Hadapi Era AI, Jusuf Kalla Dorong Guru Beradaptasi dan Ubah Cara Mengajar
Sabtu, 28 Juni 2025 - 19:17 WIB
loading...
Mantan Wapres Jusuf Kalla, menyoroti pentingnya perubahan metode pembelajaran oleh para guru dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan yang makin pesat. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla , menyoroti pentingnya perubahan metode pembelajaran oleh para guru dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin pesat.
Ia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi saat ini telah memberikan dampak signifikan pada sektor pendidikan. Pengetahuan teoritis yang sebelumnya hanya bisa diperoleh melalui buku atau pengajaran di kelas, kini sudah sangat mudah diakses siswa dengan bantuan teknologi AI.
"Sekarang kalau bapak ibu guru mengajar sejarah, ekonomi, geografi, muridnya bisa jadi lebih pintar dari guru. Jadi, guru mesti lebih pintar dari murid. Bagaimana dalam situasi seperti ini terjadi pembelajaran yang baik," ujar JK saat memberikan sambutan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (28/6/2025).
JK menambahkan, jika dahulu siswa harus membawa banyak buku pelajaran ke sekolah, saat ini seluruh materi pelajaran dalam jumlah besar dapat disimpan dalam satu perangkat digital seperti ponsel atau tablet.
Ia pun memperkirakan, seiring kemajuan teknologi, bukan tidak mungkin aktivitas menulis dengan tangan akan hilang dari ruang-ruang kelas dalam beberapa dekade ke depan. Inggris, menurutnya, bahkan memprediksi bahwa pada tahun 2030 tidak ada lagi tulisan tangan dalam sistem pembelajaran.
"Kita harus siapkan gurunya sekarang, mengubah kurikulum universitas. Diubah cara mengajarnya. Sekarang orang di banyak negara tidak ada lagi yang nama PR (pekerjaan rumah), karena tidak ada gunanya lagi," tegasnya.
JK menekankan bahwa untuk menghadapi tantangan era AI, para pendidik perlu membekali diri dengan kemampuan berpikir logis dan membangun common sense. Dengan kemampuan tersebut, guru bisa mendampingi siswa dalam menyaring informasi yang diperoleh melalui AI.
"AI mempunyai suatu yang sangat baik tapi juga sangat buruk. Baik untuk mendapatkan informasi, tapi buruknya apabila bisa menimbulkan efek psikologis pada siswa," tambahnya.
Sementara Ketua Umum PB PGRI Prof Unifah Rosyidi mengatakan, PGRI menyambut baik integrasi koding dan AI dalam kurikulum sebagai bentuk respons terhadap perkembangan teknologi.
Namun, katanya, penguatan literasi digital ini harus disertai pelatihan berkelanjutan bagi guru, pengembangan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di sekolah-sekolah, serta penyusunan materi ajar yang relevan dengan konteks lokal.
"Kami mengingatkan agar transformasi digital tidak menghasilkan kesenjangan baru antarwilayah dan satuan pendidikan. Pembelajaran teknologi akan berhasil diterapkan dengan dukungan sumberdaya manusia yang baik, dan jaringan infrastruktur TIK yang merata di seluruh Tanah Air," imbuhnya.
PGRI menekankan bahwa integrasi koding dan AI tidak dapat dilakukan secara instan atau bersifat seremonial. Kurikulum digital harus dibangun berdasarkan filosofi pedagogi yang kuat, tidak hanya berdasarkan tren global.
"Oleh sebab itu, perlu disusun kerangka kerja nasional penguatan kompetensi digital berbasis jenjang dan jenis mata pelajaran, disertai digital roadmap untuk sekolah, guru, dan peserta didik. PGRI siap menjadi mitra dalam menyusun model pelatihan guru coding dan AI yang berbasis praktik, lintas mata pelajaran, dan kontekstual dengan kehidupan siswa," pungkasnya.
Ia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi saat ini telah memberikan dampak signifikan pada sektor pendidikan. Pengetahuan teoritis yang sebelumnya hanya bisa diperoleh melalui buku atau pengajaran di kelas, kini sudah sangat mudah diakses siswa dengan bantuan teknologi AI.
"Sekarang kalau bapak ibu guru mengajar sejarah, ekonomi, geografi, muridnya bisa jadi lebih pintar dari guru. Jadi, guru mesti lebih pintar dari murid. Bagaimana dalam situasi seperti ini terjadi pembelajaran yang baik," ujar JK saat memberikan sambutan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang berlangsung di Jakarta, Sabtu (28/6/2025).
JK menambahkan, jika dahulu siswa harus membawa banyak buku pelajaran ke sekolah, saat ini seluruh materi pelajaran dalam jumlah besar dapat disimpan dalam satu perangkat digital seperti ponsel atau tablet.
Ia pun memperkirakan, seiring kemajuan teknologi, bukan tidak mungkin aktivitas menulis dengan tangan akan hilang dari ruang-ruang kelas dalam beberapa dekade ke depan. Inggris, menurutnya, bahkan memprediksi bahwa pada tahun 2030 tidak ada lagi tulisan tangan dalam sistem pembelajaran.
"Kita harus siapkan gurunya sekarang, mengubah kurikulum universitas. Diubah cara mengajarnya. Sekarang orang di banyak negara tidak ada lagi yang nama PR (pekerjaan rumah), karena tidak ada gunanya lagi," tegasnya.
JK menekankan bahwa untuk menghadapi tantangan era AI, para pendidik perlu membekali diri dengan kemampuan berpikir logis dan membangun common sense. Dengan kemampuan tersebut, guru bisa mendampingi siswa dalam menyaring informasi yang diperoleh melalui AI.
"AI mempunyai suatu yang sangat baik tapi juga sangat buruk. Baik untuk mendapatkan informasi, tapi buruknya apabila bisa menimbulkan efek psikologis pada siswa," tambahnya.
Sementara Ketua Umum PB PGRI Prof Unifah Rosyidi mengatakan, PGRI menyambut baik integrasi koding dan AI dalam kurikulum sebagai bentuk respons terhadap perkembangan teknologi.
Namun, katanya, penguatan literasi digital ini harus disertai pelatihan berkelanjutan bagi guru, pengembangan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di sekolah-sekolah, serta penyusunan materi ajar yang relevan dengan konteks lokal.
"Kami mengingatkan agar transformasi digital tidak menghasilkan kesenjangan baru antarwilayah dan satuan pendidikan. Pembelajaran teknologi akan berhasil diterapkan dengan dukungan sumberdaya manusia yang baik, dan jaringan infrastruktur TIK yang merata di seluruh Tanah Air," imbuhnya.
PGRI menekankan bahwa integrasi koding dan AI tidak dapat dilakukan secara instan atau bersifat seremonial. Kurikulum digital harus dibangun berdasarkan filosofi pedagogi yang kuat, tidak hanya berdasarkan tren global.
"Oleh sebab itu, perlu disusun kerangka kerja nasional penguatan kompetensi digital berbasis jenjang dan jenis mata pelajaran, disertai digital roadmap untuk sekolah, guru, dan peserta didik. PGRI siap menjadi mitra dalam menyusun model pelatihan guru coding dan AI yang berbasis praktik, lintas mata pelajaran, dan kontekstual dengan kehidupan siswa," pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :