Kisah Dewi Agustiningsih, Anak Sopir Lulusan SMP Jadi Doktor Termuda UGM dan Jabat Dosen ITB
Minggu, 27 April 2025 - 09:04 WIB
loading...
A
A
A
Meski menghadapi keterbatasan, Dewi selalu memiliki semangat belajar yang tinggi. Sejak kecil, ia sering bertanya tentang fenomena alam dan memiliki minat besar pada sains, khususnya kimia. Dewi menyadari bahwa pendidikan adalah kunci untuk merubah kehidupannya dan membanggakan orang tuanya.
Perjalanan akademik Dewi tidak selalu mudah. Salah satu momen penting dalam hidupnya terjadi ketika ia mendengar seseorang meremehkan kemampuannya melanjutkan pendidikan tinggi hanya karena latar belakang ekonomi keluarganya. Orang itu beranggapan bahwa sebagai anak seorang sopir dan mantan asisten rumah tangga, Dewi tidak akan mampu melanjutkan kuliah.
"Saya masih ingat bagaimana ayah dan ibu menangis mendengar perkataan itu. Mereka merasa tidak bisa memberikan banyak untuk pendidikan saya. Namun, justru saat itulah saya bertekad untuk membuktikan bahwa kondisi ekonomi tidak akan menghalangi saya untuk sukses," kenang Dewi.
Baca juga: Momen Haru Ayah Wakili Wisuda Anaknya yang Meninggal Dunia Sambil Membawa Foto di Unesa
"Awalnya saya tidak menyangka bisa menempuh pendidikan hingga tingkat doktoral. Namun setelah lulus S1, saya mendapat kesempatan mengikuti seleksi program PMDSU, dan bersyukur diterima," kata Dewi seperti dilansir situs resmi UGM, Jumat (25/4/2025).
Keterbatasan ekonomi menjadi tantangan terbesar yang dihadapi Dewi dalam menempuh pendidikan hingga meraih gelar doktor. Ia menceritakan bahwa selama kuliah S1, ia hanya menerima uang saku sebesar Rp600.000 per bulan, yang harus dikelola dengan cermat untuk kebutuhan kos, makan, dan kuliah. Meski demikian, Dewi tidak pernah menyerah. Pengalaman tersebut justru membentuk kemandiriannya hingga mampu menyelesaikan studi sampai tingkat doktoral.
"Motivasi saya sederhana, saya ingin membuktikan bahwa latar belakang ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih impian," ucap Dewi.
Perjalanan akademik Dewi tidak selalu mudah. Salah satu momen penting dalam hidupnya terjadi ketika ia mendengar seseorang meremehkan kemampuannya melanjutkan pendidikan tinggi hanya karena latar belakang ekonomi keluarganya. Orang itu beranggapan bahwa sebagai anak seorang sopir dan mantan asisten rumah tangga, Dewi tidak akan mampu melanjutkan kuliah.
"Saya masih ingat bagaimana ayah dan ibu menangis mendengar perkataan itu. Mereka merasa tidak bisa memberikan banyak untuk pendidikan saya. Namun, justru saat itulah saya bertekad untuk membuktikan bahwa kondisi ekonomi tidak akan menghalangi saya untuk sukses," kenang Dewi.
Baca juga: Momen Haru Ayah Wakili Wisuda Anaknya yang Meninggal Dunia Sambil Membawa Foto di Unesa
Raih Beasiswa Bidikmisi
Dewi menyampaikan rasa syukurnya karena berhasil menyelesaikan studi doktoral meskipun menghadapi berbagai tantangan. Ia merasa beruntung dapat memulai pendidikannya pada 2016 melalui dukungan beasiswa Bidikmisi. Setelah meraih gelar sarjana pada 2020, Dewi kembali memperoleh beasiswa dari Program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU), yang dirancang untuk mempercepat jalur pendidikan S2 dan S3 bagi lulusan terbaik."Awalnya saya tidak menyangka bisa menempuh pendidikan hingga tingkat doktoral. Namun setelah lulus S1, saya mendapat kesempatan mengikuti seleksi program PMDSU, dan bersyukur diterima," kata Dewi seperti dilansir situs resmi UGM, Jumat (25/4/2025).
Keterbatasan ekonomi menjadi tantangan terbesar yang dihadapi Dewi dalam menempuh pendidikan hingga meraih gelar doktor. Ia menceritakan bahwa selama kuliah S1, ia hanya menerima uang saku sebesar Rp600.000 per bulan, yang harus dikelola dengan cermat untuk kebutuhan kos, makan, dan kuliah. Meski demikian, Dewi tidak pernah menyerah. Pengalaman tersebut justru membentuk kemandiriannya hingga mampu menyelesaikan studi sampai tingkat doktoral.
"Motivasi saya sederhana, saya ingin membuktikan bahwa latar belakang ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih impian," ucap Dewi.
Lihat Juga :