Atasi Keluhan PJJ, Jateng Tingkatkan Kapasitas 4.000 Guru SMA-SMK
Rabu, 26 Agustus 2020 - 09:29 WIB
loading...
Pemerintah sudah mulai membolehkan sekolah tatap muka di zona kuning dengan protokol kesehatan ketat. Foto/Dok/SINDOnews
A
A
A
SEMARANG - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi banyaknya keluhan terkait daya kreativitas guru yang terbatas saat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Salah satunya adalah dengan melakukan peningkatan kapasitas terhadap 4.000 lebih guru SMA dan SMK di Jateng dengan menggunakan metode DOLMEN yang disupport oleh Microsoft.
“Selain itu guru-guru pengajar juga diwajibkan untuk membuat inovasi metode pengajaran jarak jauh dalam keadaan tanpa internet. Di antaranya dengan menjadikan TV maupun bahan ajar lain di sekitar anak-anak sebagai materi pembelajaran,” kata Plt Kepala Dindikbud Jateng Padmaningrum saat Webinar bertajuk Tarik Ulur Pembelajaran Jarak Jauh, Selasa (25/8/2020).
"Target capaian kurikulum juga akan kami kurangi jauh dalam metode PJJ ini, karena yang kami tekankan saat ini adalah konsep belajar menyenangkan," jelasnya. (Baca juga: Was-was Pandemi, 3 Kabupaten di Jateng Paksakan Sekolah Tatap Muka )
Sementara itu, Warsito Ellwein dari Lembaga Gerak Permberdayaan menilai bahwa pandemi memaksa anak-anak harus tinggal di rumah, termasuk orang tua sehingga menciptakan situasi yang baru.
Salah satunya adalah dengan melakukan peningkatan kapasitas terhadap 4.000 lebih guru SMA dan SMK di Jateng dengan menggunakan metode DOLMEN yang disupport oleh Microsoft.
“Selain itu guru-guru pengajar juga diwajibkan untuk membuat inovasi metode pengajaran jarak jauh dalam keadaan tanpa internet. Di antaranya dengan menjadikan TV maupun bahan ajar lain di sekitar anak-anak sebagai materi pembelajaran,” kata Plt Kepala Dindikbud Jateng Padmaningrum saat Webinar bertajuk Tarik Ulur Pembelajaran Jarak Jauh, Selasa (25/8/2020).
"Target capaian kurikulum juga akan kami kurangi jauh dalam metode PJJ ini, karena yang kami tekankan saat ini adalah konsep belajar menyenangkan," jelasnya. (Baca juga: Was-was Pandemi, 3 Kabupaten di Jateng Paksakan Sekolah Tatap Muka )
Sementara itu, Warsito Ellwein dari Lembaga Gerak Permberdayaan menilai bahwa pandemi memaksa anak-anak harus tinggal di rumah, termasuk orang tua sehingga menciptakan situasi yang baru.
Lihat Juga :