Membangun Indonesia dalam teori geopolitik Soekarno harus pada potensi lokal. Sebab mayoritas wilayah Indonesia adalah lautan, maka masa depan seharusnya menatap ke lautan. Namun, selama ini Indonesia justru terpaku membangun dari daratan.

Hasto kemudian memberikan contoh Jawa Barat yang sejak zaman Belanda dan di awal Republik Indonesia berdiri merupakan wilayah pertanian. Karena itu, dibangun waduk Jatiluhur sebagai pengairan. Namun sejak Orde Baru, wilayah itu justru dijadikan kawasan industri. Pabrik banyak berdiri di atas lahan subur pertanian. Dampaknya, selain potensi waduk tak maksimal, berbagai kota di sekitarnya harus mengalami banjir ketika curah hujan sangat tinggi.

Untuk bisa mengarahkan pembangunan maritim, kata Hasto, Bung Karno sudah pernah mengkonsep city of intellect yakni membangun universitas dengan keunggulannya. Dari riset dan inovasi, Indonesia akan membangun kehebatannya, menjadi pintu gerbang Samudera Hindia menuju masa depan di Pasifik.

"Daerah yang tidak subur dibangun pelabuhan yang menghubungkan dengan jalur perdagangan dunia. Ini kami kembangkan dalam visi-misi capres mendatang, bahwa membangun Indonesia harus mendekati pusat-pusat ALKI," katanya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!