Kisah Kevin, Penerima Beasiswa LPDP ke UK dan Raih Tesis Terbaik se-Inggris Raya
Selasa, 10 Juni 2025 - 10:31 WIB
loading...
Kisah penerima beasiswa LPDP ke Inggris, Kevin Lijaya Lukman menarik untuk diulas. Foto/LPDP.
A
A
A
JAKARTA - Kisah penerima beasiswa LPDP ke Inggris , Kevin Lijaya Lukman menarik untuk diulas. Kevin yang kuliah di Imperial College London ini mendapat penghargaan tesis terbaik se-Inggris Raya.
Kevin diterima di dua kampus top dunia: UCL dan Imperial College London. Ia memilih Imperial karena reputasinya sebagai universitas peringkat lima dunia saat itu.
Baca juga: Kisah Perjuangan Frida, Lulusan Terbaik UNY dengan IPK Tertinggi
Ia mengambil program ganda antara Royal School of Mines dan Imperial College Business School. Beban studinya tidak ringan: 15 sub-modul ujian dalam setahun.
Di tengah kesibukan akademik, Kevin tetap berpegang pada misi: membawa ilmu yang bermanfaat untuk pembangunan industri Indonesia. Risetnya tentang evaluasi teknis dan finansial proyek nikel menggunakan pendekatan statistik inovatif menjadi perhatian.
Baca juga: Kisah Dewi Agustiningsih, Anak Sopir Lulusan SMP Jadi Doktor Termuda UGM dan Jabat Dosen ITB
Dalam salah satu acara di London, ia bertemu Menteri Keuangan Sri Mulyani dan mendapat pesan yang membekas:
“Jangan puas hanya karena dapat IPK 4. Itu bukan akhir,” ucap Sri Mulyani kepada Kevin, dikutip dari laman LPDP, Selasa (10/6/2025).
Penelitiannya terpilih tanpa ia ketahui sebelumnya. Bahkan, dosen pembimbingnya tidak mendaftarkannya. Ia otomatis mendapat keanggotaan di organisasi geologi dan asosiasi profesional bidang metalurgi dan pertambangan.
Baca juga: Kisah Apry, Mahasiswa UNY Anak Buruh Tani Raih IPK 3,99 dan Wisudawan Terbaik
Meski tawaran kerja dari luar negeri berdatangan, Kevin memilih pulang. Kini, ia kembali berkarya di laboratorium, melanjutkan proyek nikel untuk Indonesia dengan ilmu dan pengalaman dari salah satu institusi terbaik dunia.
Kevin yang tumbuh sebagai siswa berprestasi sejak SMP di Santo Aloysius Bandung ini adalah selalu meraih beasiswa dan memenangkan berbagai kompetisi nasional termasuk olimpiade Kimia dan lomba karya ilmiah.
Lahir dan besar di Bandung, Kevin mulanya kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Mesin pada 2016. Ia meraih Beasiswa Unggulan Kemendikbudristek untuk meringankan beban biaya kuliah yang mencapai Rp80 juta selama 8 semester itu.
Di ITB Kevin ini keluarebagai mahasiswa pertama yang lulus cumlaude dalam waktu 3,5 tahun, tercepat dari 343 mahasiswa angkatannya. Gelar itu bukan datang begitu saja. Ia aktif di himpunan, memimpin berbagai proyek, dan tetap menjaga indeks prestasi akademik yang nyaris sempurna.
Selepas lulus, Kevin sempat diterima di perusahaan tambang. Namun pandemi COVID-19 menggagalkan rencana itu. Ia kemudian direkomendasikan untuk bergabung dengan Salim Group dan ditempatkan di PT Indo Mineral Research di Purwakarta.
Di sinilah awal karier Kevin di dunia riset. Ia dipercaya membentuk tim dan membangun laboratorium penelitian untuk prekursor baterai kendaraan listrik dari nol. Tanggung jawab besar itu menguji kemampuannya, tidak hanya dalam aspek teknis tetapi juga kepemimpinan.
"Awalnya saya kira ini hanya soal riset. Ternyata ini tentang leadership," ungkapnya.
Selama tiga tahun, Kevin memimpin proyek riset dan pengembangan fasilitas pengolahan nikel, sambil menyadari pentingnya pemahaman yang lebih dalam di bidang finansial dan metalurgi industri. Keputusan untuk melanjutkan studi S2 pun akhirnya diambil.
