Kisah Nitya, Doktor Termuda IPB yang Ciptakan Inovasi Deteksi Kerusakan Lingkungan
Kamis, 10 Juli 2025 - 15:00 WIB
loading...
A
A
A
Di balik pencapaian akademik tersebut, tersimpan kisah hidup yang menggugah. Nitya berasal dari keluarga sederhana. Ibunya seorang guru, sementara ayahnya bekerja di pabrik teh. Namun keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan semangat keluarganya untuk mendorong pendidikan anak-anak mereka setinggi mungkin.
Selepas SMA, Nitya diterima di program studi Manajemen Hutan IPB University. Kesulitan finansial membuatnya harus mencari beasiswa agar bisa melanjutkan kuliah. Salah satu peluang yang ia incar adalah program beasiswa TELADAN dari Tanoto Foundation, sebuah program beasiswa yang dilengkapi dengan pelatihan pengembangan kepemimpinan terstruktur untuk meningkatkan soft-skill generasi muda Indonesia.
“Awalnya malah enggak kepikiran bakal diterima beasiswa Tanoto Foundation karena itu beasiswa paling diminati dan bergengsi. Sering membuat kegiatan, ada award (penghargaan), dan fellow-nya sering dibawa jalan-jalan. Sejak seleksi administrasi, wawancara, dan segala macamnya, saya merasa enggak masuk ke deretan orang-orang pintar yang layak untuk dapat beasiswa Tanoto Foundation,” kenangnya seraya tertawa.
Keraguan itu terpatahkan. Nitya diterima sebagai Tanoto Scholar dan sejak itu mendapat dukungan penuh, tidak hanya secara finansial, tetapi juga dalam bentuk pelatihan kepemimpinan, pembinaan karakter, hingga layanan konseling.
“Tanoto Foundation tidak hanya memberi dana. Mereka juga membentuk karakter, meningkatkan soft skill, membuka kesempatan berjejaring, dan membantu saya bertumbuh secara pribadi,” ujarnya.
Ia mengingat salah satu pengalaman yang paling membekas: saat indeks prestasi kumulatif (IPK)-nya sempat turun di bawah syarat minimum yaitu 3,25. “Saya sudah pasrah kalau beasiswanya akan dicabut. Tapi Tanoto Foundation memberi saya kesempatan untuk bangkit kembali,” katanya.
Nitya membuktikan diri. Semester berikutnya, IPK-nya melonjak hingga 3,7. Ia menyelesaikan studi sarjana dengan baik dan melanjutkan ke program magister Sandwich (program pendidikan atau riset untuk mahasiswa S2 atau S3 yang menggabungkan studi di dalam dan luar negeri) di IPB University dan University of Göttingen, Jerman, dan akhirnya meraih gelar doktor di usia 25 tahun.
Kini, Nitya menjadi tenaga ahli dan konsultan untuk sejumlah lembaga, termasuk di KLH.
Membalas dengan Komitmen
Selepas SMA, Nitya diterima di program studi Manajemen Hutan IPB University. Kesulitan finansial membuatnya harus mencari beasiswa agar bisa melanjutkan kuliah. Salah satu peluang yang ia incar adalah program beasiswa TELADAN dari Tanoto Foundation, sebuah program beasiswa yang dilengkapi dengan pelatihan pengembangan kepemimpinan terstruktur untuk meningkatkan soft-skill generasi muda Indonesia.
“Awalnya malah enggak kepikiran bakal diterima beasiswa Tanoto Foundation karena itu beasiswa paling diminati dan bergengsi. Sering membuat kegiatan, ada award (penghargaan), dan fellow-nya sering dibawa jalan-jalan. Sejak seleksi administrasi, wawancara, dan segala macamnya, saya merasa enggak masuk ke deretan orang-orang pintar yang layak untuk dapat beasiswa Tanoto Foundation,” kenangnya seraya tertawa.
Keraguan itu terpatahkan. Nitya diterima sebagai Tanoto Scholar dan sejak itu mendapat dukungan penuh, tidak hanya secara finansial, tetapi juga dalam bentuk pelatihan kepemimpinan, pembinaan karakter, hingga layanan konseling.
“Tanoto Foundation tidak hanya memberi dana. Mereka juga membentuk karakter, meningkatkan soft skill, membuka kesempatan berjejaring, dan membantu saya bertumbuh secara pribadi,” ujarnya.
Ia mengingat salah satu pengalaman yang paling membekas: saat indeks prestasi kumulatif (IPK)-nya sempat turun di bawah syarat minimum yaitu 3,25. “Saya sudah pasrah kalau beasiswanya akan dicabut. Tapi Tanoto Foundation memberi saya kesempatan untuk bangkit kembali,” katanya.
Nitya membuktikan diri. Semester berikutnya, IPK-nya melonjak hingga 3,7. Ia menyelesaikan studi sarjana dengan baik dan melanjutkan ke program magister Sandwich (program pendidikan atau riset untuk mahasiswa S2 atau S3 yang menggabungkan studi di dalam dan luar negeri) di IPB University dan University of Göttingen, Jerman, dan akhirnya meraih gelar doktor di usia 25 tahun.
Kini, Nitya menjadi tenaga ahli dan konsultan untuk sejumlah lembaga, termasuk di KLH.
Membalas dengan Komitmen
Lihat Juga :