Ornamen Header
Atasi Keluhan PJJ, Jateng Tingkatkan Kapasitas 4.000 Guru SMA-SMK
Atasi Keluhan PJJ, Jateng Tingkatkan Kapasitas 4.000 Guru SMA-SMK
Pemerintah sudah mulai membolehkan sekolah tatap muka di zona kuning dengan protokol kesehatan ketat. Foto/Dok/SINDOnews
SEMARANG - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi banyaknya keluhan terkait daya kreativitas guru yang terbatas saat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Salah satunya adalah dengan melakukan peningkatan kapasitas terhadap 4.000 lebih guru SMA dan SMK di Jateng dengan menggunakan metode DOLMEN yang disupport oleh Microsoft.

“Selain itu guru-guru pengajar juga diwajibkan untuk membuat inovasi metode pengajaran jarak jauh dalam keadaan tanpa internet. Di antaranya dengan menjadikan TV maupun bahan ajar lain di sekitar anak-anak sebagai materi pembelajaran,” kata Plt Kepala Dindikbud Jateng Padmaningrum saat Webinar bertajuk Tarik Ulur Pembelajaran Jarak Jauh, Selasa (25/8/2020).

"Target capaian kurikulum juga akan kami kurangi jauh dalam metode PJJ ini, karena yang kami tekankan saat ini adalah konsep belajar menyenangkan," jelasnya. (Baca juga: Was-was Pandemi, 3 Kabupaten di Jateng Paksakan Sekolah Tatap Muka)



Sementara itu, Warsito Ellwein dari Lembaga Gerak Permberdayaan menilai bahwa pandemi memaksa anak-anak harus tinggal di rumah, termasuk orang tua sehingga menciptakan situasi yang baru.

"Selama ini orang tua mengandalkan pendidikan anak di sekolah. Pendidikan lainnya sambil jalan. Kini pendidikan harus berpikir seperti Ki Hajar Dewantara.Pendidikan bukan hanya di sekolah, tetapi juga di masyarakat dan di keluarga," ungkap Warsito.

Menurutnya, di sekolah meningkatkan kompetensial akademik; maka pendidikan nonformal dan informal akan meningkatkan kompetensi sosial. "Jika kompetisi sosialnya rendah, maka ia akan tumbuh sebagai manusia yang tidak bisa memanusiakan orang lain," tandasnya. (Baca juga: Rentan Terinfeksi COVID-19, PGRI Minta Pemerintah Lindungi Guru)



Oleh sebab itu, kegiatan sehari-hari di rumah bisa jadi media pendidikan. Mulai dari tidur, mandi, makan. Diajarkan hak dan kewajiban, tata-tertib rumah, menentukan waktu bebas, dan sebagainya.

"Akan tercipta komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Memberikan penjelasan apa adanya, memberi teladan, menyepakati kegiatan dan tata-tertib, menginternalisasikan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal. Mengajari sambil bermain akan lebih menarik. Misalnya dalam hal menerapkan protokol kesehatan menangkal penyebaran COVID-19 dengan cara mencuci tangan," pungkasnya.
(mpw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!