Kevin diterima di dua kampus top dunia: UCL dan Imperial College London. Ia memilih Imperial karena reputasinya sebagai universitas peringkat lima dunia saat itu.
Baca juga: Kisah Perjuangan Frida, Lulusan Terbaik UNY dengan IPK Tertinggi
Ia mengambil program ganda antara Royal School of Mines dan Imperial College Business School. Beban studinya tidak ringan: 15 sub-modul ujian dalam setahun.
Di tengah kesibukan akademik, Kevin tetap berpegang pada misi: membawa ilmu yang bermanfaat untuk pembangunan industri Indonesia. Risetnya tentang evaluasi teknis dan finansial proyek nikel menggunakan pendekatan statistik inovatif menjadi perhatian.
Baca juga: Kisah Dewi Agustiningsih, Anak Sopir Lulusan SMP Jadi Doktor Termuda UGM dan Jabat Dosen ITB
Dalam salah satu acara di London, ia bertemu Menteri Keuangan Sri Mulyani dan mendapat pesan yang membekas:
“Jangan puas hanya karena dapat IPK 4. Itu bukan akhir,” ucap Sri Mulyani kepada Kevin, dikutip dari laman LPDP, Selasa (10/6/2025).
Penghargaan Internasional dan Loyalitas untuk Pulang
Kevin lulus dengan predikat distinction, menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia yang mendapat penghargaan tersebut di angkatannya. Lebih membanggakan lagi, tesisnya dinobatkan sebagai yang terbaik dan meraih Curry MSc Prize—penghargaan prestisius untuk riset geologi terbaik di seluruh Inggris Raya.Penelitiannya terpilih tanpa ia ketahui sebelumnya. Bahkan, dosen pembimbingnya tidak mendaftarkannya. Ia otomatis mendapat keanggotaan di organisasi geologi dan asosiasi profesional bidang metalurgi dan pertambangan.
Baca juga: Kisah Apry, Mahasiswa UNY Anak Buruh Tani Raih IPK 3,99 dan Wisudawan Terbaik
Meski tawaran kerja dari luar negeri berdatangan, Kevin memilih pulang. Kini, ia kembali berkarya di laboratorium, melanjutkan proyek nikel untuk Indonesia dengan ilmu dan pengalaman dari salah satu institusi terbaik dunia.
Kevin yang tumbuh sebagai siswa berprestasi sejak SMP di Santo Aloysius Bandung ini adalah selalu meraih beasiswa dan memenangkan berbagai kompetisi nasional termasuk olimpiade Kimia dan lomba karya ilmiah.
Lulus Cumlaude dari ITB
Lahir dan besar di Bandung, Kevin mulanya kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Mesin pada 2016. Ia meraih Beasiswa Unggulan Kemendikbudristek untuk meringankan beban biaya kuliah yang mencapai Rp80 juta selama 8 semester itu.
Di ITB Kevin ini keluarebagai mahasiswa pertama yang lulus cumlaude dalam waktu 3,5 tahun, tercepat dari 343 mahasiswa angkatannya. Gelar itu bukan datang begitu saja. Ia aktif di himpunan, memimpin berbagai proyek, dan tetap menjaga indeks prestasi akademik yang nyaris sempurna.
Awal Mula Mengejar Beasiswa LPDP
Selepas lulus, Kevin sempat diterima di perusahaan tambang. Namun pandemi COVID-19 menggagalkan rencana itu. Ia kemudian direkomendasikan untuk bergabung dengan Salim Group dan ditempatkan di PT Indo Mineral Research di Purwakarta.
Di sinilah awal karier Kevin di dunia riset. Ia dipercaya membentuk tim dan membangun laboratorium penelitian untuk prekursor baterai kendaraan listrik dari nol. Tanggung jawab besar itu menguji kemampuannya, tidak hanya dalam aspek teknis tetapi juga kepemimpinan.
"Awalnya saya kira ini hanya soal riset. Ternyata ini tentang leadership," ungkapnya.
Selama tiga tahun, Kevin memimpin proyek riset dan pengembangan fasilitas pengolahan nikel, sambil menyadari pentingnya pemahaman yang lebih dalam di bidang finansial dan metalurgi industri. Keputusan untuk melanjutkan studi S2 pun akhirnya diambil.
(nnz)
Lihat Juga :