Kisah Zufa Lulusan Ilmu Keperawatan UGM dengan IPK 4,00: Setiap Malam Saya Telpon Ibu
Kamis, 26 Februari 2026 - 20:30 WIB
Usai menelpon Ibu, Zufa mengaku selalu mendapat motivasi dan petuah sehingga ia selalu bersemangat dalam menjalankan aktivitas kuliah di esok paginya. “Pokoknya setiap malam saya selalu menelpon ibu, senang rasanya kalau sudah mendengar suaranya, ” kenangnya.
Menyoal tentang strategi belajarnya, ia menyatakan tidak memasang target nilai sempurna, tetapi menganalisis pola akademik seiring berjalannya semester. Dari sana ia belajar menyesuaikan ekspektasi dan arah perjuangan. “Awalnya tidak ada target tertentu, tapi ketika sudah di pertengahan, kelihatan polanya. Yang penting nilainya tidak turun dan bisa tetap stabil,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa terkadang masih melewati rasa malas. Baginya, hal ini dapat ditanggapi dengan kemampuannya memilah prioritas, menentukan tugas yang perlu disegerakan atau dapat ditunda kemudian. Zufa menilai manajemen waktu sebagai kunci utama. Ia mengingatkan bahwa tanpa pengaturan waktu yang baik, seseorang akan kesulitan menentukan prioritas dan rentan merasa kewalahan.
Meski demikian, ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara belajar dan waktu beristirahat. Sebagai gantinya, ia lebih memilih pola belajar mencicil karena ujian datang hampir setiap bulan agar beban belajar tidak menumpuk di akhir. “Minimal sehari baca satu atau dua halaman saja itu sudah progres,” tambahnya.
Menurutnya, selalu ada ruang untuk berusaha lebih sungguh-sungguh, dan upaya itulah yang kerap menjadi pembeda antara satu orang dengan yang lain. Ia percaya bahwa konsistensi, sekecil apapun bentuknya, akan berbuah pada hasil jangka panjang. “Do your best you can, lakukan semaksimal mungkin, lakukan yang terbaik karena pasti ada ruang untuk berjuang maksimal,” ungkapnya.
Strategi Belajar Zufa
Menyoal tentang strategi belajarnya, ia menyatakan tidak memasang target nilai sempurna, tetapi menganalisis pola akademik seiring berjalannya semester. Dari sana ia belajar menyesuaikan ekspektasi dan arah perjuangan. “Awalnya tidak ada target tertentu, tapi ketika sudah di pertengahan, kelihatan polanya. Yang penting nilainya tidak turun dan bisa tetap stabil,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa terkadang masih melewati rasa malas. Baginya, hal ini dapat ditanggapi dengan kemampuannya memilah prioritas, menentukan tugas yang perlu disegerakan atau dapat ditunda kemudian. Zufa menilai manajemen waktu sebagai kunci utama. Ia mengingatkan bahwa tanpa pengaturan waktu yang baik, seseorang akan kesulitan menentukan prioritas dan rentan merasa kewalahan.
Meski demikian, ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara belajar dan waktu beristirahat. Sebagai gantinya, ia lebih memilih pola belajar mencicil karena ujian datang hampir setiap bulan agar beban belajar tidak menumpuk di akhir. “Minimal sehari baca satu atau dua halaman saja itu sudah progres,” tambahnya.
Menurutnya, selalu ada ruang untuk berusaha lebih sungguh-sungguh, dan upaya itulah yang kerap menjadi pembeda antara satu orang dengan yang lain. Ia percaya bahwa konsistensi, sekecil apapun bentuknya, akan berbuah pada hasil jangka panjang. “Do your best you can, lakukan semaksimal mungkin, lakukan yang terbaik karena pasti ada ruang untuk berjuang maksimal,” ungkapnya.
(nnz)
Lihat Juga :