Orang Tua Wajib Tahu, PAUD Bukan Sekadar Tempat Bermain, tapi Pondasi Belajar

Senin, 30 Juni 2025 - 19:25 WIB
loading...
Orang Tua Wajib Tahu,...
Sejumlah riset tentang otak menunjukkan bahwa fondasi penting dalam kehidupan manusia bukan lagi berada di usia sekolah dasar. Foto/Tanoto Foundation.
A A A
JAKARTA - Sejumlah riset tentang otak menunjukkan bahwa fondasi penting dalam kehidupan manusia bukan lagi berada di usia sekolah dasar. Periode awal individu yakni di umur 1-5 tahun justru menjadi fase vital dalam tumbuh kembang manusia.

Ketua Early Childhood Education and Development (ECED) Indonesia sekaligus Rektor Universitas YARSI, Prof. Fasli Jalal menjelaskan dalam studi selama 30 tahun terakhir, perkembangan otak manusia dapat dipetakan secara jelas.

Dari studi tersebut terlihat bahwa tumbuh kembang manusia ditentukan oleh kesiapan otak yang dibangun sejak dalam kandungan, tepatnya pada minggu keempat kehamilan sang ibu.

“Ketika proses itu, kecepatan pembentukan sel saraf mencapai 250 ribu sel per detik. Kalau ada gangguan pada ibu atau lingkungannya, jumlahnya tinggal 70-80 persen saja. Kalau (perkembangan otak) ini kuat, didukung gizi dan ekosistem yang baik, anak yang lahir memiliki 100 miliar sel otak. Ini potensi luar biasa,” papar Fasli, melalui siaran pers, Senin (30/6/2025).

Proses perkembangan otak yang optimal berlangsung pada 1.000 hari pertama setelah dilahirkan. Namun tumbuh kembang anak secara utuh juga ditentukan berbagai dukungan, antara lain asupan gizi, dukungan kesehatan, pola pengasuhan, pendidikan, hingga perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan.

“Mudah-mudahan 73 juta keluarga di Indonesia bisa memahami hal ini,” ujar Fasli.

Di masa tumbuh kembang ini, kebutuhan anak harus dipenuhi secara holistik. Namun yang tak kalah penting, bukan hanya dipenuhi nutrisi dan gizinya untuk mendukung kebutuhan fisik, seorang anak usia dini juga mesti diberi stimulasi dan interaksi yang memacu tumbuh kembang aspek motorik, kognitif, bahasa, dan sosio-emosionalnya.

Fasli kembali menunjukkan studi bahwa seorang anak yang terus diberi stimulasi oleh orang tuanya, kendati ia kekurangan asupan makanan bergizi, anak tersebut dapat tumbuh mendekati normal. Kondisi ini biasanya dialami keluarga yang berada di garis kemiskinan.

“Di tengah keterbatasan, orang tua yang mengerti prinsip-prinsip stimulasi, kecerdasan anak dapat dilejitkan meski berat badannya rendah atau mengalami stunting,” kata Fasli yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2013-2015.

Maklum saja, banyak orang tua belum memahami prinsip-prinsip stimulasi pada anak usia dini. Hal ini bahkan mesti diberikan sejak anak dalam kandungan saat indera-inderanya mulai terbentuk. Misalnya mulai mengajak bayi berbicara untuk merangsang indera pendengarannya.

Setelah bayi lahir, stimulasi indera penglihatan dan perabaan dapat dilakukan dengan mengenalkan warna dan bentuk. Anak juga dikenalkan makanan yang sehat untuk melatih indera pengecap.

Merujuk pada sebuah riset, Fasli mengungkap banyak-sedikitnya kosakata yang dikuasai seorang anak dengan rentang 3.000 hingga 30.000 kata tergantung dari stimulasi orang tuanya yang mengajak si anak berbicara.

“Otak anak seperti gabus. Kalau gabus asli, air seember pun akan terserap. Kalau gabusnya KW (palsu), segelas saja sudah tumpah. Jika bagus gizi, pendidikan , perlindungan, dan pengisian pengetahuannya, otak anak bisa cemerlang. Tak ada istilah cukup untuk menstimulasi anak,” ujarnya.

PAUD Ideal Tak Harus Mahal


Prinsip-prinsip stimulasi tersebut menjadi landasan pendidikan anak usia dini (PAUD) sekaligus upaya pemenuhan hak anak secara ideal.

Fitriana Herarti, ECED Ecosystem Development Lead Tanoto Foundation, menekankan, pemenuhan hak anak, terutama dalam pendidikan, merupakan tugas semua pihak, dari orang tua, masyarakat, pemerintah, dan mitra pembangunan, seperti lembaga filantropi Tanoto Foundation.

“Dengan panduan jelas dari pemerintah, kita harus memastikan semua pihak berkomitmen dalam tumbuh kembang anak usia dini. Seperti pepatah dari Afrika Selatan, butuh satu kampung untuk membesarkan satu orang anak,” ujarnya.

Untuk itu, ia mendorong setiap keluarga berperan aktif dalam memberikan stimulasi dan pendidikan bagi anak usia dini. Ia berharap tak ada orang tua memberikan pola asuh yang keliru atas nama cinta pada anaknya. Sebagai contoh, orang tua terus memberi bubur pada anak usia satu tahun. Padahal anak sudah bisa mengonsumsi makanan lainnya seperti nasi untuk melatih lidah dan rahangnya.

