Cerita Sitti, Mahasiswa UGM Penerima Beasiswa Freeport Siap Mengabdi di Bidang Kehutanan
Senin, 30 Juni 2025 - 19:13 WIB
loading...
Sitti Aminah Muslimah (21), mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), menjadi salah satu penerima program beasiswa dari PT Freeport Indonesia. Foto/UGM.
A
A
A
JAKARTA - Sitti Aminah Muslimah (21), mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada ( UGM ), menjadi salah satu penerima program beasiswa dari PT Freeport Indonesia. Mahasiswi asal Jayapura, Papua, ini menempuh pendidikan di Departemen Manajemen Hutan UGM dengan tekad untuk kembali membangun daerah asalnya.
Lahir dari keluarga sederhana keturunan Bugis, ayahnya bekerja sebagai petani, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. “Saya ingin menambah wawasan dan pengalaman dengan kuliah di luar Papua,” ujar Sitti, melansir laman UGM, Senin (30/6/2025).
Baca juga: Tak Mampu Les, Anak Pedagang Asongan Ini Lolos UGM dan Jadi Sarjana Pertama di Keluarganya
Keputusan menjadi mahasiswa UGM didorong oleh keinginannya menimba ilmu di universitas terbaik di Indonesia. Ia memilih jurusan kehutanan karena melihat potensi besar sumber daya alam Papua yang belum tergarap optimal. Selain itu, ia merasa bidang kehutanan menawarkan peluang kerja yang luas sekaligus berkontribusi pada pelestarian alam. “Saya lebih suka kegiatan di luar ruangan, dan bidang kehutanan di Papua masih sangat terbuka,” jelasnya.
Sebelum mendapatkan beasiswa, Sitti sempat menghadapi kesulitan biaya kuliah. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, ia memikul tanggung jawab besar terhadap pendidikan dirinya dan adik-adiknya. Kehadiran beasiswa dari PT Freeport Indonesia sangat membantu. “Alhamdulillah, beasiswa ini meringankan beban orang tua saya,” ungkapnya.
Baca juga: Anak Pedagang Cireng Lolos UGM Tanpa Tes, Raih Beasiswa UKT Rp0
Sitti memperoleh beasiswa sejak semester tiga melalui proses seleksi administratif oleh Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) UGM, tanpa tes tertulis atau wawancara. Terpilih karena asal daerah dan prestasi akademik, ia mengaku tidak menyangka bisa lolos karena belum pernah menerima beasiswa sebelumnya. “Saya sangat bersyukur saat dihubungi Ditmawa,” katanya.
Dengan dukungan beasiswa ini, Uang Kuliah Tunggal (UKT) sepenuhnya ditanggung Freeport, sehingga Sitti dapat fokus pada kuliah dan kegiatan organisasi. Dana yang sebelumnya dialokasikan untuk UKT kini bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan praktikum dan sehari-hari. “Biaya praktikum cukup mahal, jadi saya sangat terbantu,” ujarnya.
Baca juga: Kisah Varen, Anak Pedagang di Kantin SD yang Lolos UGM Tanpa Bayar UKT
Meskipun beasiswa tidak mencakup uang saku, Sitti justru semakin terpacu menjaga prestasi akademik agar tetap memenuhi syarat penerima beasiswa. Ia aktif dalam berbagai organisasi seperti KMMH dan KMIH. “Beasiswa ini memotivasi saya untuk lebih serius belajar,” tuturnya.
Selain itu, ia tidak lagi perlu bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliah. Fokusnya kini tertuju pada menyelesaikan studi tepat waktu, termasuk menjadi asisten praktikum dan terlibat dalam riset. “Saya bisa kuliah tenang tanpa bekerja sambilan,” tambahnya.
Yang membedakan beasiswa Freeport dengan program lain, menurut Sitti, adalah komitmen untuk mendampingi mahasiswa hingga lulus, tanpa batas waktu delapan semester. Hal ini membuat penerima lebih tenang menjalani studi. “Saya yakin Freeport akan mendukung kami sampai lulus,” ujarnya.
Walau belum ada pembinaan rutin dari Freeport, Sitti tetap merasa bangga menjadi bagian dari komunitas penerima beasiswa. Ia berharap ke depan ada ruang kolaborasi antarpenerima beasiswa agar dapat saling berbagi pengalaman. “Saya bangga dipercaya dan merasa bagian dari sesuatu yang besar,” katanya.
