Profil Ponpes Lirboyo, Pesantren Salafi Terbesar di Indonesia yang Berdiri Lebih dari 1 Abad
Selasa, 14 Oktober 2025 - 15:23 WIB
Pondok Pesantren Lirboyo didirikan oleh K.H. Abdul Karim pada tahun 1910 M, saat ia menetap di Desa Lirboyo (kini Kelurahan Lirboyo).
Sebelumnya, K.H. Abdul Karim sempat mengajar di Pondok Pesantren Tebuireng, yang diasuh oleh K.H. M. Hasyim Asy’ari, sahabat seangkatannya ketika mereka menimba ilmu kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Setelah menikahi Nyai Khodijah, putri dari K.H. Sholeh di Banjarmlati, Kediri, K.H. Abdul Karim memilih menetap di Lirboyo atas dorongan mertuanya. Tujuannya adalah agar dakwah Islam dapat lebih tersebar luas.
Dengan semangat dan dukungan dari mertuanya, K.H. Abdul Karim mendirikan pondok pesantren untuk menyebarkan ajaran Islam kepada siapa pun yang ingin menuntut ilmu.
Santri pertama yang belajar di sana adalah Umar dari Madiun, disusul oleh Yusuf, Sahil, dan Somad dari Magelang, serta Syamsudin dari Gurah, Kediri.
Seiring berjalannya waktu, jumlah santri terus bertambah, dan Lirboyo mulai dikenal luas, tidak hanya oleh masyarakat Kediri tetapi juga dari berbagai daerah lain.
Pada tahun 1913, K.H. Abdul Karim membangun sebuah masjid di dalam kompleks pesantren sebagai tempat ibadah, yang hingga kini masih berdiri dengan nama Masjid Lawang Songo, dinamakan demikian karena memiliki sembilan pintu.
Kini, Pondok Pesantren Lirboyo telah berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam klasik terbesar di Indonesia dengan sejarah lebih dari satu abad.
M/G Shofwatuzzahro
Sebelumnya, K.H. Abdul Karim sempat mengajar di Pondok Pesantren Tebuireng, yang diasuh oleh K.H. M. Hasyim Asy’ari, sahabat seangkatannya ketika mereka menimba ilmu kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Setelah menikahi Nyai Khodijah, putri dari K.H. Sholeh di Banjarmlati, Kediri, K.H. Abdul Karim memilih menetap di Lirboyo atas dorongan mertuanya. Tujuannya adalah agar dakwah Islam dapat lebih tersebar luas.
Dengan semangat dan dukungan dari mertuanya, K.H. Abdul Karim mendirikan pondok pesantren untuk menyebarkan ajaran Islam kepada siapa pun yang ingin menuntut ilmu.
Santri pertama yang belajar di sana adalah Umar dari Madiun, disusul oleh Yusuf, Sahil, dan Somad dari Magelang, serta Syamsudin dari Gurah, Kediri.
Seiring berjalannya waktu, jumlah santri terus bertambah, dan Lirboyo mulai dikenal luas, tidak hanya oleh masyarakat Kediri tetapi juga dari berbagai daerah lain.
Pada tahun 1913, K.H. Abdul Karim membangun sebuah masjid di dalam kompleks pesantren sebagai tempat ibadah, yang hingga kini masih berdiri dengan nama Masjid Lawang Songo, dinamakan demikian karena memiliki sembilan pintu.
Kini, Pondok Pesantren Lirboyo telah berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam klasik terbesar di Indonesia dengan sejarah lebih dari satu abad.
M/G Shofwatuzzahro
(nnz)
Lihat Juga :