Ada pula orang tua yang tak mengajak anaknya bicara karena dianggap si bocah masih terlalu kecil untuk berbincang. Padahal sejak usia satu tahun seorang bayi sudah mulai menyerap kata-kata yang ia dengar.

“Itu hal-hal dasar dan bagian dari stimulasi yang harus dipahami, sambil terus mendorong akses gizi dan kesehatan. Kita terus mengedukasi peran keluarga pada anak usia dini,” kata Fitriana.

Orang tua juga mesti mulai sadar terhadap pentingnya PAUD. Apalagi saat ini PAUD telah masuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebagai program Wajib Belajar 13 tahun.

Namun pemahaman tentang PAUD juga harus dikuatkan mengingat masih ada orang tua yang enggan menyediakan PAUD bagi anak karena menganggap kegiatan PAUD hanya bermain-main, bukan belajar.

“Padahal PAUD itu memang pendekatannya bermain. Bermain bagi anak usia dini adalah belajar,” jelasnya.

Di sisi lain juga mengemuka kesalahpahaman bahwa PAUD tak mengajarkan baca, tulis, dan hitung (calistung). Padahal, calistung boleh saja diajarkan ke anak usia dini namun disesuaikan dengan pemahaman anak.
Misalnya pelajaran membaca dan berhitung tidak langsung menggunakan abjad dan angka, melainkan dengan permainan dan pengetahuan benda di sekitar.

Selain pemahaman-pemahaman tersebut, orang tua juga mesti bijak dalam memberikan PAUD, terutama dari aspek sekolah atau lembaga penyelenggara PAUD. Orang tua dapat melakukan observasi, mempertimbangkan interaksi guru, dan kenyamanan anak dalam memilih sekolah PAUD.

Fasli menambahkan semua orang tua sesungguhnya harus siap menjadi guru PAUD dan memahami prinsip-prinsip dasar PAUD. Ketika memasukkan anak ke layanan PAUD, hal itu bukan ditentukan oleh biayanya yang mahal, melainkan oleh kapasitas dan profesionalitas guru-gurunya.

Menurutnya, guru PAUD harus mampu mengembangkan aspek sosio-emosional, kognitif, motorik, dan bahasa si anak secara menyenangkan. “Dengan begitu, anak tumbuh sesuai bakat dan minatnya. Tidak usah terpaku biaya. Biaya bisa disesuaikan,” ujarnya.
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perjuangan Teuku Feroz...
Perjuangan Teuku Feroz Bantu Anak Aceh Tembus Kampus Top Nasional
Buku “Misi untuk Raka”...
Buku Misi untuk Raka Diluncurkan, Edukasi Anak Usia Dini agar Seru Tanpa Gawai
Tanoto Foundation Fellowship...
Tanoto Foundation Fellowship 2026 Kembali Dibuka, Cek Persyaratannya
Kemendikdasmen Gandeng...
Kemendikdasmen Gandeng Mitra Global Perkuat Literasi dan Numerasi Nasional
Profil Faris Budiman...
Profil Faris Budiman Annas, Dosen yang Kampanyekan Literasi Kesehatan Anak Lewat Animasi
Trehaus School Dorong...
Trehaus School Dorong Pembelajaran Sosial-Emosional Anak Usia Dini
Membangun Kembali Senyum...
Membangun Kembali Senyum Pasirlangu, Jejak Hangat LG di Masa Pemulihan
Dari Tanah Liat di Pedalaman...
Dari Tanah Liat di Pedalaman NTT, Srikandi Heroik Tumbuhkan Numerasi Anak Usia Dini
Pintu Masuk Belajar,...
Pintu Masuk Belajar, Orang Tua Harus Tahu Apa Itu Sensori Anak
Rekomendasi
Serangan Israel ke Lebanon...
Serangan Israel ke Lebanon Bisa Gagalkan Perdamaian AS dan Iran, Ini 3 Alasannya
The Rain Ajak Pengunjung...
The Rain Ajak Pengunjung PRJ 2026 Bernostalgia lewat Lagu 'Di Perantauan'
PRJ 2026 Pecah! Wali...
PRJ 2026 Pecah! Wali Ajak Penonton Nyanyi dan Joget Bareng
Berita Terkini
MNC University Bahas...
MNC University Bahas Masa Depan Produksi Iklan di Era AI melalui Talkshow KRUFEST
UNJ Expo 2026 Dibuka,...
UNJ Expo 2026 Dibuka, Hadirkan Pameran Inovasi, Tes Kesehatan, hingga Kuliner Nusantara
Mensos: Rekrutmen Guru...
Mensos: Rekrutmen Guru Sekolah Rakyat 2026 Capai 5.000 Orang
Menag: Insentif Guru...
Menag: Insentif Guru Madrasah Non-ASN Akan Cair Akhir Juni 2026
Jadwal TKA SMA 2026...
Jadwal TKA SMA 2026 Resmi Dirilis, Simak Tips Jitu Raih Nilai Tertinggi
KIP Kuliah Jalur Seleksi...
KIP Kuliah Jalur Seleksi Mandiri PTN dan PTS 2026 Resmi Dibuka, Daftar di Link Ini
Infografis
5 Hal Wajib Diketahui...
5 Hal Wajib Diketahui Bagi Kamu yang Ingin Belajar di Eropa
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved