Sejarawan BRIN: Begini Salah Satu Cara Komunitas Tionghoa Bergulat Menjadi Indonesia Seutuhnya
Minggu, 21 April 2024 - 14:41 WIB
loading...
A
A
A
“Pada zaman Orba, budaya dan identitas Tionghoa dilarang. Oleh karenanya orang Tionghoa yang memeluk agama Islam harus melepaskan dan meninggalkan ketionghoaan mereka. Sedangkan pada masa kini, Tionghoa dapat menjadi Muslim walau tetap mempertahankan budaya dan identitas Tionghoanya,” ujar pria yang juga menjadi dosen tidak tetap pada Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) itu.
Audhiandra Nur Ratri Okviosa, alumni Program Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan (UPH) memaparkan, kisah mengenai bagaimana orang Tionghoa di Indonesia menjadi seorang Muslim sambil tetap mempertahankan identitas dan budaya etnik mereka merupakan sebuah kharakteristik pembeda antara Tionghoa Muslim di era kekinian dengan pendahulu mereka pada masa lampau.
Menurut Nur Ratri, kehadiran masyarakat Muslim yang tetap mempertahankan ketionghoaan ini dapat ditemui di berbagai komunitas, salah satunya adalah komunitas Tionghoa Muslim di Masjid Lautze, Jakarta. Nuansa ketionghoaan di masjid tersebut dinilai bukan hanya hadir dalam bentuk arsitektur bergaya Tionghoa.
Menurut Ratri, bahkan para pemimpin Muslim berlatar belakang etnik Tionghoa yang menjalankan kegiatan dakwah mereka di sekitar Masjid Lautze tetap membiarkan para umat, khususnya mereka yang baru saja memeluk agama Islam, untuk merasakan aroma budaya Tionghoa sambil mempelajari agama Islam.
“Tujuannya adalah agar para mualaf merasa nyaman dalam mempelajari agama baru mereka,” beber wanita yang baru saja mempertahankan tesis magister dengan tema inkulturasi dan dakwah di kalangan mualaf berlatar belakang etnik Tionghoa itu. Dalam pandangan Ketua FSI Johanes Herlijanto, peran yang dimainkan oleh para pendakwah Muslim Tionghoa di Masjid Lautze hanya merupakan sebuah contoh kecil dari partisipasi Tionghoa Muslim dalam melakukan dakwah Islam. Menurutnya, sebuah potret yang lebih lengkap pernah tentang hal itu pernah diperkenalkan oleh Hew Wai Weng, seorang pakar Tionghoa Indonesia asal Malaysia.
Dalam sebuah buku berjudul Chinese Ways of Being Muslims: Negotiating Ethnicity and Religiosity in Indonesia, Hew memaparkan peran orang-orang Tionghoa Muslim dalam menyebarkan agama Islam kepada non-Muslim, sambil secara bersamaan berupaya membangun citra positif etnik Tionghoa di hadapan saudara-saudara sebangsa mereka, masyarakat Indonesia. Para Tionghoa Muslim tersebut antara lain membangun berbagai masjid yang mengandung ciri arsitektur Tionghoa, yang menurut pandangan Hew, berperan dalam menciptakan ruang kosmopolitan pada tataran lokal. Di ruang itulah orang-orang dari berbagai etnik, baik Muslim ataupun non-Muslim berinteraksi.
Dalam penuturan Hew, para mubaligh Tionghoa juga turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang memperlihatkan ekspresi Islam yang beragam. Melaluinya, para mubaligh Tionghoa memainkan seperangkat peran yang saling berkaitan.
Audhiandra Nur Ratri Okviosa, alumni Program Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan (UPH) memaparkan, kisah mengenai bagaimana orang Tionghoa di Indonesia menjadi seorang Muslim sambil tetap mempertahankan identitas dan budaya etnik mereka merupakan sebuah kharakteristik pembeda antara Tionghoa Muslim di era kekinian dengan pendahulu mereka pada masa lampau.
Menurut Nur Ratri, kehadiran masyarakat Muslim yang tetap mempertahankan ketionghoaan ini dapat ditemui di berbagai komunitas, salah satunya adalah komunitas Tionghoa Muslim di Masjid Lautze, Jakarta. Nuansa ketionghoaan di masjid tersebut dinilai bukan hanya hadir dalam bentuk arsitektur bergaya Tionghoa.
Menurut Ratri, bahkan para pemimpin Muslim berlatar belakang etnik Tionghoa yang menjalankan kegiatan dakwah mereka di sekitar Masjid Lautze tetap membiarkan para umat, khususnya mereka yang baru saja memeluk agama Islam, untuk merasakan aroma budaya Tionghoa sambil mempelajari agama Islam.
“Tujuannya adalah agar para mualaf merasa nyaman dalam mempelajari agama baru mereka,” beber wanita yang baru saja mempertahankan tesis magister dengan tema inkulturasi dan dakwah di kalangan mualaf berlatar belakang etnik Tionghoa itu. Dalam pandangan Ketua FSI Johanes Herlijanto, peran yang dimainkan oleh para pendakwah Muslim Tionghoa di Masjid Lautze hanya merupakan sebuah contoh kecil dari partisipasi Tionghoa Muslim dalam melakukan dakwah Islam. Menurutnya, sebuah potret yang lebih lengkap pernah tentang hal itu pernah diperkenalkan oleh Hew Wai Weng, seorang pakar Tionghoa Indonesia asal Malaysia.
Dalam sebuah buku berjudul Chinese Ways of Being Muslims: Negotiating Ethnicity and Religiosity in Indonesia, Hew memaparkan peran orang-orang Tionghoa Muslim dalam menyebarkan agama Islam kepada non-Muslim, sambil secara bersamaan berupaya membangun citra positif etnik Tionghoa di hadapan saudara-saudara sebangsa mereka, masyarakat Indonesia. Para Tionghoa Muslim tersebut antara lain membangun berbagai masjid yang mengandung ciri arsitektur Tionghoa, yang menurut pandangan Hew, berperan dalam menciptakan ruang kosmopolitan pada tataran lokal. Di ruang itulah orang-orang dari berbagai etnik, baik Muslim ataupun non-Muslim berinteraksi.
Dalam penuturan Hew, para mubaligh Tionghoa juga turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang memperlihatkan ekspresi Islam yang beragam. Melaluinya, para mubaligh Tionghoa memainkan seperangkat peran yang saling berkaitan.
Lihat Juga :