Tim Peneliti Universitas Pertamina Teliti Cara Manfaatkan Ampas Kelapa Jadi Biodiesel
Minggu, 16 April 2023 - 11:45 WIB
loading...
Tim peneliti dari Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina, melakukan penelitian mengenai pemanfaatan ampas kelapa sebagai bahan bakar nabati dalam pembuatan biodiesel. Foto/Dok/UPER
A
A
A
JAKARTA - Tim peneliti dari Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina (UPER), I Wayan Koko Suryawan, S.T., M.T., dan Ariyanti Sarwono, Ph.D., beserta tim riset dari mahasiswa melakukan penelitian mengenai pemanfaatan ampas kelapa sebagai bahan bakar nabati yang bisa digunakan dalam pembuatan biodiesel.
“Dalam penelitian ini, kami berfokus pada penggunaan ampas kelapa hasil pengolahan produk santan. Sebagian kecil ampas tersebut biasanya diolah menjadi pakan ternak, sedang sisanya dibuang. Jika dibiarkan, limbah tersebut dapat mencemari sumber air tanah dan menimbulkan bau busuk,” jelas Koko, dalam keterangan pers, Jumat (14/4/2023).
Baca juga: Kisah Bilal Dwi Anugrah, Raih Sarjana ITB di Usia 20 Tahun
Berdasarkan data 2021 dari Food and Agriculture Organization, produksi kelapa di Indonesia mencapai 17,15 juta ton dan membuat Indonesia berada di urutan pertama negara penghasil kelapa terbanyak di Asia Tenggara. Produksi kelapa yang tinggi, berdampak pada jumlah limbah yang tidak sedikit.
Pada penelitian tersebut, Koko menambahkan, ampas kelapa sangat berpotensi diolah menjadi biodiesel karena ampas kelapa masih memiliki kandungan minyak kelapa sekitar 15-24% dari beratnya.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Koko dan tim kepada beberapa penjual kelapa parut tradisional, rata-rata jumlah kelapa yang diparut dalam satu hari adalah 124 butir atau sekitar 49,6 kg. Jumlah tersebut menghasilkan 48 kg kelapa parut dan rata-rata ampas yang dibuang dalam satu hari sebanyak 20 kg.
Baca juga: Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur Prestasi Unnes 2023 Dibuka, Ini Ketentuannya
“Dalam penelitian ini, kami berfokus pada penggunaan ampas kelapa hasil pengolahan produk santan. Sebagian kecil ampas tersebut biasanya diolah menjadi pakan ternak, sedang sisanya dibuang. Jika dibiarkan, limbah tersebut dapat mencemari sumber air tanah dan menimbulkan bau busuk,” jelas Koko, dalam keterangan pers, Jumat (14/4/2023).
Baca juga: Kisah Bilal Dwi Anugrah, Raih Sarjana ITB di Usia 20 Tahun
Berdasarkan data 2021 dari Food and Agriculture Organization, produksi kelapa di Indonesia mencapai 17,15 juta ton dan membuat Indonesia berada di urutan pertama negara penghasil kelapa terbanyak di Asia Tenggara. Produksi kelapa yang tinggi, berdampak pada jumlah limbah yang tidak sedikit.
Pada penelitian tersebut, Koko menambahkan, ampas kelapa sangat berpotensi diolah menjadi biodiesel karena ampas kelapa masih memiliki kandungan minyak kelapa sekitar 15-24% dari beratnya.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Koko dan tim kepada beberapa penjual kelapa parut tradisional, rata-rata jumlah kelapa yang diparut dalam satu hari adalah 124 butir atau sekitar 49,6 kg. Jumlah tersebut menghasilkan 48 kg kelapa parut dan rata-rata ampas yang dibuang dalam satu hari sebanyak 20 kg.
Baca juga: Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur Prestasi Unnes 2023 Dibuka, Ini Ketentuannya
Lihat Juga :