Survei KPAI: Orangtua Khawatir Lepas Anaknya Bersekolah di Saat Pandemi
Jum'at, 29 Mei 2020 - 10:24 WIB
Dia mengatakan pertanyaan tertutup dipilih agar memudahkan saat olah data sehingga tidak sama sekali bermaksud menggiring jawaban, namun itu memang kemungkinan jawaban yang muncul dari responden. Maka itu responden boleh memilih lebih dari satu jawaban bahkan dibuka juga jawaban lainnya jika tidak ada jawaban yang diinginkan responden.
Retno mengaku tidak menduga animo masyarakat untuk berpartisipasi sangat tinggi. Sehingga dalam 32 jam, saat ujicoba angket ditutup, ternyata diperoleh partisipasi siswa sebanyak 9.643 orang, partisipasi guru sebanyak 18.112 orang dan partisipasi orangtua mencapai 196.559 orang.
Retno mengatakan, orangtua yang paling antusias mengikuti pengisian angket tersebut. “Jumlah yang berpartisipasi mengisi angket ini sungguh di luar dugaan saya. Orangtua yang mengisi mencapai ratusan ribu dalam waktu singkat menggambarkan bahwa masyarakat khawatir melepas anaknya bersekolah di saat pandemi, kasus masih tinggi dan belum terlihat persiapan sekolah dan Dinas Pendidikan dalam melindungi anak-anak selama di sekolah nantinya,” jelas Retno.
Walaupun animo masyarakat terutama para orangtua begitu tinggi ingin mengisi angket uji coba tersebut, namun Retno memutuskan untuk tidak melakukan penyebaran angket lagi karena jumlahnya sudah mencapai 196 ribu lebih. "Jadi hasil angket uji coba ini yang akan saya olah dan analisis nanti. Data ini sangat disayangkan kalau tidak ditindaklanjuti meskipun datanya hanya berasal dari uji coba angket yang saya susun karena kegundahan saya pribadi atas tingginya kasus anak terinfeksi COVID-19, sehingga sebagai seorang ibu yang memiliki anak yang masih sekolah dasar, saya khawatir keselamatan dan kesehatan anak saya ketika dia harus masuk sekolah Juli 2020,” papar Retno.
Kendati demikian, Retno melanjutkan bahwa angket itu bukan penelitian melainkan hanya sebagai ruang membuka partisipasi siswa, orangtua dan guru untuk berpendapat tentang kebijakan negara terkait sekolah dibuka atau tidak saat tahun ajaran baru 13 Juli 2020 saat pandemi COVID-19. "Karena sepanjang pengetahuan saya selama ini, jarang ada ruang bagi guru, siswa, dan orangtua untuk berpendapat atas kebijakan publik terkait diri mereka sendiri dan anak," katanya.
Retno mengaku tidak menduga animo masyarakat untuk berpartisipasi sangat tinggi. Sehingga dalam 32 jam, saat ujicoba angket ditutup, ternyata diperoleh partisipasi siswa sebanyak 9.643 orang, partisipasi guru sebanyak 18.112 orang dan partisipasi orangtua mencapai 196.559 orang.
Retno mengatakan, orangtua yang paling antusias mengikuti pengisian angket tersebut. “Jumlah yang berpartisipasi mengisi angket ini sungguh di luar dugaan saya. Orangtua yang mengisi mencapai ratusan ribu dalam waktu singkat menggambarkan bahwa masyarakat khawatir melepas anaknya bersekolah di saat pandemi, kasus masih tinggi dan belum terlihat persiapan sekolah dan Dinas Pendidikan dalam melindungi anak-anak selama di sekolah nantinya,” jelas Retno.
Walaupun animo masyarakat terutama para orangtua begitu tinggi ingin mengisi angket uji coba tersebut, namun Retno memutuskan untuk tidak melakukan penyebaran angket lagi karena jumlahnya sudah mencapai 196 ribu lebih. "Jadi hasil angket uji coba ini yang akan saya olah dan analisis nanti. Data ini sangat disayangkan kalau tidak ditindaklanjuti meskipun datanya hanya berasal dari uji coba angket yang saya susun karena kegundahan saya pribadi atas tingginya kasus anak terinfeksi COVID-19, sehingga sebagai seorang ibu yang memiliki anak yang masih sekolah dasar, saya khawatir keselamatan dan kesehatan anak saya ketika dia harus masuk sekolah Juli 2020,” papar Retno.
Kendati demikian, Retno melanjutkan bahwa angket itu bukan penelitian melainkan hanya sebagai ruang membuka partisipasi siswa, orangtua dan guru untuk berpendapat tentang kebijakan negara terkait sekolah dibuka atau tidak saat tahun ajaran baru 13 Juli 2020 saat pandemi COVID-19. "Karena sepanjang pengetahuan saya selama ini, jarang ada ruang bagi guru, siswa, dan orangtua untuk berpendapat atas kebijakan publik terkait diri mereka sendiri dan anak," katanya.
Lihat Juga :