Cerita Fadil, Anak Tukang Buah yang Tak Bisa Baca Tulis Kini Belajar di Sekolah Rakyat

Rabu, 09 Juli 2025 - 12:09 WIB
Fadil adalah anak dari seorang pedagang buah di kawasan pinggiran Jakarta. Setiap hari, ia membantu ibunya mengangkat keranjang buah, menata dagangan, dan memanggil pembeli di tepi jalan. Pendidikan, bagi keluarga seperti mereka, adalah kemewahan.

Hidup sehari-hari sudah cukup sulit, apalagi membayangkan membeli seragam, membayar uang sekolah, atau sekadar membeli buku tulis. “Orang tua pedagang buah,” ujarnya singkat, tapi cukup untuk menggambarkan kerasnya realitas yang mereka hadapi.

Baca juga: Bukan Sekadar Jabatan, Sekolah Rakyat Perkuat Kepala Sekolah dengan Gen ESQ

Namun hari itu berbeda. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Fadil mengenal apa itu ruang kelas—meski masih berbentuk simulasi. Ia duduk di antara puluhan anak lain dari latar belakang serupa. Mereka adalah potret anak-anak Indonesia yang selama ini terpinggirkan dari akses pendidikan formal.

Dalam simulasi ini, mereka mengikuti berbagai aktivitas seperti pemeriksaan kesehatan, pemetaan bakat dan minat, serta pengenalan sistem belajar digital berbasis Learning Management System (LMS).

Sekolah Rakyat bukan sekadar program formalitas. Ia adalah langkah konkret negara untuk merangkul yang terpinggirkan. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, program ini dirancang menyasar anak-anak dari keluarga yang tercatat dalam Desil 1 dan 2 Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS)—kelompok dengan kondisi sosial ekonomi paling rendah di Indonesia.

Peluncuran resmi Sekolah Rakyat dijadwalkan berlangsung pada 14 Juli 2025, dimulai dengan 100 titik rintisan di berbagai daerah. Di sinilah pendidikan menjadi titik awal perubahan hidup. Para peserta nantinya akan tinggal di asrama, mendapatkan bimbingan akademik dan karakter, serta pembinaan keterampilan praktis berbasis digital dan kewirausahaan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!