Pakar Pendidikan Ungkap Kunci Sukses Tembus Kampus Top Dunia: Bukan Hanya Nilai
Kamis, 29 Mei 2025 - 16:20 WIB
loading...
Thomas Guskey dalam lokakarya khusus orang tua bertajuk Beyond the ‘A’: What Universities Really Want—and What Your Child Truly Needs. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Di era yang terus berubah, definisi kesuksesan anak tak lagi hanya soal nilai akademik semata. Universitas-universitas ternama dunia kini mencari lebih dari sekadar nilai “A”. Mereka ingin calon mahasiswa yang punya karakter kuat, berpikir kritis, mampu beradaptasi, dan siap menghadapi tantangan global.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Redea Institute, lembaga yang menaungi jaringan Sekolah HighScope Indonesia, menghadirkan Dr. Thomas Guskey, pakar pendidikan kelas dunia, dalam lokakarya eksklusif bertajuk “Beyond the ‘A’: What Universities Really Want—and What Your Child Truly Needs”.
Baca juga: 16 Negara dengan Alumni Harvard University Terbanyak, Indonesia Nomor Berapa?
Guskey adalah Fellow dari American Educational Research Association, penulis lebih dari 30 buku pendidikan pemenang penghargaan, dan kontributor 300+ artikel profesional. Dalam sesi ini, ia memaparkan hasil riset dan praktik terbaik selama puluhan tahun, menyoroti pentingnya keseimbangan antara prestasi akademik dan keterampilan hidup (life skills).
Dalam sesi ini, Guskey membagikan wawasan praktis dari hasil penelitian dan pengalamannya selama puluhan tahun di bidang asesmen siswa, pembelajaran profesional, dan reformasi pendidikan.
Baca juga: Kisah Anasha, Siswi Indonesia yang Diterima di 11 Kampus Terbaik Luar Negeri
Ia menekankan bahwa meskipun prestasi akademik tetap penting, hal itu bukan lagi satu-satunya penentu kesuksesan masa depan.
Menurut survei National Association for College Admission Counseling (NACAC) 2023, selain nilai, faktor penting yang juga dipertimbangkan oleh universitas dalam menerima mahasiswa baru mencakup atribut karakter positif (28,3%), esai dan contoh tulisan (18,9%), serta minat yang ditunjukkan terhadap universitas tersebut (15,7%).
“Menurut Anda, berapa lama rata-rata petugas penerimaan membaca data setiap pelamar sebelum membuat keputusan? Ingat, ini adalah universitas terkemuka yang hanya menerima 3% sampai 7% dari pelamarnya—dan mereka mengatakan hanya butuh waktu 6 menit untuk memutuskan,” ujar Guskey, yang juga merupakan rekan penulis buku Life Skills for All Learners bersama CEO Redea Institute, Antarina S.F. Amir.
Ia menekankan bahwa petugas penerimaan sangat menghargai keterampilan hidup yang berperan penting dalam kesuksesan siswa di perguruan tinggi dan dunia kerja, seperti kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, berkolaborasi lintas budaya, dan berkontribusi bagi komunitas.
“Inilah hal-hal yang ingin diketahui oleh universitas terkemuka dunia. Dan kerangka kerja yang dikembangkan oleh Redea Institute—tidak hanya dalam pengembangan keterampilan ini, tetapi juga dalam asesmen dan pencatatannya di rapor serta transkrip nilai—sungguh luar biasa. Apa yang mereka lakukan jauh melampaui banyak institusi lainnya di dunia," ujarnya.
Sesi lokakarya semakin menginspirasi dengan testimoni dari Raja Michael Hegarty, siswa kelas 12, yang telah diterima di berbagai universitas internasional. Ia mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir kritis, refleksi diri, dan pengalaman belajar bermakna menjadi faktor penting dalam proses penerimaan.
“Saya bersyukur dapat diterima di beberapa universitas. Dalam memilih yang terbaik, saya perlu banyak berpikir kritis dan refleksi diri. Saya bertanya, jurusan dan universitas mana yang bisa memberikan apa yang saya butuhkan untuk mencapai cita-cita saya? Apakah mereka menyediakan mata kuliah yang saya perlukan?” Raja juga berbagi bagaimana berbagai kesempatan belajar di sekolah memperkaya portofolionya dalam proses pendaftaran universitas.
Sebagai bagian dari kunjungannya, Guskey juga menyambangi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah , memperkuat kolaborasi untuk mendorong transformasi pendidikan nasional.
