Dukung SDGs, Ini Cara Unika Atma Jaya Lestarikan Lingkungan dan Budaya Lokal
Rabu, 18 Juni 2025 - 12:35 WIB
loading...
BanggaFest 2025 Unika Atma Jaya menghadirkan berbagai kegiatan kreatif dan edukatif. Foto/UAJ.
A
A
A
JAKARTA - BanggaFest 2025 Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya menghadirkan berbagai kegiatan kreatif dan edukatif. Salah satu fokus dari penyelenggaraan event BanggaFest ini yaitu pada pelestarian lingkungan dan memperkenalkan budaya lokal.
Upaya ini juga merupakan wujud implementasi Unika Atma Jaya dalam mendukung SDG’s (Sustainable Development Goals) khususnya pada tujuan SDG's nomor 12 "Responsible Consumption and Production", dan SDGS's nomor 17 "Partnership for the Goals".
Rektor Unika Atma Jaya Prof Yuda Turana mengatakan, Lokakarya Batik Selampe menjadi salah satu wadah memperkenalkan batik Betawi Condet kontemporer. Para pegiat dari Padepokan Ciliwung Condet langsung hadir membimbing pengunjung yang ingin mencoba membuat batik.
"Melalui aktivitas membatik ini diharapkan dapat memperluas pemahaman terhadap budaya lokal sehingga masyarakat tidak hanya mengenakan batik tetapi juga paham cara membuat batik," katanya, melalui siaran pers, Rabu (18/6/2025).
Dia menjelaskan, selain Batik Selampe, terdapat lokakarya lain yang berkaitan dengan batik yaitu lokakarya kipas lukis batik. Dalam proses pembuatan kipas lukis batik ini dipandu oleh komunitas seni ”Artventure” yang mengajak peserta untuk melukis batik diatas kipas dengan motif mega mendung.
"Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana eksplorasi teknik seni tetapi juga bertujuan untuk menumbuhkan kreativitas, kepekaan serta memperkuat kesehatan mental melalui proses berkarya yang menyenangkan.
Lokakarya lain yang hadir adalah Karawitan Jawi yang merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Unika Atma Jaya," ujarnya.
Dia mengatakan, lokakarya ini membuka sesi musik interaktif yang memungkinkan pengunjung untuk mencoba langsung alat musik tradisional Indonesia seperti gendang, saron, bonang dan banyak lainnya. Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam memperkenalkan dan melestarikan seni musik tradisional Nusantara.
Lokakarya terakhir dan tidak kalah menarik adalah Lilin Mijel dan Eco Enzyme. Pengunjung diajak untuk menyaksikan dan mencoba membuat lilin aromaterapi dari minyak jelantah serta cairan eco enzyme dari bahan olahan limbah organik. Kegiatan ini memberikan edukasi
kepada peserta mengenai manfaat limbah rumah tangga yang dapat diubah menjadi produk yang berguna.
Selain Lokakarya, BanggaFest 2025 juga menghadirkan berbagai booth yang dapat dikunjungi.
Salah satu booth itu adalah dari ATMI Cikarang, booth yang menawarkan coaster, gantungan kunci, pot dan barang-barang lain yang dibuat dari hasil daur ulang limbah plastik. Dengan membawa mesin pengolahan, pengunjung langsung dapat melihat dan mencoba mengolah limbah plastik menjadi gantungan kunci.
Booth Eco Enzyme yang diinisasi oleh empat komunitas (Laudato Si’ Indonesia, Pepulih, Yayasan Tarakanita dan Talitha Kum Indonesia) juga menawarkan barang-barang yang mendukung kelestarian lingkungan. Produk yang ditawarkan diantaranya seperti sabun cuci tangan dan body wash eco enzyme yang dibuat oleh siswa/i TK-SMP Tarakanita.
Selain itu tersedia pula kerajinan karya disabel seperti celemek, bunga, dan gelang dari barang daur ulang.
Booth Lovely Hands tampil berbeda dengan mempersembahkan aneka produk kerajinan seperti gelang, boneka, tas rajut dan dompet rajut yang dibuat oleh orang tua anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak mampu secara ekonomi.
