7 Perguruan Tinggi Suarakan Kolegium Dokter Indonesia Tak Diambil Alih Pemerintah

Kamis, 12 Juni 2025 - 20:28 WIB
loading...
7 Perguruan Tinggi Suarakan...
Dua guru besar FK Unair, Prof Dr dr Djohansjah Marzoeki, SpBP RE (kiri) dan Prof Dr dr David Perdanakusuma, SpBP RE (dua dari kanan). Foto/Masdarul.
A A A
SURABAYA - Guru besar dari tujuh Fakultas Kedokteran (FK) di Indonesia melakukan aksi serentak, Kamis (12/6/2025). Bukan dengan demo tapi dengan diskusi atau mini simposium. Salah satunya juga dilakukan para guru besar di FK Universitas Airlangga (Unair).

Para guru besar dan dokter FK Unair berkumpul untuk menyuarakan apa yang menjadi keprihatinan mereka.
Enam perguruan tinggi yang melakukan aksi antara lain Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Sumatera Utara (USU).

Baca juga: Kisah Iqbal Rasyid, Anak Buruh Harian Bengkulu yang Tembus Kedokteran UI

Seperti diketahui, saat ini sedang berlangsung gugatan para dokter yang tergabung dalam IDI di Mahkamah Konstitusi (MK). Mereka menggugat UU no 17/2023 tentang Kesehatan. Sudah digelar sembilan lagi sidang dan akan memasuki sidang putusan dalam beberapa hari ke depan.

Dalam gugatan itu, para guru besar itu meminta Kolegium Dokter Indonesia dalam hal ini IDi, tidak diambilalih atau di bawah pemerintah.

Prof Dr dr Djohansjah Marzoeki, salah satu guru besar FK Unair menegaskan kolegium dalam bidang kedokteran itu bukan ranah negara. Dalam bidang kedokteran kata Prof Djohansjah dibagi menjadi dua yakni dari sisi keilmuan dan praktik. Kalau dari sisi keilmuan, diampu oleh kolegium.

Baca juga: Guru Besar FKUI Prihatin soal Kebijakan Kesehatan dan Pendidikan Kedokteran, Ini Respons Kemenkes

"Dan selama ini kolegium bekerja untuk bidang pendidikan, yang menentukan standar kompetensi, standar keilmuan dan standar kurikulum. Jadi memang bukan ranah negara," kata guru besar bidang bedah plastik ini.

Ketika menentukan standar keilmuan dan kompetensi itu kata Prof Johansjah sudah baku dan berlaku di semua negara.

"Jadi tanpa ada batas negara, semua sama. Ilmu yang sama itu terkait di seluruh dunia. Misal penelitian (tentang ilmu tertentu) dilakukan di sini, itu akan dievaluasi di seluruh dunia. Jangan sampai di sini benar dan di sana salah. Atau di sini salah di sana benar. Semua berlaku dengan standar yang sama di seluruh dunia tanpa ada batas negara," tandasnya.

Prof Djohansjah menyoroti isu yang sedang hangat yakni dokter umum bisa melakukan operasi sesar. Ditegaskan dokter yang melakukan operasi ganti kelamin Dorce Gamalama itu pemerintah tidak punya wewenang menentukan itu. Karena kompetensi itu ditentukan oleh kolegium. .

"Kapan seorang dokter itu bisa atau tidak berkecimpung di bidang bedah, maka yang menentukan kolegium. Kalau dibiarkan maka yang akan dirugikan pasien. Karena dokter umum hanya bisa membedah untuk bantu kelahiran. Tapi saat proses itu bisa terjadi komplikasi, jika begitu dokter umum tidak akan bisa menanganinya," jelas Prof Djohansjah.

Khawatir Dikelola Orang yang Tidak Ahli


Ditambahkan Guru besar FK Unair yang lain, Prof Dr dr David Perdanakusuma, SpBP RE, kolegium itu tidak bisa dipisahkan dengan ilmu. Karena kolegium itu adalah pengampu keilmuan.

"Misal pengampu dalam bidang bedah, apakah diambilalih negara? Tidak. Standar bedah itu sama antara di Indonesia dengan negara lain. Jadi tidak ada yang diambilalih negara. Negara boleh memberikan power ke kolegium, memberikan support dan menaungi, bukan mengambil alih," tandasnya.

