Vokasi ITS Kembangkan Pembaruan Sertifikasi di Tengah Pandemi
Kamis, 06 Agustus 2020 - 22:18 WIB
Perguruan Tinggi Vokasi penerima program pengembangan nilai mutu ini diberikan pembekalan yang nantinya dapat menghasilkan skema uji kompetensi, materi uji kompetensi, serta petunjuk teknis Tempat Uji Kompetensi (TUK). Keberadaan TUK di ITS biasanya dilakukan di laboratorium. “Kadang peralatan di laboratorium masih terbatas, tetapi dengan program ini bisa menggunakan fasilitas dari mitra industri atau mitra perguruan tinggi lain,” jelasnya. (Baca juga: Warisan Budaya, Kemendikbud Dukung Upaya Digitalisasi Musik )
Penyusunan skema uji kompetensi tersebut melibatkan para asesor dari kalangan dosen dan narasumber dari BNSP. Dengan konsep link and match antara perguruan tinggi dan DUDI, skema kompetensi disusun bersesuaian dengan kebutuhan industri. “Secara tidak langsung, dosen yang mengikuti program ini juga mendapatkan peningkatan pengetahuan dari interaksi dengan dunia usaha,” jelas Guru Besar Teknik Infrastruktur Sipil tersebut.
Untuk mempersiapkan kompetensi yang dibutuhkan industri, Sigit menerangkan bahwa kurikulum pendidikan FV ITS harus mampu mengakomodasi dinamika yang terjadi di lingkungan DUDI. “Perubahan struktur kurikulum pada umumnya dilakukan setiap lima tahun sekali, tetapi isi kurikulum harus diperbarui setiap saat agar tidak ketinggalan zaman,” katanya.
Kemendikbud pun memberikan enam pilihan bidang prioritas program, yaitu Permesinan, Konstruksi, Ekonomi Kreatif, Hospitalitas, dan Layanan Perawatan. Untuk diketahui, FV ITS membutuhkan 24 skema uji kompetensi yang terlingkupi dalam delapan program studi.
Dengan adanya program ini, Sigit berharap pada akhir tahun 2020 nanti dapat dihasilkan dua skema uji kompetensi dari setiap prodi di lingkungan FV yang relevan dengan kebutuhan industri. “Makanya tidak ada alasan bagi dunia usaha untuk tidak mengakui sertifikasi kompetensi yang dikeluarkan ITS dan menerima lulusan untuk bekerja,” jelasnya.
Penyusunan skema uji kompetensi tersebut melibatkan para asesor dari kalangan dosen dan narasumber dari BNSP. Dengan konsep link and match antara perguruan tinggi dan DUDI, skema kompetensi disusun bersesuaian dengan kebutuhan industri. “Secara tidak langsung, dosen yang mengikuti program ini juga mendapatkan peningkatan pengetahuan dari interaksi dengan dunia usaha,” jelas Guru Besar Teknik Infrastruktur Sipil tersebut.
Untuk mempersiapkan kompetensi yang dibutuhkan industri, Sigit menerangkan bahwa kurikulum pendidikan FV ITS harus mampu mengakomodasi dinamika yang terjadi di lingkungan DUDI. “Perubahan struktur kurikulum pada umumnya dilakukan setiap lima tahun sekali, tetapi isi kurikulum harus diperbarui setiap saat agar tidak ketinggalan zaman,” katanya.
Kemendikbud pun memberikan enam pilihan bidang prioritas program, yaitu Permesinan, Konstruksi, Ekonomi Kreatif, Hospitalitas, dan Layanan Perawatan. Untuk diketahui, FV ITS membutuhkan 24 skema uji kompetensi yang terlingkupi dalam delapan program studi.
Dengan adanya program ini, Sigit berharap pada akhir tahun 2020 nanti dapat dihasilkan dua skema uji kompetensi dari setiap prodi di lingkungan FV yang relevan dengan kebutuhan industri. “Makanya tidak ada alasan bagi dunia usaha untuk tidak mengakui sertifikasi kompetensi yang dikeluarkan ITS dan menerima lulusan untuk bekerja,” jelasnya.
(mpw)
Lihat Juga :