UB Tempati 8 Besar Klaster Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia
Kamis, 20 Agustus 2020 - 23:41 WIB
loading...
Rektor Universitas Brawijaya (UB) Profesor Nuhfil Hanani. Foto/Dok/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Universitas Brawijaya (UB) berhasil mendapatkan posisi 8 perguruan tinggi klaster pertama di Indonesia. Capaian UB ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu.
Rektor UB, Profesor Nuhfil Hanani menjelaskan, pemeringkatan versi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tersebut sesuai dengan indikator penilaian. Dalam hal ini seperti aspek input, proses, output, dan outcome.
"Dan posisi UB pada perguruan tinggi klaster satu sama dengan Universitas Hasanudin," kata Nuhfil dalam keterangan pers, Kamis (20/8/2020). (Baca juga: Dirjen Dikti: Masih Ada Broken Link Antara Kampus dan Industri )
Nilai UB pada segi input memang kalah dari Unhas. Lebih tepatnya dari indikator jumlah dosen berpendidikan S3 dan dosen dengan jabatan lektor kepala. Oleh karena itu, Nuhfil mengimbau para dosen bisa mendapatkan gelar doktor dan profesor kembali serta pangkat lektor kepala.
Untuk memperbaiki aspek indikator input, Nuhfil tak menampik, pihaknya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Hal ini terutama bagi dosen yang mengambil program belajar S3 di kampus lain. Dosen setidaknya membutuhkan waktu tiga tahun untuk menyelesaikan studi doktornya.
Rektor UB, Profesor Nuhfil Hanani menjelaskan, pemeringkatan versi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tersebut sesuai dengan indikator penilaian. Dalam hal ini seperti aspek input, proses, output, dan outcome.
"Dan posisi UB pada perguruan tinggi klaster satu sama dengan Universitas Hasanudin," kata Nuhfil dalam keterangan pers, Kamis (20/8/2020). (Baca juga: Dirjen Dikti: Masih Ada Broken Link Antara Kampus dan Industri )
Nilai UB pada segi input memang kalah dari Unhas. Lebih tepatnya dari indikator jumlah dosen berpendidikan S3 dan dosen dengan jabatan lektor kepala. Oleh karena itu, Nuhfil mengimbau para dosen bisa mendapatkan gelar doktor dan profesor kembali serta pangkat lektor kepala.
Untuk memperbaiki aspek indikator input, Nuhfil tak menampik, pihaknya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Hal ini terutama bagi dosen yang mengambil program belajar S3 di kampus lain. Dosen setidaknya membutuhkan waktu tiga tahun untuk menyelesaikan studi doktornya.
Lihat Juga :