Komunitas Lovely Hands berasal dari Paroki Danau Sunter St Yohanes Bosco yang berfokus pada pelayanan untuk anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga ekonomi lemah.
Penjualan ini akan membantu Lovely Hands meningkatkan pelayanannya serta menunjukkan keterampilan anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak kalah hebat dari anak lainnya.
Upaya ini juga merupakan wujud implementasi Unika Atma Jaya dalam mendukung SDG’s (Sustainable Development Goals) khususnya pada tujuan SDG's nomor 12 "Responsible Consumption and Production", dan SDGS's nomor 17 "Partnership for the Goals".
Rektor Unika Atma Jaya Prof Yuda Turana mengatakan, Lokakarya Batik Selampe menjadi salah satu wadah memperkenalkan batik Betawi Condet kontemporer. Para pegiat dari Padepokan Ciliwung Condet langsung hadir membimbing pengunjung yang ingin mencoba membuat batik.
"Melalui aktivitas membatik ini diharapkan dapat memperluas pemahaman terhadap budaya lokal sehingga masyarakat tidak hanya mengenakan batik tetapi juga paham cara membuat batik," katanya, melalui siaran pers, Rabu (18/6/2025).
Dia menjelaskan, selain Batik Selampe, terdapat lokakarya lain yang berkaitan dengan batik yaitu lokakarya kipas lukis batik. Dalam proses pembuatan kipas lukis batik ini dipandu oleh komunitas seni ”Artventure” yang mengajak peserta untuk melukis batik diatas kipas dengan motif mega mendung.
"Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana eksplorasi teknik seni tetapi juga bertujuan untuk menumbuhkan kreativitas, kepekaan serta memperkuat kesehatan mental melalui proses berkarya yang menyenangkan.
Lokakarya lain yang hadir adalah Karawitan Jawi yang merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Unika Atma Jaya," ujarnya.
Dia mengatakan, lokakarya ini membuka sesi musik interaktif yang memungkinkan pengunjung untuk mencoba langsung alat musik tradisional Indonesia seperti gendang, saron, bonang dan banyak lainnya. Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam memperkenalkan dan melestarikan seni musik tradisional Nusantara.
Lokakarya terakhir dan tidak kalah menarik adalah Lilin Mijel dan Eco Enzyme. Pengunjung diajak untuk menyaksikan dan mencoba membuat lilin aromaterapi dari minyak jelantah serta cairan eco enzyme dari bahan olahan limbah organik. Kegiatan ini memberikan edukasi
kepada peserta mengenai manfaat limbah rumah tangga yang dapat diubah menjadi produk yang berguna.
Selain Lokakarya, BanggaFest 2025 juga menghadirkan berbagai booth yang dapat dikunjungi.
Salah satu booth itu adalah dari ATMI Cikarang, booth yang menawarkan coaster, gantungan kunci, pot dan barang-barang lain yang dibuat dari hasil daur ulang limbah plastik. Dengan membawa mesin pengolahan, pengunjung langsung dapat melihat dan mencoba mengolah limbah plastik menjadi gantungan kunci.
Booth Eco Enzyme yang diinisasi oleh empat komunitas (Laudato Si’ Indonesia, Pepulih, Yayasan Tarakanita dan Talitha Kum Indonesia) juga menawarkan barang-barang yang mendukung kelestarian lingkungan. Produk yang ditawarkan diantaranya seperti sabun cuci tangan dan body wash eco enzyme yang dibuat oleh siswa/i TK-SMP Tarakanita.
Selain itu tersedia pula kerajinan karya disabel seperti celemek, bunga, dan gelang dari barang daur ulang.
Booth Lovely Hands tampil berbeda dengan mempersembahkan aneka produk kerajinan seperti gelang, boneka, tas rajut dan dompet rajut yang dibuat oleh orang tua anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak mampu secara ekonomi.
Komunitas Lovely Hands berasal dari Paroki Danau Sunter St Yohanes Bosco yang berfokus pada pelayanan untuk anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga ekonomi lemah.
Penjualan ini akan membantu Lovely Hands meningkatkan pelayanannya serta menunjukkan keterampilan anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak kalah hebat dari anak lainnya.
(nnz)
Lihat Juga :