Kisah Perjuangan Frida, Lulusan Terbaik UNY dengan IPK Tertinggi
Sabtu, 07 Juni 2025 - 16:33 WIB
loading...
Frida Hertiza Dewi dinobatkan sebagai lulusan sarjana dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi, yakni 3,97. Foto/UNY.
A
A
A
JAKARTA - Dalam gelaran Wisuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) periode Mei 2025, nama Frida Hertiza Dewi mencuri perhatian publik. Ia dinobatkan sebagai lulusan sarjana dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi, yakni 3,97 dengan masa studi hanya 3 tahun 6 bulan.
Perjalanan mahasiswa UNY Program Studi Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, ini tidaklah mudah. Ia diterima di UNY melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN, sekarang Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP)), tepat saat keluarganya sedang berduka dan menghadapi masalah ekonomi.
Baca juga: Lulus Cumlaude dari UGM di Usia 19 Tahun, Mutiara Jadi Wisudawan Termuda
“Hal ini membahagiakan karena datang saat keluarga sedang berduka sebab kakek saya meninggal dunia, selain itu juga sedang mengalami keterpurukan ekonomi sehingga diterima di PTN adalah hal yang terbaik,” katanya, dikutip dari laman UNY, Sabtu (7/6/2025).
Meskipun sempat ingin mengajukan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, ia terhalang karena sang ibu adalah pegawai negeri sipil.
Frida, putri dari pasangan Hery Kusumawan dan Tatik Winarti, tinggal di Donoharjo, Ngaglik, Sleman. Selama kuliah, ia aktif di berbagai kegiatan kampus seperti kepanitiaan dan unit kegiatan mahasiswa.
Baca juga: Cerita Brian Arianto Lulus Cumlaude Kedokteran UGM: Jadi Dokter adalah Panggilan Jiwa
Di sana, Frida belajar mengelola waktu dan tanggung jawab dengan lebih baik. “Pada semester 4 dan 5, saya mulai mencari pengalaman kerja. Saya menjadi admin part time di sebuah online shop. Meskipun lelah dan memiliki rasa takut apabila IPK turun, saya tetap melawan rasa takut untuk mendapatkan banyak pengalaman dalam satu kesempatan,” katanya.
Baginya, IPK adalah harga diri dan tanggung jawab, sehingga Frida terus berusaha menyeimbangkan antara studi dan pekerjaan. Pada semester 6, ia lolos seleksi Program Kampus Mengajar dan ditempatkan di SDN Nyaen 2 Pandowoharjo, Sleman.
Baca juga: Kisah Maria Khelli, Lulus Cumlaude dengan IPK Tertinggi di ITB
“Salah satu kebahagiaan terbesar saya saat itu adalah ketika bisa memberi sesuatu untuk ibu saya dari uang saku yang diperoleh melalui Program Kampus Mengajar. Meskipun sederhana, saya merasa bangga bisa membuat ibu tersenyum,” ujar Frida haru.
Tak berhenti di situ, Frida mencoba Program Magang dan Studi Independen (MSIB) namun belum berhasil lolos. Ia tak menyerah dan memilih jalur mandiri dengan magang di Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (DIKPORA) Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Jaraknya jauh dari rumah, lalu lintas padat, dan saya harus berangkat pagi dan pulang larut,” ujarnya.
Di tengah padatnya jadwal magang, Frida juga mulai mengerjakan skripsi yang penuh tantangan. Saat hendak mengambil data, pihak tempat penelitian sempat belum bisa memberikan waktu yang pasti, membuat target sidang sedikit meleset. Meski demikian, ia tetap bersyukur prosesnya berjalan dengan baik.
Kini, Frida tengah menjalani internship di PT Widya Inovasi Indonesia, sebuah perusahaan teknologi terkemuka di Yogyakarta. Pengalaman ini ia anggap sebagai penghargaan setelah sebelumnya gagal di Program MSIB.
“Bekerja di perusahaan swasta ternama memang salah satu impian saya selama ini. Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan ini, karena dari proses seleksi hingga pelaksanaan tugas internship, saya merasa ditempa menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi dunia profesional,” ungkapnya.
Alumni SMAN 2 Sleman ini percaya bahwa perjuangan bukan hanya soal bertahan di tengah kesulitan, tetapi tentang konsistensi melangkah meski dalam keraguan.
