Cerita Devit, Anak dari Lereng Gunung Singgalang yang Dijemput Rektor ITB setelah Lolos SNBP
Kamis, 12 Juni 2025 - 09:56 WIB
loading...
A
A
A
Anak dari Doni Afrijal, seorang kuli angkut kayu manis, dan Julimar, penyisir kayu manis di hutan, Devit tumbuh dalam keterbatasan ekonomi.
Penghasilan orang tuanya tak menentu, dan selama ini keluarga Devit masih menumpang tinggal di rumah orang lain. Namun, keterbatasan itu tidak mematahkan semangat Devit untuk belajar dan meraih mimpi.
Saat duduk bersama di rumah sederhana milik keluarganya, kedua orang tua Devit tak kuasa menahan tangis saat menceritakan perjuangan mereka. Rektor ITB pun ikut menangis, terharu mendengar kisah kesungguhan dan kerja keras keluarga ini.
Baca juga: Mahasiswi ITB Pengunggah Meme Prabowo-Jokowi Ditangkap, Hasan Nasbi: Lebih Baik Dibina
Cita-cita Devit sederhana namun sangat mulia. Ia ingin membelikan rumah untuk kedua orang tuanya karena selama ini masih tinggal menumpang di rumah orang. Orang tuanya pun sangat mendukung perjuangan Devit hingga lolos ke ITB tanpa tes.
Devit pun tak hanya jadi kebangggan keluarganya namun warga sekampung. Bahkan warga pun bergotong royong membantu keberangkatan Devit ke Bandung. Mereka patungan secara sukarela, ada yang menyumbang Rp100 ribu, Rp200 ribu, semua dilakukan agar Devit bisa berangkat dan kuliah dengan tenang.
Penghasilan orang tuanya tak menentu, dan selama ini keluarga Devit masih menumpang tinggal di rumah orang lain. Namun, keterbatasan itu tidak mematahkan semangat Devit untuk belajar dan meraih mimpi.
Saat duduk bersama di rumah sederhana milik keluarganya, kedua orang tua Devit tak kuasa menahan tangis saat menceritakan perjuangan mereka. Rektor ITB pun ikut menangis, terharu mendengar kisah kesungguhan dan kerja keras keluarga ini.
Baca juga: Mahasiswi ITB Pengunggah Meme Prabowo-Jokowi Ditangkap, Hasan Nasbi: Lebih Baik Dibina
Cita-cita Devit sederhana namun sangat mulia. Ia ingin membelikan rumah untuk kedua orang tuanya karena selama ini masih tinggal menumpang di rumah orang. Orang tuanya pun sangat mendukung perjuangan Devit hingga lolos ke ITB tanpa tes.
Devit pun tak hanya jadi kebangggan keluarganya namun warga sekampung. Bahkan warga pun bergotong royong membantu keberangkatan Devit ke Bandung. Mereka patungan secara sukarela, ada yang menyumbang Rp100 ribu, Rp200 ribu, semua dilakukan agar Devit bisa berangkat dan kuliah dengan tenang.
Lihat Juga :