Karenanya orang yang berkecimpung di kolegium itu harus orang yang ahli. Jika tidak ahli maka tidak bisa mengelola dan mengambilalihnya. Karena kolegium itu menentukan tiga standar seorang dokter di Indonesia yakni keilmuan, kompetensi dan kurikulum.

"Jika dikelola orang yang tidak ahli, maka akan terjadi kekacauan dalam pengelolaan keilmuan itu sendiri. Orangnya tidak pernah berkecimpung di ilmu itu bagaimana bisa mengelola dengan baik. Yang dikhawatirkan itu sekarang diambil orang-orangnya maka ke depan diambilalih ilmunya," tandasnya.

Guru besar FK Unair yang lain, Prof Joni Wahyuhadi, SpBS menambahkan harusnya semua pihak bergandengan tangan untuk memajukan dunia kedokteran di Indonesia. Apalagi, saat ini banyak orang Indonesia yang berobat ke luar negeri. Padahal kompetensi dan kemampuan para dokter di Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan di luar negeri.

“Ada tiga hal yang harus dimiliki seorang dokter, ilmunya, empatinya dan etikanya. Terkadang pasien mengakui kemampuan dokter di sini, namun mereka tidak suka karena dokter itu tidak punya empati dan etika. Makanya ketiga hal ini harus dirumuskkan dalam kurikulum,” katanya.
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Unair Tembus Peringkat...
Unair Tembus Peringkat 276 Dunia di QS WUR 2027, Raih Posisi Ketiga Nasional
Cerita Davi, Mahasiswa...
Cerita Davi, Mahasiswa Kedokteran Unair yang Raih Medali Emas ONMIPA-PT 2026 Bidang Biologi
FK Unair Kukuhkan Profesor...
FK Unair Kukuhkan Profesor University of Melbourne sebagai Adjunct Professor
Kedokteran Jadi Jurusan...
Kedokteran Jadi Jurusan Paling Ketat di Unair Jalur SNBT 2026, Berapa Nilai Reratanya?
FK Unair Kolaborasi...
FK Unair Kolaborasi dengan Adelaide University, Soroti Sistem Kesehatan Kebidanan Indonesia
Ashanty Lulus S3 di...
Ashanty Lulus S3 di Unair, Bahas Strategi Musisi Senior Bertahan di Era Digital
Ungkap Kekerasan Obstetri...
Ungkap Kekerasan Obstetri di RS, Dokter Wanita Ini Ditangkap atas Tuduhan Sebar Hoaks
Ribuan Dokter Muda Terancam...
Ribuan Dokter Muda Terancam Gagal Praktik, Pakar UGM Minta Pemerintah Bertindak
Gejala Usus Buntu yang...
Gejala Usus Buntu yang Sering Diabaikan, Dari Nyeri Perut hingga Demam Mendadak
Rekomendasi
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Dirawat Inap Atas Rekomendasi Dokter
Indonesia Perkuat Regenerasi...
Indonesia Perkuat Regenerasi Atlet demi Kuasai Panggung MMA Asia
Di Hadapan Pimpinan...
Di Hadapan Pimpinan DPR, Mahasiswa Minta Pemerintah Tak Mainkan Isu Perut Rakyat
Berita Terkini
Universitas Brawijaya...
Universitas Brawijaya Tembus Peringkat 616 Dunia di QS WUR 2027
PMB Madrasah Jakarta...
PMB Madrasah Jakarta Jalur Tahfiz 2026 Dibuka, Cek Syarat dan Cara Daftarnya
ITS Raih Peringkat 497...
ITS Raih Peringkat 497 Dunia di QS WUR 2027, Unggul pada Rasio Mahasiswa Internasional
Pangeran George Masuk...
Pangeran George Masuk Eton College, Sekolah Elit Keluarga Kerajaan
Insentif Guru PAI Tahap...
Insentif Guru PAI Tahap II 2026 Cair, Berikut Besaran dan Jumlah Penerimanya
Kamboja Targetkan Kerja...
Kamboja Targetkan Kerja Sama Pendidikan Tinggi dengan Indonesia, Fokus Double Degree
Infografis
3 Negara yang Teguh...
3 Negara yang Teguh Tak Akui Taiwan, Salah Satunya Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved