Prestasi Brian Yuliarto, Pakar Nanomaterial yang Digadang Jadi Calon Mendikti Saintek
Rabu, 19 Februari 2025 - 14:51 WIB
loading...
Guru Besar ITB Prof Brian Yuliarto. Foto/YouTube BRIN.
A
A
A
JAKARTA - Brian Yuliarto digadang-gadang akan dilantik menjadi Mendikti Saintek menggantikan Satryo Soemantri Brodjonegoro. Brian Yuliarto adalah Guru Besar ITB dengan kontribusi yang besar di dunia penelitian, khususnya bidang Rekayasa Nanomaterial.
Presiden Prabowo Subianto dikabarkan akan melakukan reshuflle kabinet pada hari ini, Rabu (19/2/2025). Informasi yang beredar, Satryo Soemantri Brodjonegoro akan digeser dari jabatan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) yang baru diembannya selama lima bulan saja.
Baca juga: Mendikti Saintek Satryo Tinggalkan Kantor Pakai Mobil RI 25 di Tengah Isu Reshuffle Kabinet
Desas-desusnya yang akan menggantikan Satryo adalah akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yaitu Brian Yuliarto . Brian adalah Dekan Fakultas Teknologi Industri yang telah menyandang status Guru Besar.
Meski belum ada pengumuman resmi, namun Brian Yuliarto dikabarkan sebagai kandidat kuat Mendikti Saintek yang bakal dilantik Rabu ini olehh Presiden Prabowo Subianto.
Dikutip dari YouTube BRIN, Prof. Brian Yuliarto, salah satu Guru Besar Institut Teknologi Bandung ( ITB ), dikenal sebagai pakar dalam bidang material fungsional maju. Lahir di Jakarta pada 20 Juli 1975, ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Sejak kecil, Brian sudah menunjukkan prestasi akademik yang gemilang dengan selalu meraih peringkat pertama di sekolahnya.
Baca juga: Tiba di Istana, Yusuf Ateh Akan Dilantik sebagai Kepala BPKP
Setelah lulus SMA, ia melanjutkan pendidikan di Teknik Fisika ITB pada tahun 1994. Setelah menyelesaikan jenjang sarjana, Brian memperoleh beasiswa dari pemerintah Jepang untuk melanjutkan studi magister di Departemen Quantum Engineering and System Science, University of Tokyo. Tak berhenti di sana, gelar doktor di bidang rekayasa material juga ia raih dari universitas yang sama melalui beasiswa dari Jepang.
Usai menempuh pendidikan selama enam tahun di Jepang, Brian Yuliarto kembali ke ITB dan membangun Laboratorium Nanomaterial Maju (FPM). Laboratorium ini berfokus pada riset pengembangan material nano untuk aplikasi sensor dan energi.
Dalam perjalanan akademiknya, Prof. Brian telah menjalin kerja sama riset dengan berbagai institusi ternama dunia, di antaranya UC Berkeley (Amerika Serikat), KAIST (Korea Selatan), The University of Queensland (Australia), Nagoya University (Jepang), King Abdullah University of Science and Technology (Arab Saudi), dan NIMS Japan (Jepang).
Hingga kini, ia telah memiliki 14 Hak Kekayaan Intelektual (HKI), dengan empat di antaranya berstatus granted. Dedikasi dan kontribusinya dalam dunia riset telah diakui melalui berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya:
Akademisi Berprestasi ITB (2017)
Peneliti Terbaik ITB (2021)
Masuk dalam jajaran The World’s Top 2% Scientist 2022 versi Stanford University
Peringkat 1 peneliti bidang Nano Sciences dan Nanotechnology di Indonesia versi AD Scientific Index 2024.
Baca juga: Profil Pendidikan Prof Brian Yuliarto, Kandidat Mendikti Saintek yang Akan Dilantik Hari Ini
Brian Yuliarto pada 2024 lalu meraih Habibie Prize bidang Ilmu Rekayasa pada Anugerah Talenta Unggul Habibie Prize 2024.
Dikutip dari laman ITB, Brian Yuliarto yang juga menjabat sebagai dosen ITB mempunyai rekam jejak serius di dunia akademik dan riset untuk pengembangan nanomaterial untuk aplikasi sensor dan energi.
Baca juga: Prabowo Dikabarkan Reshuffle Mendikti Saintek Satryo, Penggantinya Brian Yuliarto
Brian Yuliarto tercatat sudah berhasil menerbitkan 329 artikel ilmiah terindeks Scopus dan telah disitasi sebanyak 5.618 kali dengan h-indeks 38.
