Dosen FISIP UI: Indonesia dan ASEAN Perlu Patroli Bersama Cegah Provokasi China di LCS
Jum'at, 15 Desember 2023 - 21:15 WIB
loading...
A
A
A
Ristian menilai, di tengah konflik Laut China Selatan yang kian menghangat, Filipina menjadi salah satu pihak yang paling tertekan. Kondisi itu mau tidak mau pada akhirnya berpotensi merembet ke negara ASEAN. Dalam penjelasannya, kandidat doktor asal Australian National University ini juga melihat konflik Laut China Selatan ini dari sisi perbandingan kekuatan negara negara yang berada di sekitar konflik LSC. “Baik itu kekuatan militer maupun paramiliter masih berada jauh di bawah kekuatan lain, yaitu China,” kata Ristian.
Ristian menambahkan, persoalan sengketa Laut China Selatan tidak hanya meningkatkan ketegangan antara China dan Filipina, tapi juga dengan sesama negara ASEAN.
“Tapi buat Filipina tindakan China dalam memperjuangkan klaimnya bisa dikatakan paling provokatif. Tindakan provokatif China itulah alasan yang membuat Filipina berusaha mencari dukungan, tidak hanya dari Amerika Serikat dan Australia, tapi juga negara negara lain, Kanada, Jepang, Inggris, Prancis dan bisa jadi akan bertambah. Jadi pelibatan negara negara di atas harus dilihat sebagai akibat dari tindakan agresif dan provokatif China,” katanya.
Pemerhati masalah hubungan internasional Universitas Pelita Harapan (UPH) yang juga Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI), Dr. Johanes Herlijanto menyatakan, situasi yang berlangsung di Laut China Selatan sangat penting jadi perhatian bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya termasuk dalam hal ini Filipina yang akhir-akhir ini terlibat konflik dengan sikap agresif Republik Rakyat China (RRC).
“Perlu dicatat bahwa Filipina telah mengambil berbagai langkah yang berbeda beda, salah satunya adalah mengajukan gugatan terhadap RRC kepada Mahkamah Arbritase Internasional di Den Haag, dengan hasil yang memperkuat posisi hukum Filipina dalam hal kepemilikan ZEE mereka di LCS,” tutur Johanes.
Ristian menambahkan, persoalan sengketa Laut China Selatan tidak hanya meningkatkan ketegangan antara China dan Filipina, tapi juga dengan sesama negara ASEAN.
“Tapi buat Filipina tindakan China dalam memperjuangkan klaimnya bisa dikatakan paling provokatif. Tindakan provokatif China itulah alasan yang membuat Filipina berusaha mencari dukungan, tidak hanya dari Amerika Serikat dan Australia, tapi juga negara negara lain, Kanada, Jepang, Inggris, Prancis dan bisa jadi akan bertambah. Jadi pelibatan negara negara di atas harus dilihat sebagai akibat dari tindakan agresif dan provokatif China,” katanya.
Pemerhati masalah hubungan internasional Universitas Pelita Harapan (UPH) yang juga Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI), Dr. Johanes Herlijanto menyatakan, situasi yang berlangsung di Laut China Selatan sangat penting jadi perhatian bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya termasuk dalam hal ini Filipina yang akhir-akhir ini terlibat konflik dengan sikap agresif Republik Rakyat China (RRC).
“Perlu dicatat bahwa Filipina telah mengambil berbagai langkah yang berbeda beda, salah satunya adalah mengajukan gugatan terhadap RRC kepada Mahkamah Arbritase Internasional di Den Haag, dengan hasil yang memperkuat posisi hukum Filipina dalam hal kepemilikan ZEE mereka di LCS,” tutur Johanes.
Lihat Juga :