Kunjungi Universitas Edinburgh Skotlandia, Al Azhar Siap Jadi Kampus Ramah Disabilitas
Senin, 18 Maret 2024 - 22:13 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Unesa Umumkan 22 Kampus Ramah Disabilitas di Dunia, Ini Daftarnya
Menurut Gusmia, kegiatan bersama dan kunjungan ini sangat penting bukan hanya bagi UAI, tapi untuk pendidikan tinggi di Indonesia secara umum. ‘’Buat kami, ini merupakan bekal penting mempersiapkan diri sebagai kampus ramah disabilitas. Kelak, kami juga bisa sharing ke masyarakat luas. Kami belajar kepada institusi yang tepat karena MHSES kan ranking satu di Skotlandia dan peringkat ke-13 dunia untuk subjek pendidikan,’’ kata Kaprodi Ilkom UAI Arianti.
Edo, sapaan Edoardo Irfan, juga mengamini hal ini. Di Skotlandia, Edo melihat pendidikan tinggi ramah disabilitas lebih dari sekadar pelaksanaan regulasi. ‘’Mereka sudah lama melakukan ini dengan serius, fokus, dan sinerginya dengan para stakeholders luar biasa. Sehingga pendidikan inklusif itu benar-benar jadi budaya,’’ kata Edo.
Dalam kunjungan ini, Tim Dosen Muda UAI mencatat di Skotlandia, negara memang memberikan insentif untuk sekolah atau perguruan tinggi penerima siswa/mahasiswa disabilitas. Di atas itu, lembaga pendidikan menunjukkan mereka ‘’terpanggil’’ dan harus menciptakan atmosfer yang sepenuhnya mendukung disabilitas.
‘’Karena itu, mereka melangkah jauh dari kebutuhan dasar yang ramah. Misalnya, soal definisi saja, di Skotlandia sudah berkembang perluasan definisi disabilitas. Mental health, atau masalah-masalah mental mahasiswa dalam belajar itu digolongkan ke dalam disabiltas,’’ tambah Edo.
Chair of Childhood Visual Impairment Professor John menyampaikan sangat antusias menyambut kerja sama ini. Menurutnya, jika perguruan tinggi di Indonesia seperti UAI mulai menyelenggarakan pendidikan inklusi dari nol, itu sangat baik.
Menurut Gusmia, kegiatan bersama dan kunjungan ini sangat penting bukan hanya bagi UAI, tapi untuk pendidikan tinggi di Indonesia secara umum. ‘’Buat kami, ini merupakan bekal penting mempersiapkan diri sebagai kampus ramah disabilitas. Kelak, kami juga bisa sharing ke masyarakat luas. Kami belajar kepada institusi yang tepat karena MHSES kan ranking satu di Skotlandia dan peringkat ke-13 dunia untuk subjek pendidikan,’’ kata Kaprodi Ilkom UAI Arianti.
Edo, sapaan Edoardo Irfan, juga mengamini hal ini. Di Skotlandia, Edo melihat pendidikan tinggi ramah disabilitas lebih dari sekadar pelaksanaan regulasi. ‘’Mereka sudah lama melakukan ini dengan serius, fokus, dan sinerginya dengan para stakeholders luar biasa. Sehingga pendidikan inklusif itu benar-benar jadi budaya,’’ kata Edo.
Dalam kunjungan ini, Tim Dosen Muda UAI mencatat di Skotlandia, negara memang memberikan insentif untuk sekolah atau perguruan tinggi penerima siswa/mahasiswa disabilitas. Di atas itu, lembaga pendidikan menunjukkan mereka ‘’terpanggil’’ dan harus menciptakan atmosfer yang sepenuhnya mendukung disabilitas.
‘’Karena itu, mereka melangkah jauh dari kebutuhan dasar yang ramah. Misalnya, soal definisi saja, di Skotlandia sudah berkembang perluasan definisi disabilitas. Mental health, atau masalah-masalah mental mahasiswa dalam belajar itu digolongkan ke dalam disabiltas,’’ tambah Edo.
Chair of Childhood Visual Impairment Professor John menyampaikan sangat antusias menyambut kerja sama ini. Menurutnya, jika perguruan tinggi di Indonesia seperti UAI mulai menyelenggarakan pendidikan inklusi dari nol, itu sangat baik.
Lihat Juga :