Sejumlah terobosan inovasi yang dikembangkan Brian seperti sensor untuk gas berbahaya, polutan, dan kebutuhan diagnosis penyakit seperti demam berdarah, hepatitis, kanker, serta berbagai bakteri patogen yang mengancam kesehatan manusia.
Dedikasi Prof. Brian terhadap dunia riset juga diwujudkan dengan upayanya membangun laboratorium berstandar internasional di universitas negeri yang saat ini dipimpin Rektor Tata Cipta Dirgantara ini.
Baca juga: Prabowo Dikabarkan Bakal Reshuffle Mendikti Saintek Satryo
Bersama para dosen dan peneliti dari ITB, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta beberapa kampus lain di Indonesia,ia berhasil menciptakan lingkungan riset yang menarik banyak mahasiswa pascasarjana untuk turut bergabung meneliti.
Kolaborasinya dengan para ilmuwan dunia turut meningkatkan daya saing laboratorium tersebut sehingga kini sejajar dengan laboratorium top dunia lainnya.
Status: COPYRIGHT, Tersertifikasi
Status: COPYRIGHT, Tersertifikasi
Status: PATENT, Pemeriksaan Formalitas oleh DJKI (2020)
Status: PATENT, Pemeriksaan Formalitas oleh DJKI (2020)
Status: PATENT, Pemeriksaan Formalitas oleh DJKI (2020)
Status: PATENT, Pemeriksaan Formalitas oleh DJKI (2020)
Status: PATENT, Pemeriksaan Formalitas oleh DJKI (2021)
Status: PATENT, Pemeriksaan Formalitas oleh DJKI (2021).
Demikian prestasi Brian Yuliarto yang digadang akan dilantik menjadi Mendikti Saintek . Semoga informasi ini bermanfaat.
Presiden Prabowo Subianto dikabarkan akan melakukan reshuflle kabinet pada hari ini, Rabu (19/2/2025). Informasi yang beredar, Satryo Soemantri Brodjonegoro akan digeser dari jabatan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) yang baru diembannya selama lima bulan saja.
Baca juga: Mendikti Saintek Satryo Tinggalkan Kantor Pakai Mobil RI 25 di Tengah Isu Reshuffle Kabinet
Desas-desusnya yang akan menggantikan Satryo adalah akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yaitu Brian Yuliarto . Brian adalah Dekan Fakultas Teknologi Industri yang telah menyandang status Guru Besar.
Prestasi Brian Yuliarto
Meski belum ada pengumuman resmi, namun Brian Yuliarto dikabarkan sebagai kandidat kuat Mendikti Saintek yang bakal dilantik Rabu ini olehh Presiden Prabowo Subianto.
Dikutip dari YouTube BRIN, Prof. Brian Yuliarto, salah satu Guru Besar Institut Teknologi Bandung ( ITB ), dikenal sebagai pakar dalam bidang material fungsional maju. Lahir di Jakarta pada 20 Juli 1975, ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Sejak kecil, Brian sudah menunjukkan prestasi akademik yang gemilang dengan selalu meraih peringkat pertama di sekolahnya.
Baca juga: Tiba di Istana, Yusuf Ateh Akan Dilantik sebagai Kepala BPKP
Setelah lulus SMA, ia melanjutkan pendidikan di Teknik Fisika ITB pada tahun 1994. Setelah menyelesaikan jenjang sarjana, Brian memperoleh beasiswa dari pemerintah Jepang untuk melanjutkan studi magister di Departemen Quantum Engineering and System Science, University of Tokyo. Tak berhenti di sana, gelar doktor di bidang rekayasa material juga ia raih dari universitas yang sama melalui beasiswa dari Jepang.
Usai menempuh pendidikan selama enam tahun di Jepang, Brian Yuliarto kembali ke ITB dan membangun Laboratorium Nanomaterial Maju (FPM). Laboratorium ini berfokus pada riset pengembangan material nano untuk aplikasi sensor dan energi.
Dalam perjalanan akademiknya, Prof. Brian telah menjalin kerja sama riset dengan berbagai institusi ternama dunia, di antaranya UC Berkeley (Amerika Serikat), KAIST (Korea Selatan), The University of Queensland (Australia), Nagoya University (Jepang), King Abdullah University of Science and Technology (Arab Saudi), dan NIMS Japan (Jepang).
Hingga kini, ia telah memiliki 14 Hak Kekayaan Intelektual (HKI), dengan empat di antaranya berstatus granted. Dedikasi dan kontribusinya dalam dunia riset telah diakui melalui berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya:
Akademisi Berprestasi ITB (2017)
Peneliti Terbaik ITB (2021)
Masuk dalam jajaran The World’s Top 2% Scientist 2022 versi Stanford University
Peringkat 1 peneliti bidang Nano Sciences dan Nanotechnology di Indonesia versi AD Scientific Index 2024.
Baca juga: Profil Pendidikan Prof Brian Yuliarto, Kandidat Mendikti Saintek yang Akan Dilantik Hari Ini
Brian Yuliarto pada 2024 lalu meraih Habibie Prize bidang Ilmu Rekayasa pada Anugerah Talenta Unggul Habibie Prize 2024.
Dikutip dari laman ITB, Brian Yuliarto yang juga menjabat sebagai dosen ITB mempunyai rekam jejak serius di dunia akademik dan riset untuk pengembangan nanomaterial untuk aplikasi sensor dan energi.
Baca juga: Prabowo Dikabarkan Reshuffle Mendikti Saintek Satryo, Penggantinya Brian Yuliarto
Brian Yuliarto tercatat sudah berhasil menerbitkan 329 artikel ilmiah terindeks Scopus dan telah disitasi sebanyak 5.618 kali dengan h-indeks 38.
Sejumlah terobosan inovasi yang dikembangkan Brian seperti sensor untuk gas berbahaya, polutan, dan kebutuhan diagnosis penyakit seperti demam berdarah, hepatitis, kanker, serta berbagai bakteri patogen yang mengancam kesehatan manusia.
Dedikasi Prof. Brian terhadap dunia riset juga diwujudkan dengan upayanya membangun laboratorium berstandar internasional di universitas negeri yang saat ini dipimpin Rektor Tata Cipta Dirgantara ini.
Baca juga: Prabowo Dikabarkan Bakal Reshuffle Mendikti Saintek Satryo
Bersama para dosen dan peneliti dari ITB, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta beberapa kampus lain di Indonesia,ia berhasil menciptakan lingkungan riset yang menarik banyak mahasiswa pascasarjana untuk turut bergabung meneliti.
Kolaborasinya dengan para ilmuwan dunia turut meningkatkan daya saing laboratorium tersebut sehingga kini sejajar dengan laboratorium top dunia lainnya.
Daftar Inovasi dan Hak Kekayaan Intelektual Brian Yuliarto
1. Platform Pemantauan Kualitas Udara
Kategori: Teknologi Informasi & KomunikasiStatus: COPYRIGHT, Tersertifikasi
2. Algoritma Pemrosesan Sinyal SPR (Surface Plasmon Resonance) untuk Aproksimasi Baseline Sampel Multi-Analit
Kategori: Teknologi Informasi & KomunikasiStatus: COPYRIGHT, Tersertifikasi
3. Material Tembaga Benzena-1,3,5-Trikarboksilat Termodifikasi Tabung Nano Karbon sebagai Sensor Glukosa Berbasis Elektrokimia dan Metode Sintesisnya
Kategori: Pangan & Kesehatan, Teknologi Informasi & KomunikasiStatus: PATENT, Pemeriksaan Formalitas oleh DJKI (2020)
4. Metode Sintesis Tembaga 2-Amina-1,4-Benzena Dikarboksilat sebagai Pengindera Biosensor Hepatitis B
Kategori: Pangan & KesehatanStatus: PATENT, Pemeriksaan Formalitas oleh DJKI (2020)
5. Titanium Dioksida (TiOâ‚‚) Mesopori sebagai Fotokatalis Berstruktur Nano 3D dengan Permukaan Luas dan Aksesibilitas Tinggi serta Metode Sintesisnya
Kategori: Rekayasa Transportasi & EnergiStatus: PATENT, Pemeriksaan Formalitas oleh DJKI (2020)
6. Metode Produksi Material Lembaran Biomassa Jamur Menggunakan Tubuh Buah Jamur Basidiomycota
Kategori: Pangan & KesehatanStatus: PATENT, Pemeriksaan Formalitas oleh DJKI (2020)
7. Alat untuk Mengukur Udara Ambien dan Meteorologi yang Portabel dan Terintegrasi IoT dengan Fitur Kendali Jarak Jauh
Kategori: Rekayasa Transportasi & EnergiStatus: PATENT, Pemeriksaan Formalitas oleh DJKI (2021)
8. Alat untuk Mengukur Kualitas Air Limbah Industri yang Portabel dan Terintegrasi IoT dengan Fitur Kendali Jarak Jauh
Kategori: Pangan & Kesehatan, Infrastruktur & KebencanaanStatus: PATENT, Pemeriksaan Formalitas oleh DJKI (2021).
Demikian prestasi Brian Yuliarto yang digadang akan dilantik menjadi Mendikti Saintek . Semoga informasi ini bermanfaat.
(nnz)
Lihat Juga :