Mahasiswa Unair Ubah Kulit Durian Jadi Brem, Ada Khasiatnya?
Sabtu, 11 Februari 2023 - 16:20 WIB
loading...
A
A
A
Perbedaanya dengan brem yang original dari Madiun adalah, mereka menggunakan campuran tepung kulit durian, khususnya bagian mesokarpnya.
Lebih lanjut, mahasiswa yang akrab disapa Rama itu menjelaskan, penggunaan kulit durian sebagai campuran brem bermanfaat sebagai bioregulator serotonin pada otak.
Dengan kombinasi kulit durian, kata dia, brem yang mereka ciptakan dapat menjadi alternatif penghilang dampak buruk terhadap kesehatan para pengguna maupun mantan pengguna Lysergic Acid Diethylamide (LSD).
“Di Asia Tenggara, narkoba jenis LSD ini sedang marak. Jadi, kami memanfaatkan kandungan yang ada dalam kulit durian tersebut untuk meningkatkan kadar serotonin di otak, sehingga dapat mengurangi gejala depresi, sakau, dan gejala lainnya,” ujarnya.
Baca juga: 6 Jurusan Soshum Unair dengan Peminat Sedikit di SNMPTN 2022, Lengkap dengan Daya Tampung SNBP 2023
Selain dilatarbelakangi manfaat kulit durian yang begitu besar, gagasan Rama dan tim juga didasarkan pada keprihatinan terhadap kondisi di Indonesia. Alih-alih menggunakan pektin alami, Indonesia justru masih terus melakukan impor pektin sintetis hingga berton-ton.
Lebih lanjut, mahasiswa yang akrab disapa Rama itu menjelaskan, penggunaan kulit durian sebagai campuran brem bermanfaat sebagai bioregulator serotonin pada otak.
Dengan kombinasi kulit durian, kata dia, brem yang mereka ciptakan dapat menjadi alternatif penghilang dampak buruk terhadap kesehatan para pengguna maupun mantan pengguna Lysergic Acid Diethylamide (LSD).
“Di Asia Tenggara, narkoba jenis LSD ini sedang marak. Jadi, kami memanfaatkan kandungan yang ada dalam kulit durian tersebut untuk meningkatkan kadar serotonin di otak, sehingga dapat mengurangi gejala depresi, sakau, dan gejala lainnya,” ujarnya.
Baca juga: 6 Jurusan Soshum Unair dengan Peminat Sedikit di SNMPTN 2022, Lengkap dengan Daya Tampung SNBP 2023
Selain dilatarbelakangi manfaat kulit durian yang begitu besar, gagasan Rama dan tim juga didasarkan pada keprihatinan terhadap kondisi di Indonesia. Alih-alih menggunakan pektin alami, Indonesia justru masih terus melakukan impor pektin sintetis hingga berton-ton.
Lihat Juga :