Kisah Ristiana Artanti, Anak Buruh Proyek yang Berhasil Kuliah Gratis di UGM
Jum'at, 12 Juni 2026 - 09:34 WIB
Dalam menjalani aktivitas sekolah dan organisasi, Risti menerapkan manajemen waktu yang disiplin. Ia selalu menempatkan kewajiban akademik sebagai prioritas utama sebelum mengikuti kegiatan nonakademik.
Baca juga: Kisah Stanley Evander, Lulusan Doktor Tercepat UGM 2026 dengan Riset Kit Ekstraksi DNA
"Saya selalu disiplin membagikan waktu agar kegiatan ekstra tidak mengganggu akademik," kenangnya.
Dukungan penuh juga diberikan oleh kedua orang tuanya. Meski sempat ragu karena keterbatasan ekonomi, mereka akhirnya mantap mendukung keinginan putri semata wayang mereka untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Winarni mengaku sempat memikirkan kemampuan keluarga untuk membiayai kuliah anaknya. Dengan penghasilan yang tidak tetap, memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah menjadi alasan untuk bersyukur.
"Pas dia utarakan pengen kuliah itu, saya mikirnya gini, apa bisa mendanai soalnya ekonomi kita, susah kayak gini, kadang-kadang ada, kadang-kadang gak. Bisa makan tiga kali sehari itu sudah bersyukur," tuturnya.
Meski demikian, Winarni tidak ingin mematahkan impian putrinya. Ia melihat Risti sebagai anak yang memiliki prestasi akademik membanggakan dan layak mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih tinggi.
Pengalaman masa lalunya yang tidak dapat melanjutkan sekolah karena keterbatasan ekonomi membuat Winarni bertekad agar anaknya memperoleh masa depan yang lebih baik.
"Dia ini kan ada prestasi juga di sekolahnya. Nilai-nilainya juga bagus. Kalau gak didukung, kan kayaknya saya teringat saya dulu. Saya dulu tuh pengen meneruskan sekolah selanjutnya, gak mampu. Orang tua saya benar-benar gak mampu. Makanya, kalau bisa, anak saya jangan seperti saya, biar bisa lebih baik lagi," ungkapnya sambil menahan haru.
Baca juga: Kisah Stanley Evander, Lulusan Doktor Tercepat UGM 2026 dengan Riset Kit Ekstraksi DNA
"Saya selalu disiplin membagikan waktu agar kegiatan ekstra tidak mengganggu akademik," kenangnya.
Dukungan penuh juga diberikan oleh kedua orang tuanya. Meski sempat ragu karena keterbatasan ekonomi, mereka akhirnya mantap mendukung keinginan putri semata wayang mereka untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Winarni mengaku sempat memikirkan kemampuan keluarga untuk membiayai kuliah anaknya. Dengan penghasilan yang tidak tetap, memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah menjadi alasan untuk bersyukur.
"Pas dia utarakan pengen kuliah itu, saya mikirnya gini, apa bisa mendanai soalnya ekonomi kita, susah kayak gini, kadang-kadang ada, kadang-kadang gak. Bisa makan tiga kali sehari itu sudah bersyukur," tuturnya.
Meski demikian, Winarni tidak ingin mematahkan impian putrinya. Ia melihat Risti sebagai anak yang memiliki prestasi akademik membanggakan dan layak mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih tinggi.
Pengalaman masa lalunya yang tidak dapat melanjutkan sekolah karena keterbatasan ekonomi membuat Winarni bertekad agar anaknya memperoleh masa depan yang lebih baik.
"Dia ini kan ada prestasi juga di sekolahnya. Nilai-nilainya juga bagus. Kalau gak didukung, kan kayaknya saya teringat saya dulu. Saya dulu tuh pengen meneruskan sekolah selanjutnya, gak mampu. Orang tua saya benar-benar gak mampu. Makanya, kalau bisa, anak saya jangan seperti saya, biar bisa lebih baik lagi," ungkapnya sambil menahan haru.
Lihat Juga :