Antarina S.F. Amir, CEO Redea Institute, menyampaikan terima kasih kepada para orang tua yang hadir dan menegaskan kembali misi institusinya:
“Sudah saatnya kita redefinisi makna kesuksesan. Anak-anak kita perlu dipersiapkan bukan hanya untuk masuk universitas ternama, tapi juga untuk tumbuh sebagai pembelajar sepanjang hayat dan pemimpin masa depan.”
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Redea Institute, lembaga yang menaungi jaringan Sekolah HighScope Indonesia, menghadirkan Dr. Thomas Guskey, pakar pendidikan kelas dunia, dalam lokakarya eksklusif bertajuk “Beyond the ‘A’: What Universities Really Want—and What Your Child Truly Needs”.
Baca juga: 16 Negara dengan Alumni Harvard University Terbanyak, Indonesia Nomor Berapa?
Guskey adalah Fellow dari American Educational Research Association, penulis lebih dari 30 buku pendidikan pemenang penghargaan, dan kontributor 300+ artikel profesional. Dalam sesi ini, ia memaparkan hasil riset dan praktik terbaik selama puluhan tahun, menyoroti pentingnya keseimbangan antara prestasi akademik dan keterampilan hidup (life skills).
Dalam sesi ini, Guskey membagikan wawasan praktis dari hasil penelitian dan pengalamannya selama puluhan tahun di bidang asesmen siswa, pembelajaran profesional, dan reformasi pendidikan.
Baca juga: Kisah Anasha, Siswi Indonesia yang Diterima di 11 Kampus Terbaik Luar Negeri
Ia menekankan bahwa meskipun prestasi akademik tetap penting, hal itu bukan lagi satu-satunya penentu kesuksesan masa depan.
Menurut survei National Association for College Admission Counseling (NACAC) 2023, selain nilai, faktor penting yang juga dipertimbangkan oleh universitas dalam menerima mahasiswa baru mencakup atribut karakter positif (28,3%), esai dan contoh tulisan (18,9%), serta minat yang ditunjukkan terhadap universitas tersebut (15,7%).
“Menurut Anda, berapa lama rata-rata petugas penerimaan membaca data setiap pelamar sebelum membuat keputusan? Ingat, ini adalah universitas terkemuka yang hanya menerima 3% sampai 7% dari pelamarnya—dan mereka mengatakan hanya butuh waktu 6 menit untuk memutuskan,” ujar Guskey, yang juga merupakan rekan penulis buku Life Skills for All Learners bersama CEO Redea Institute, Antarina S.F. Amir.
Ia menekankan bahwa petugas penerimaan sangat menghargai keterampilan hidup yang berperan penting dalam kesuksesan siswa di perguruan tinggi dan dunia kerja, seperti kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, berkolaborasi lintas budaya, dan berkontribusi bagi komunitas.
“Inilah hal-hal yang ingin diketahui oleh universitas terkemuka dunia. Dan kerangka kerja yang dikembangkan oleh Redea Institute—tidak hanya dalam pengembangan keterampilan ini, tetapi juga dalam asesmen dan pencatatannya di rapor serta transkrip nilai—sungguh luar biasa. Apa yang mereka lakukan jauh melampaui banyak institusi lainnya di dunia," ujarnya.
Sesi lokakarya semakin menginspirasi dengan testimoni dari Raja Michael Hegarty, siswa kelas 12, yang telah diterima di berbagai universitas internasional. Ia mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir kritis, refleksi diri, dan pengalaman belajar bermakna menjadi faktor penting dalam proses penerimaan.
“Saya bersyukur dapat diterima di beberapa universitas. Dalam memilih yang terbaik, saya perlu banyak berpikir kritis dan refleksi diri. Saya bertanya, jurusan dan universitas mana yang bisa memberikan apa yang saya butuhkan untuk mencapai cita-cita saya? Apakah mereka menyediakan mata kuliah yang saya perlukan?” Raja juga berbagi bagaimana berbagai kesempatan belajar di sekolah memperkaya portofolionya dalam proses pendaftaran universitas.
Sebagai bagian dari kunjungannya, Guskey juga menyambangi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah , memperkuat kolaborasi untuk mendorong transformasi pendidikan nasional.
Antarina S.F. Amir, CEO Redea Institute, menyampaikan terima kasih kepada para orang tua yang hadir dan menegaskan kembali misi institusinya:
“Sudah saatnya kita redefinisi makna kesuksesan. Anak-anak kita perlu dipersiapkan bukan hanya untuk masuk universitas ternama, tapi juga untuk tumbuh sebagai pembelajar sepanjang hayat dan pemimpin masa depan.”
(nnz)
Lihat Juga :