Pesantren Bangkit! Amanatul Ummah dan BIMA Kirim Ribuan Lulusan ke PTN dan Kampus Dunia
Rabu, 03 September 2025 - 23:10 WIB
Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH. Imam Jazuli (kanan) saat menerima kunjungan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Amal Fathullah Zarkasyi (kiri) di Pesantren BIMA, Cirebon. FOTO/IST
JAKARTA - Di tengah ketatnya persaingan antarsekolah dalam mencetak lulusan unggulan ke perguruan tinggi negeri (PTN) dan kampus internasional, dua pesantren tampil mengejutkan dan mencuri perhatian publik. Pondok Pesantren Amanatul Ummah dan Bina Insan Mulia (BIMA) menunjukkan bahwa lembaga pendidikan berbasis pesantren kini menjadi kekuatan baru yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Tradisi panjang dominasi SMA dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) favorit dalam Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) tampaknya mulai ditantang serius oleh model pendidikan berbasis nilai spiritual ini.
Pondok Pesantren Amanatul Ummah mencetak sejarah baru dengan mengantarkan 1.237 santri ke PTN dan kampus luar negeri pada 2025, melonjak drastis dari 624 siswa pada tahun sebelumnya. Tak hanya soal kuantitas, kualitasnya pun tak main-main: 62 santri diterima di fakultas kedokteran, dan ratusan lainnya diterima di universitas-universitas ternama di Amerika Serikat, Tiongkok, Singapura, hingga Mesir.
Sementara itu, Bina Insan Mulia (BIMA) di Cirebon sukses mewisuda 288 alumni, dengan 154 di antaranya menembus 13 negara melalui jalur beasiswa internasional, termasuk Jerman, Prancis, Rusia, Australia, hingga Jepang. Sebanyak 118 alumni lainnya diterima di PTN unggulan dalam negeri, seperti UI, UGM, dan IPB.
Yang menarik, kedua pesantren ini dikenal memiliki proses seleksi masuk yang tidak seketat sekolah-sekolah unggulan lainnya. Namun hasil akhirnya justru melampaui ekspektasi, bahkan menyaingi lembaga dengan input siswa terbaik.
Pengasuh Pesantren BIMA, KH. Imam Jazuli, menegaskan bahwa pesantrennya bertujuan mencetak kader yang mampu berkontribusi pada pembangunan bangsa, bukan hanya sukses untuk dirinya sendiri.
"Di lembaga lain, mungkin untuk melanjutkan studi ke luar negeri itu sulit dan peluangnya juga sedikit, tetapi di Bina Insan Mulia, semua anak berkesempatan dan pesantren pun memberikan layanan pengurusan secara total sehingga mudah," kata KH Imam Jazuli dalam keterangannya, Rabu (3/9/2025).
Keberhasilan pesantren-pesantren ini membuktikan bahwa pendidikan holistik yang menggabungkan nilai-nilai spiritual dan akademis mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul di dalam negeri, tetapi juga memiliki daya saing tinggi untuk menembus universitas-universitas kelas dunia.
Lembaga pendidikan pesantren ini bersaing ketat dengan 10 sekolah, baik SMA maupun Madrasah Aliyah (MAN), yang juga mencatatkan prestasi gemilang dengan rata-rata 80 hingga 92 persen lulusan mereka diterima di PTN, baik melalui jalur SNBP maupun SNBT.
Namun serunya, presentase sekolah non pesantren ini meski jumlah presentase tinggi kalah dengan keberhasilan pesantren yang presentasenya juga tinggi tapi dengan jumlah siswa yang lebih banyak. Apalagi proses seleksi masuk pesantren tak seketat seperti sekolah non pesantren. Artinya pesantren mampu melakukan proses pendidikan yang lebih baik dengan bibit peserta didik yang biasa saja dan output alumninya mampu bersaing setelah lulus.
Tradisi panjang dominasi SMA dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) favorit dalam Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) tampaknya mulai ditantang serius oleh model pendidikan berbasis nilai spiritual ini.
Pondok Pesantren Amanatul Ummah mencetak sejarah baru dengan mengantarkan 1.237 santri ke PTN dan kampus luar negeri pada 2025, melonjak drastis dari 624 siswa pada tahun sebelumnya. Tak hanya soal kuantitas, kualitasnya pun tak main-main: 62 santri diterima di fakultas kedokteran, dan ratusan lainnya diterima di universitas-universitas ternama di Amerika Serikat, Tiongkok, Singapura, hingga Mesir.
Sementara itu, Bina Insan Mulia (BIMA) di Cirebon sukses mewisuda 288 alumni, dengan 154 di antaranya menembus 13 negara melalui jalur beasiswa internasional, termasuk Jerman, Prancis, Rusia, Australia, hingga Jepang. Sebanyak 118 alumni lainnya diterima di PTN unggulan dalam negeri, seperti UI, UGM, dan IPB.
Yang menarik, kedua pesantren ini dikenal memiliki proses seleksi masuk yang tidak seketat sekolah-sekolah unggulan lainnya. Namun hasil akhirnya justru melampaui ekspektasi, bahkan menyaingi lembaga dengan input siswa terbaik.
Pengasuh Pesantren BIMA, KH. Imam Jazuli, menegaskan bahwa pesantrennya bertujuan mencetak kader yang mampu berkontribusi pada pembangunan bangsa, bukan hanya sukses untuk dirinya sendiri.
"Di lembaga lain, mungkin untuk melanjutkan studi ke luar negeri itu sulit dan peluangnya juga sedikit, tetapi di Bina Insan Mulia, semua anak berkesempatan dan pesantren pun memberikan layanan pengurusan secara total sehingga mudah," kata KH Imam Jazuli dalam keterangannya, Rabu (3/9/2025).
Keberhasilan pesantren-pesantren ini membuktikan bahwa pendidikan holistik yang menggabungkan nilai-nilai spiritual dan akademis mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul di dalam negeri, tetapi juga memiliki daya saing tinggi untuk menembus universitas-universitas kelas dunia.
Lembaga pendidikan pesantren ini bersaing ketat dengan 10 sekolah, baik SMA maupun Madrasah Aliyah (MAN), yang juga mencatatkan prestasi gemilang dengan rata-rata 80 hingga 92 persen lulusan mereka diterima di PTN, baik melalui jalur SNBP maupun SNBT.
Namun serunya, presentase sekolah non pesantren ini meski jumlah presentase tinggi kalah dengan keberhasilan pesantren yang presentasenya juga tinggi tapi dengan jumlah siswa yang lebih banyak. Apalagi proses seleksi masuk pesantren tak seketat seperti sekolah non pesantren. Artinya pesantren mampu melakukan proses pendidikan yang lebih baik dengan bibit peserta didik yang biasa saja dan output alumninya mampu bersaing setelah lulus.
Lihat Juga :