“Saya bisa berdiri hingga saat ini bukan karena saya yang paling hebat, tapi karena saya tidak berhenti mencoba untuk jadi lebih baik setiap harinya. Saya tidak memiliki kisah dramatis untuk dijadikan inspirasi, tapi saya punya mimpi, dan saya terus berusaha menjaganya, meski sering kali merasa ragu, takut, bahkan merasa tidak pantas. Seperti hari ini,” tutup Frida dengan penuh makna.
Perjalanan mahasiswa UNY Program Studi Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, ini tidaklah mudah. Ia diterima di UNY melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN, sekarang Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP)), tepat saat keluarganya sedang berduka dan menghadapi masalah ekonomi.
Baca juga: Lulus Cumlaude dari UGM di Usia 19 Tahun, Mutiara Jadi Wisudawan Termuda
“Hal ini membahagiakan karena datang saat keluarga sedang berduka sebab kakek saya meninggal dunia, selain itu juga sedang mengalami keterpurukan ekonomi sehingga diterima di PTN adalah hal yang terbaik,” katanya, dikutip dari laman UNY, Sabtu (7/6/2025).
Meskipun sempat ingin mengajukan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, ia terhalang karena sang ibu adalah pegawai negeri sipil.
Frida, putri dari pasangan Hery Kusumawan dan Tatik Winarti, tinggal di Donoharjo, Ngaglik, Sleman. Selama kuliah, ia aktif di berbagai kegiatan kampus seperti kepanitiaan dan unit kegiatan mahasiswa.
Baca juga: Cerita Brian Arianto Lulus Cumlaude Kedokteran UGM: Jadi Dokter adalah Panggilan Jiwa
Di sana, Frida belajar mengelola waktu dan tanggung jawab dengan lebih baik. “Pada semester 4 dan 5, saya mulai mencari pengalaman kerja. Saya menjadi admin part time di sebuah online shop. Meskipun lelah dan memiliki rasa takut apabila IPK turun, saya tetap melawan rasa takut untuk mendapatkan banyak pengalaman dalam satu kesempatan,” katanya.
Baginya, IPK adalah harga diri dan tanggung jawab, sehingga Frida terus berusaha menyeimbangkan antara studi dan pekerjaan. Pada semester 6, ia lolos seleksi Program Kampus Mengajar dan ditempatkan di SDN Nyaen 2 Pandowoharjo, Sleman.
Baca juga: Kisah Maria Khelli, Lulus Cumlaude dengan IPK Tertinggi di ITB
“Salah satu kebahagiaan terbesar saya saat itu adalah ketika bisa memberi sesuatu untuk ibu saya dari uang saku yang diperoleh melalui Program Kampus Mengajar. Meskipun sederhana, saya merasa bangga bisa membuat ibu tersenyum,” ujar Frida haru.
Tak berhenti di situ, Frida mencoba Program Magang dan Studi Independen (MSIB) namun belum berhasil lolos. Ia tak menyerah dan memilih jalur mandiri dengan magang di Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (DIKPORA) Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Jaraknya jauh dari rumah, lalu lintas padat, dan saya harus berangkat pagi dan pulang larut,” ujarnya.
Di tengah padatnya jadwal magang, Frida juga mulai mengerjakan skripsi yang penuh tantangan. Saat hendak mengambil data, pihak tempat penelitian sempat belum bisa memberikan waktu yang pasti, membuat target sidang sedikit meleset. Meski demikian, ia tetap bersyukur prosesnya berjalan dengan baik.
Kini, Frida tengah menjalani internship di PT Widya Inovasi Indonesia, sebuah perusahaan teknologi terkemuka di Yogyakarta. Pengalaman ini ia anggap sebagai penghargaan setelah sebelumnya gagal di Program MSIB.
“Bekerja di perusahaan swasta ternama memang salah satu impian saya selama ini. Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan ini, karena dari proses seleksi hingga pelaksanaan tugas internship, saya merasa ditempa menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi dunia profesional,” ungkapnya.
Alumni SMAN 2 Sleman ini percaya bahwa perjuangan bukan hanya soal bertahan di tengah kesulitan, tetapi tentang konsistensi melangkah meski dalam keraguan.
“Saya bisa berdiri hingga saat ini bukan karena saya yang paling hebat, tapi karena saya tidak berhenti mencoba untuk jadi lebih baik setiap harinya. Saya tidak memiliki kisah dramatis untuk dijadikan inspirasi, tapi saya punya mimpi, dan saya terus berusaha menjaganya, meski sering kali merasa ragu, takut, bahkan merasa tidak pantas. Seperti hari ini,” tutup Frida dengan penuh makna.
(nnz)
Lihat Juga :