25% Pelajar di Jateng Tak Miliki Akses Layanan Pendidikan Daring
Selasa, 21 Juli 2020 - 22:05 WIB
loading...
A
A
A
"Kami kirim pesan lewat WA juga tidak nyambung. Akhirnya pihak sekolah mendatangi rumahnya di kawasan pegunungan di Kledung. Sinyalnya ternyata sulit. Pihak sekolah kemudian membantu agar teman kami bisa tetap mengikuti pelajaran secara online itu. Saat test akhir smester, teman kami boleh datang ke sekolah untuk mendapatkan soal," bebernya.
Dari Kabupaten Brebes, Foresta mengeluhkan banyak rekannya yang tidak punya kuota untuk akses internet. "Beruntung beberapa instansi menyediakan tempat untuk nongkrong para pelajar yang ada wifi-nya. Kami bisa belajar secara online di tempat itu," ungkapnya.
Sementara, Forum Anak Nasional Jateng juga memberi masukan kepada Dinas Pendidikan Jateng pemberlakuan sistem pembelajaran offline bila new normal diterapkan. (Baca juga: Moratorium CPNS, Masa Pensiun Guru Diusulkan Diperpanjang )
"Bisa dengan sistem shift. Bisa juga hari ini untuk kelas 10, hari berikutnya untuk kelas 11, begitu seterusnya. Itu dalam upaya mematuhi protokol kesehatan agar tidak terjadi penyebaran COVID-19," terang Ricky.
Spesialis Perlindungan Anak dari UNICEF Perwakilan Wilayah Pulau Jawa,
Naning Pudji Julianingsih mengakui bahwa layanan perlindungan anak jadi terganggu karena ada refocusing anggaran dialihkan ke penanganan COVID-19.
Dari Kabupaten Brebes, Foresta mengeluhkan banyak rekannya yang tidak punya kuota untuk akses internet. "Beruntung beberapa instansi menyediakan tempat untuk nongkrong para pelajar yang ada wifi-nya. Kami bisa belajar secara online di tempat itu," ungkapnya.
Sementara, Forum Anak Nasional Jateng juga memberi masukan kepada Dinas Pendidikan Jateng pemberlakuan sistem pembelajaran offline bila new normal diterapkan. (Baca juga: Moratorium CPNS, Masa Pensiun Guru Diusulkan Diperpanjang )
"Bisa dengan sistem shift. Bisa juga hari ini untuk kelas 10, hari berikutnya untuk kelas 11, begitu seterusnya. Itu dalam upaya mematuhi protokol kesehatan agar tidak terjadi penyebaran COVID-19," terang Ricky.
Spesialis Perlindungan Anak dari UNICEF Perwakilan Wilayah Pulau Jawa,
Naning Pudji Julianingsih mengakui bahwa layanan perlindungan anak jadi terganggu karena ada refocusing anggaran dialihkan ke penanganan COVID-19.
Lihat Juga :