Hadiri Sekolah Toleransi di Bali, Ini 4 Pesan Prof Masykuri ke Para Mahasiswa
Kamis, 23 Februari 2023 - 16:46 WIB
loading...
Dialog Kebangsaan Penguatan Toleransi Beragama dan Integrasi Nasional acara Sekolah Toleransi oleh Mahasiswa UIN Jakarta di UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Denpasar (23/2/2023). Foto/Dok/UIN Jakarta
A
A
A
JAKARTA - Guru Besar UIN Jakarta sekaligus Staf Khusus Wakil Presiden, Prof Masykuri Abdillah menjelaskan hakikat toleransi dalam beragama. Terdapat beberapa poin penting yang disampaikan menyangkut penguatan toleransi dalam kehidupan beragama.
Hal itu dia sampaikan dalam Dialog Kebangsaan bertajuk “Penguatan Toleransi Beragama dan Integrasi Nasional” pada acara Sekolah Toleransi oleh Mahasiswa Religions Studies UIN Jakarta di Universitas Negeri Hindu (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa, Bangli, Denpasar (23/02/2023).
Baca juga: Mukti Ali Ditetapkan sebagai Guru Besar Komunikasi Antarbudaya di UIN Salatiga
“Untuk membangun integrasi nasional itu dibutuhkan kerukunan dan toleransi,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima Sindonews, Kamis (23/2/2023).
Prof Masykuri menjelaskan, ada perbedaan makna antara kerukunan dan toleransi beragama. Toleransi adalah sikap memahami orang lain dan tidak mengganggu orang lain yang berbeda, baik beda ras, kelompok agama atau kelompok politik.
Toleransi sendiri, kata dia, mencakup dua hal, toleransi negatif (negative interpretation of tolerance), yaitu membiarkan orang lain beragama, dan toleransi positif (positive interpretation of tolerance) yang tidak hanya membiarkan agama seseorang, tapi sekaligus bekerjasama dengan orang lain berbeda dalam mewujudkan keharmonisan.
Hal itu dia sampaikan dalam Dialog Kebangsaan bertajuk “Penguatan Toleransi Beragama dan Integrasi Nasional” pada acara Sekolah Toleransi oleh Mahasiswa Religions Studies UIN Jakarta di Universitas Negeri Hindu (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa, Bangli, Denpasar (23/02/2023).
Baca juga: Mukti Ali Ditetapkan sebagai Guru Besar Komunikasi Antarbudaya di UIN Salatiga
“Untuk membangun integrasi nasional itu dibutuhkan kerukunan dan toleransi,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima Sindonews, Kamis (23/2/2023).
Prof Masykuri menjelaskan, ada perbedaan makna antara kerukunan dan toleransi beragama. Toleransi adalah sikap memahami orang lain dan tidak mengganggu orang lain yang berbeda, baik beda ras, kelompok agama atau kelompok politik.
Toleransi sendiri, kata dia, mencakup dua hal, toleransi negatif (negative interpretation of tolerance), yaitu membiarkan orang lain beragama, dan toleransi positif (positive interpretation of tolerance) yang tidak hanya membiarkan agama seseorang, tapi sekaligus bekerjasama dengan orang lain berbeda dalam mewujudkan keharmonisan.
Lihat Juga :