Setelah lulus, Sitti ingin bekerja di bidang kehutanan, khususnya sektor reklamasi dan pengelolaan sumber daya alam di Papua. Ia juga terbuka untuk melanjutkan studi S2 jika mendapat peluang. Tugas akhirnya saat ini fokus pada penelitian simpanan karbon pohon jati di Desa Pacarjo, Gunungkidul. “Penelitian ini bagian dari kontribusi untuk mitigasi perubahan iklim,” jelasnya.
Lahir dari keluarga sederhana keturunan Bugis, ayahnya bekerja sebagai petani, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. “Saya ingin menambah wawasan dan pengalaman dengan kuliah di luar Papua,” ujar Sitti, melansir laman UGM, Senin (30/6/2025).
Baca juga: Tak Mampu Les, Anak Pedagang Asongan Ini Lolos UGM dan Jadi Sarjana Pertama di Keluarganya
Keputusan menjadi mahasiswa UGM didorong oleh keinginannya menimba ilmu di universitas terbaik di Indonesia. Ia memilih jurusan kehutanan karena melihat potensi besar sumber daya alam Papua yang belum tergarap optimal. Selain itu, ia merasa bidang kehutanan menawarkan peluang kerja yang luas sekaligus berkontribusi pada pelestarian alam. “Saya lebih suka kegiatan di luar ruangan, dan bidang kehutanan di Papua masih sangat terbuka,” jelasnya.
Sebelum mendapatkan beasiswa, Sitti sempat menghadapi kesulitan biaya kuliah. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, ia memikul tanggung jawab besar terhadap pendidikan dirinya dan adik-adiknya. Kehadiran beasiswa dari PT Freeport Indonesia sangat membantu. “Alhamdulillah, beasiswa ini meringankan beban orang tua saya,” ungkapnya.
Baca juga: Anak Pedagang Cireng Lolos UGM Tanpa Tes, Raih Beasiswa UKT Rp0
Sitti memperoleh beasiswa sejak semester tiga melalui proses seleksi administratif oleh Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) UGM, tanpa tes tertulis atau wawancara. Terpilih karena asal daerah dan prestasi akademik, ia mengaku tidak menyangka bisa lolos karena belum pernah menerima beasiswa sebelumnya. “Saya sangat bersyukur saat dihubungi Ditmawa,” katanya.
Dengan dukungan beasiswa ini, Uang Kuliah Tunggal (UKT) sepenuhnya ditanggung Freeport, sehingga Sitti dapat fokus pada kuliah dan kegiatan organisasi. Dana yang sebelumnya dialokasikan untuk UKT kini bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan praktikum dan sehari-hari. “Biaya praktikum cukup mahal, jadi saya sangat terbantu,” ujarnya.
Baca juga: Kisah Varen, Anak Pedagang di Kantin SD yang Lolos UGM Tanpa Bayar UKT
Meskipun beasiswa tidak mencakup uang saku, Sitti justru semakin terpacu menjaga prestasi akademik agar tetap memenuhi syarat penerima beasiswa. Ia aktif dalam berbagai organisasi seperti KMMH dan KMIH. “Beasiswa ini memotivasi saya untuk lebih serius belajar,” tuturnya.
Selain itu, ia tidak lagi perlu bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliah. Fokusnya kini tertuju pada menyelesaikan studi tepat waktu, termasuk menjadi asisten praktikum dan terlibat dalam riset. “Saya bisa kuliah tenang tanpa bekerja sambilan,” tambahnya.
Yang membedakan beasiswa Freeport dengan program lain, menurut Sitti, adalah komitmen untuk mendampingi mahasiswa hingga lulus, tanpa batas waktu delapan semester. Hal ini membuat penerima lebih tenang menjalani studi. “Saya yakin Freeport akan mendukung kami sampai lulus,” ujarnya.
Walau belum ada pembinaan rutin dari Freeport, Sitti tetap merasa bangga menjadi bagian dari komunitas penerima beasiswa. Ia berharap ke depan ada ruang kolaborasi antarpenerima beasiswa agar dapat saling berbagi pengalaman. “Saya bangga dipercaya dan merasa bagian dari sesuatu yang besar,” katanya.
Setelah lulus, Sitti ingin bekerja di bidang kehutanan, khususnya sektor reklamasi dan pengelolaan sumber daya alam di Papua. Ia juga terbuka untuk melanjutkan studi S2 jika mendapat peluang. Tugas akhirnya saat ini fokus pada penelitian simpanan karbon pohon jati di Desa Pacarjo, Gunungkidul. “Penelitian ini bagian dari kontribusi untuk mitigasi perubahan iklim,” jelasnya.
(nnz)
Lihat Juga :