Dua Sosok Ini Ajak Perempuan Indonesia Berani Kejar Mimpi di Dunia Engineering
Kamis, 10 Desember 2020 - 21:10 WIB
Sampoerna University mengundang dua profil perempuan sukses di bidang engineering, Tengku Alia Sandra dan Golda Claudia Pardede dalam webinar The Future of Womeningeer. Foto/ist
JAKARTA - Menyongsong era Revolusi Industri 4.0 , berbagai profesi berfokus pada Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) menjadi sangat dibutuhkan. Termasuk di dalamnya profesi insinyur berpotensi besar menjadi pekerjaan impian di masa mendatang.
Meski begitu, faktanya hanya ada 2.761 insinyur dari 1 juta penduduk Indonesia. Rasio ini merupakan terendah bila dibandingkan dengan Malaysia, China, Thailand, Vietnam, dan Brazil. Kondisi ini juga semakin memprihatinkan ketika Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa hanya ada 29% perempuan Indonesia yang berkarier di industri STEM. (Baca juga: Siapkan SDM, Sampoerna University Gelar Webinar Generasi Muda Berkualitas Tinggi )
Melihat hal ini, di hari ketiga gelaran Sampoerna University “Bright Future Festival” mengundang dua profil perempuan sukses di bidang engineering, Tengku Alia Sandra (Railway Engineering Department Head MRT Jakarta) dan Golda Claudia Pardede (Mining Engineer, PT Amman Mineral Nusa Tenggara) dalam webinar bertajuk “The Future of Womeningeer”.
Railway Engineering Department Head MRT Jakarta Tengku Alia Sandra mengungkapkan keengganan perempuan muda Indonesia untuk masuk ke dunia engineering karena adanya dilema bias dan stereotipe gender.
“Unsconcious bias di masyarakat kita menciptakan stereotipe bahwa engineering adalah untuk laki-laki. Padahal sebenarnya profesi ini genderless, bisa dilakukan laki-laki dan perempuan," kata Tengku Alia Sandra dalam webinar Sampoerna University bertajuk “Bright Future Festival” melalui keterangan pers, Kamis (10/12/2020). (Baca juga: Lulus Kuliah Ingin Dapat Pekerjaan yang Diimpikan, Ini Kuncinya? )
Menurutnya, untuk para perempuan muda, bila ingin berkarier di engineering, disarankan untuk memiliki 3C: Courage, keberanian untuk bekerja dua kali lebih keras karena selain harus mendobrak stereotipe yang sudah tercipta juga untuk membuktikan kemampuan pribadi. Curiousity, rasa ingin tahu untuk mencoba hal-hal baru dan tidak biasa. Terakhir, Collaborate dengan membangun jejaringan, berbagi wawasan, dan mencari peluang lebih luas lagi.
Meski begitu, faktanya hanya ada 2.761 insinyur dari 1 juta penduduk Indonesia. Rasio ini merupakan terendah bila dibandingkan dengan Malaysia, China, Thailand, Vietnam, dan Brazil. Kondisi ini juga semakin memprihatinkan ketika Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa hanya ada 29% perempuan Indonesia yang berkarier di industri STEM. (Baca juga: Siapkan SDM, Sampoerna University Gelar Webinar Generasi Muda Berkualitas Tinggi )
Melihat hal ini, di hari ketiga gelaran Sampoerna University “Bright Future Festival” mengundang dua profil perempuan sukses di bidang engineering, Tengku Alia Sandra (Railway Engineering Department Head MRT Jakarta) dan Golda Claudia Pardede (Mining Engineer, PT Amman Mineral Nusa Tenggara) dalam webinar bertajuk “The Future of Womeningeer”.
Railway Engineering Department Head MRT Jakarta Tengku Alia Sandra mengungkapkan keengganan perempuan muda Indonesia untuk masuk ke dunia engineering karena adanya dilema bias dan stereotipe gender.
“Unsconcious bias di masyarakat kita menciptakan stereotipe bahwa engineering adalah untuk laki-laki. Padahal sebenarnya profesi ini genderless, bisa dilakukan laki-laki dan perempuan," kata Tengku Alia Sandra dalam webinar Sampoerna University bertajuk “Bright Future Festival” melalui keterangan pers, Kamis (10/12/2020). (Baca juga: Lulus Kuliah Ingin Dapat Pekerjaan yang Diimpikan, Ini Kuncinya? )
Menurutnya, untuk para perempuan muda, bila ingin berkarier di engineering, disarankan untuk memiliki 3C: Courage, keberanian untuk bekerja dua kali lebih keras karena selain harus mendobrak stereotipe yang sudah tercipta juga untuk membuktikan kemampuan pribadi. Curiousity, rasa ingin tahu untuk mencoba hal-hal baru dan tidak biasa. Terakhir, Collaborate dengan membangun jejaringan, berbagi wawasan, dan mencari peluang lebih luas lagi.
Lihat Juga :