Tangisan Haru Regina, Anak Pengrajin Bambu Bali yang Diterima Kuliah Gratis di UGM
Sabtu, 27 Juli 2024 - 07:34 WIB
loading...
A
A
A
Regina mengaku masih merasakan seperti mimpi melihat kenyataan dirinya diterima kuliah di Fakultas Hukum UGM. Tidak terbayangkan oleh dirinya sebelumnya, seorang anak gadis desa tinggal di pedalaman perbukitan bisa diterima kuliah di salah satu universitas bergengsi di Indonesia.
Saking tidak percaya dirinya, ia sempat menyembunyikan informasi terkait pendaftaran kuliahnya di UGM pada teman-teman di sekolahnya. “Saya nggak kepikiran akan kuliah, maunya bakalan kerja dulu nanti baru mikirin kuliah,” kenangnya seperti dikutip laman resmi UGM, Jumat (26/7/2024).
Regina masih ingat, saat ia menyampaikan maksudnya untuk mendaftar kuliah ke ibunya, Ni Kadek Nely Supriyati (43), dengan meyakinkan bahwa ibunya tidak usah khawatir soal biaya karena ia juga mendaftar beasiswa.
“Nanti pas nggak dapat beasiswa, gimana?,” tanya ibunya sedikit khawatir saat itu. Mendengar kekhawatiran itu, Regina berusahanya meyakinkan ibunya. “Tapi saya mau coba dulu, Bu,”tuturnya.
Sang ibunda tidak pernah melarang keinginan sang anak. Meski dari pekerjaan ia dan suami sebagai pengrajin bambu, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari dan cukup membeli bensin motor untuk keperluan Regina ke sekolah di SMAN 1 Singaraja yang jaraknya 17 kilometer dari rumahnya. “Setiap tiga hari sekali dikasih uang 50 ribu untuk ganti bensin boncengan dengan teman ke sekolah,” katanya.
Di sekolah, Regina dikenal dengan anak yang cukup cerdas. Selain sering juara kelas, nilai mata pelajaran IPS seperti Geografi dan Ekonomi, ia selalu mendapat nilai 9. “Selama tiga tahun sering juara 2 dan pernah juara 4 pas di awal, tapi nilai selalu naik terus,” ujarnya.
Untuk mendukung belajar di sekolah, Regina mengandalkan buku-buku LKS yang ia beli di sekolah. Sedangkan untuk buku cetak sudah didapatkan dari sekolah secara gratis. Sedangkan untuk waktu belajarnya, Regina mengaku menyempatkan waktu sekitar 1-2 jam menjelang tidur. “Sore hari setelah pulang sekolah, saya membantu ibu buat anyaman. Sekitar jam 8 malam saya mulai belajar dan buka buku,” katanya.
Saking tidak percaya dirinya, ia sempat menyembunyikan informasi terkait pendaftaran kuliahnya di UGM pada teman-teman di sekolahnya. “Saya nggak kepikiran akan kuliah, maunya bakalan kerja dulu nanti baru mikirin kuliah,” kenangnya seperti dikutip laman resmi UGM, Jumat (26/7/2024).
Regina masih ingat, saat ia menyampaikan maksudnya untuk mendaftar kuliah ke ibunya, Ni Kadek Nely Supriyati (43), dengan meyakinkan bahwa ibunya tidak usah khawatir soal biaya karena ia juga mendaftar beasiswa.
“Nanti pas nggak dapat beasiswa, gimana?,” tanya ibunya sedikit khawatir saat itu. Mendengar kekhawatiran itu, Regina berusahanya meyakinkan ibunya. “Tapi saya mau coba dulu, Bu,”tuturnya.
Sang ibunda tidak pernah melarang keinginan sang anak. Meski dari pekerjaan ia dan suami sebagai pengrajin bambu, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari dan cukup membeli bensin motor untuk keperluan Regina ke sekolah di SMAN 1 Singaraja yang jaraknya 17 kilometer dari rumahnya. “Setiap tiga hari sekali dikasih uang 50 ribu untuk ganti bensin boncengan dengan teman ke sekolah,” katanya.
Di sekolah, Regina dikenal dengan anak yang cukup cerdas. Selain sering juara kelas, nilai mata pelajaran IPS seperti Geografi dan Ekonomi, ia selalu mendapat nilai 9. “Selama tiga tahun sering juara 2 dan pernah juara 4 pas di awal, tapi nilai selalu naik terus,” ujarnya.
Untuk mendukung belajar di sekolah, Regina mengandalkan buku-buku LKS yang ia beli di sekolah. Sedangkan untuk buku cetak sudah didapatkan dari sekolah secara gratis. Sedangkan untuk waktu belajarnya, Regina mengaku menyempatkan waktu sekitar 1-2 jam menjelang tidur. “Sore hari setelah pulang sekolah, saya membantu ibu buat anyaman. Sekitar jam 8 malam saya mulai belajar dan buka buku,” katanya.
Lihat Juga :