Universitas Brawijaya Jadi Kampus Pertama di Indonesia Kirim Tim Dokter ke Gaza
Sabtu, 05 Juli 2025 - 23:19 WIB
loading...
A
A
A
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, menyampaikan bahwa kehadiran tim dokter ini menjadi bukti nyata bahwa ilmu pengetahuan harus berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan, terutama di saat dunia menghadapi krisis.
“Pada dua saudraku yang akan berangkat, berangkatlah dengan ikhlas tegakkan kemanusiaan dengan ilmu, pulanglah dengan selamat membawa cahaya dan harapan bagi kita semua. Kita mungkin tidak mampu menghentikan semua perang, tapi kita bisa mengirim harapan dan penyembuh dan hari ini kita kirim cahaya orang-orang terbaik kita ke Gaza untuk kemanusiaan,” katanya.
Baca juga: Otoritas Swiss Tutup Yayasan Kemanusiaan Gaza yang Kontroversial
Salah satu relawan, dr. Ristiawan, menjelaskan bahwa ia tergabung dalam Tim UB Palestine Solidarity dan menjalin kolaborasi dengan BSMI yang bekerja sama dengan Rahmah Worldwide, organisasi yang fokus pada bantuan kemanusiaan ke Palestina, termasuk dalam bidang kesehatan.
“Kalau saya merasa terpanggil karena ini ada peluang bagi kemanusiaan. Kebetulan saya punya keahlian di bidang kesehatan sebagai dokter anestesi. Jadi saya pikir kalau di area korban situasi konflik perang begitu pasti banyak tindakan di kamar operasi baik UGD maupun ICU,” ujar dr. Ristiawan.
Relawan akan menghadapi tantangan berat, seperti proses penyaringan alat medis oleh pasukan Israel (IDF) serta kondisi logistik yang terbatas. Karena itu, para dokter telah mendapat pembekalan mental dan fisik sebelum berangkat.
“Pada dua saudraku yang akan berangkat, berangkatlah dengan ikhlas tegakkan kemanusiaan dengan ilmu, pulanglah dengan selamat membawa cahaya dan harapan bagi kita semua. Kita mungkin tidak mampu menghentikan semua perang, tapi kita bisa mengirim harapan dan penyembuh dan hari ini kita kirim cahaya orang-orang terbaik kita ke Gaza untuk kemanusiaan,” katanya.
Baca juga: Otoritas Swiss Tutup Yayasan Kemanusiaan Gaza yang Kontroversial
Salah satu relawan, dr. Ristiawan, menjelaskan bahwa ia tergabung dalam Tim UB Palestine Solidarity dan menjalin kolaborasi dengan BSMI yang bekerja sama dengan Rahmah Worldwide, organisasi yang fokus pada bantuan kemanusiaan ke Palestina, termasuk dalam bidang kesehatan.
“Kalau saya merasa terpanggil karena ini ada peluang bagi kemanusiaan. Kebetulan saya punya keahlian di bidang kesehatan sebagai dokter anestesi. Jadi saya pikir kalau di area korban situasi konflik perang begitu pasti banyak tindakan di kamar operasi baik UGD maupun ICU,” ujar dr. Ristiawan.
Relawan akan menghadapi tantangan berat, seperti proses penyaringan alat medis oleh pasukan Israel (IDF) serta kondisi logistik yang terbatas. Karena itu, para dokter telah mendapat pembekalan mental dan fisik sebelum berangkat.
Lihat Juga :