Kaum Milenial Harus Berani Jadi Agen Perubahan dan Ciptakan Sejarah Baru
Sabtu, 02 Oktober 2021 - 21:40 WIB
Dalam artian, dirinya selalu pakai prinsip pareto, sebuah prinsip yang percaya bahwa 80% hasil dari kinerja seseorang merupakan buah dari 20% upaya yang telah dilakukan. “Karena yang 20 ini akan menggerakan yang 80. Kalau bicara kenapa anak-anak muda punya kesempatan untuk mengubah bangsa ini, karena juga dibarengi dengan momentum kebangkitan bagai macam trobosan-trobosan digital,” terangnya.
Baca juga: Sekjen PBNU: Pancasila Harus Dipertahankan di Tengah Ancaman Ideologi Transnasional
Kuncinya adalah percepatan, membuat sesuatu menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan dinamis dari sebelumnya. Ada yang mengatakan kalau anak muda sukanya yang instan sehingga mengindahkan proses. Menurutnya, hal tersebut tidak salah. Secara karakteristik diakuinya iya, tapi yang lebih tepat adalah anak muda itu cepat dan efisien.
“Mereka tetap menghargai proses. Di setiap rangkaian keberhasilan itu ada proses yang harus mereka lalui, mereka selalu berfikir bagaimana proses yang tadinya sulit menjadi mudah dan sederhana. Sebab, karakteristik mereka adalah cepat dan efisien,” kata Founder Rumah Millennials tersebut.
Dosen LSPR Jakarta ini juga mengaku tidak begitu setuju dengan istilah demografi, tapi setuju dengan istilah peluang. Sebab, kalau bicara peluang, itu ada. Kalau kapabilitas angkatan kerja Indonesia bagus, maka akan melesat menjadi negara maju dengan angkatan kerja dan angkatan muda produktif. Atau kalau salah langkah, salah treatmen, salah arah, maka akan semakin terpuruk.
Taufan berharap legislatif dan eksekutif bisa lebih memaksimalkan peran dan tanggung jawab mereka dalam ranah kebijakan publik, yakni kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada narasi kepemudaan. Yakni, kebijakan-kebijakan yang mengedepankan Aksesibilitas juga pembinaan terhadap anak-anak muda. Pancasila yang menjadi fundamentalnya dan narasi yang paling kuat.
Baca juga: Sekjen PBNU: Pancasila Harus Dipertahankan di Tengah Ancaman Ideologi Transnasional
Kuncinya adalah percepatan, membuat sesuatu menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan dinamis dari sebelumnya. Ada yang mengatakan kalau anak muda sukanya yang instan sehingga mengindahkan proses. Menurutnya, hal tersebut tidak salah. Secara karakteristik diakuinya iya, tapi yang lebih tepat adalah anak muda itu cepat dan efisien.
“Mereka tetap menghargai proses. Di setiap rangkaian keberhasilan itu ada proses yang harus mereka lalui, mereka selalu berfikir bagaimana proses yang tadinya sulit menjadi mudah dan sederhana. Sebab, karakteristik mereka adalah cepat dan efisien,” kata Founder Rumah Millennials tersebut.
Dosen LSPR Jakarta ini juga mengaku tidak begitu setuju dengan istilah demografi, tapi setuju dengan istilah peluang. Sebab, kalau bicara peluang, itu ada. Kalau kapabilitas angkatan kerja Indonesia bagus, maka akan melesat menjadi negara maju dengan angkatan kerja dan angkatan muda produktif. Atau kalau salah langkah, salah treatmen, salah arah, maka akan semakin terpuruk.
Taufan berharap legislatif dan eksekutif bisa lebih memaksimalkan peran dan tanggung jawab mereka dalam ranah kebijakan publik, yakni kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada narasi kepemudaan. Yakni, kebijakan-kebijakan yang mengedepankan Aksesibilitas juga pembinaan terhadap anak-anak muda. Pancasila yang menjadi fundamentalnya dan narasi yang paling kuat.
Lihat Juga :