Luar Biasa! Prajurit Perwira TNI AU Lulus Magister ITB dengan IPK Sempurna
Senin, 08 Mei 2023 - 22:23 WIB
loading...
A
A
A
Terlebih saat ini tengah dilakukan program pengembangan pesawat tempur KF – X / IF - X Kerjasama Indonesia dan Korea Selatan yang membutuhkan peta digital yang akurat.
Vaghwa mengatakan bahwa ilmu yang didapat saat sarjana masih belum menggunakan digital atau dominan manual. Sehingga, di tahun 2020 Vaghwa diamanahkan untuk melanjutkan pendidikan S2 di ITB dengan Beasiswa Kerjasama Kementerian Pertahanan dan ITB untuk mendalami geospasial digital.
Berbeda tahun tentu berbeda pula sistem pendidikan ITB. Hal ini dirasakan Vaghwa saat menginjakkan kaki lagi di ITB setelah 16 tahun lamanya. Nostalgia semasa S1 dia rasakan, terutama dalam hal mengingat mata kuliah S1 yang sempat terlupa.
Vaghwa mengungkapkan manfaat menjadi bagian dari ITB sejak sarjana. Bantuan akademis datang tidak hanya dari rekan mahasiswa S2 dan dosen, melainkan dari teman-teman himpunan Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG) ITB. Kegiatannya di kampus juga sering dihabiskan untuk berbagi ilmu dan cerita di himpunannya dulu itu.
“Keberhasilan studi saya juga tidak lepas dari teman-teman IMG angkatan 2018-2020 yang membuka diri ketika saya menemui kesusahan dalam kuliah S2,” ungkap Vaghwa, seperti dilansir laman resmi ITB, Senin (8/9/2023).
Vaghwa mengangkat judul tesis “Analisis Kualitas Informasi Geospasial Tematik Radar Pasif”. Tidak ingin menyiakan waktu, pengerjaan Tesis dia lakukan sejak pengumuman magister ITB tahun 2020.
Dalam penelitiannya, Vaghwa berfokus pada peningkatan kualitas data informasi geospasial. Kesulitan yang dialami saat proses pengerjaan yakni ketika penghitungan kualitas data informasi geospasial Indonesia yang belum tersosialisasikan dengan baik sehingga harus menemukan parameter-parameter baru. Hal ini sempat membuat Vaghwa terhambat saat penulisan bab IV.
Berhasil lulus dengan IPK 4 justru tidak pernah disangka oleh Vaghwa. Disamping kuliah, Vaghwa juga harus membagi waktunya dengan bekerja. Hal yang sangat sulit namun tetap harus dijalani. Perwira TNI-AU ini mengungkapkan bahwa dirinya selalu mengerahkan waktu dan pikirannya saat jam kuliah.
Vaghwa mengatakan bahwa ilmu yang didapat saat sarjana masih belum menggunakan digital atau dominan manual. Sehingga, di tahun 2020 Vaghwa diamanahkan untuk melanjutkan pendidikan S2 di ITB dengan Beasiswa Kerjasama Kementerian Pertahanan dan ITB untuk mendalami geospasial digital.
Berbeda tahun tentu berbeda pula sistem pendidikan ITB. Hal ini dirasakan Vaghwa saat menginjakkan kaki lagi di ITB setelah 16 tahun lamanya. Nostalgia semasa S1 dia rasakan, terutama dalam hal mengingat mata kuliah S1 yang sempat terlupa.
Vaghwa mengungkapkan manfaat menjadi bagian dari ITB sejak sarjana. Bantuan akademis datang tidak hanya dari rekan mahasiswa S2 dan dosen, melainkan dari teman-teman himpunan Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG) ITB. Kegiatannya di kampus juga sering dihabiskan untuk berbagi ilmu dan cerita di himpunannya dulu itu.
“Keberhasilan studi saya juga tidak lepas dari teman-teman IMG angkatan 2018-2020 yang membuka diri ketika saya menemui kesusahan dalam kuliah S2,” ungkap Vaghwa, seperti dilansir laman resmi ITB, Senin (8/9/2023).
Vaghwa mengangkat judul tesis “Analisis Kualitas Informasi Geospasial Tematik Radar Pasif”. Tidak ingin menyiakan waktu, pengerjaan Tesis dia lakukan sejak pengumuman magister ITB tahun 2020.
Dalam penelitiannya, Vaghwa berfokus pada peningkatan kualitas data informasi geospasial. Kesulitan yang dialami saat proses pengerjaan yakni ketika penghitungan kualitas data informasi geospasial Indonesia yang belum tersosialisasikan dengan baik sehingga harus menemukan parameter-parameter baru. Hal ini sempat membuat Vaghwa terhambat saat penulisan bab IV.
Berhasil lulus dengan IPK 4 justru tidak pernah disangka oleh Vaghwa. Disamping kuliah, Vaghwa juga harus membagi waktunya dengan bekerja. Hal yang sangat sulit namun tetap harus dijalani. Perwira TNI-AU ini mengungkapkan bahwa dirinya selalu mengerahkan waktu dan pikirannya saat jam kuliah.
Lihat Juga :