Kisah Safira Nur Aini, Wisudawan Magister Termuda UGM yang Peduli Pertanian
Sabtu, 26 Juli 2025 - 17:11 WIB
loading...
Safira Nur Aini berhasil menorehkan prestasi luar biasa sebagai lulusan Magister Agronomi termuda dari Fakultas Pertanian UGM. Foto/UGM.
A
A
A
JAKARTA - Di usia yang baru menginjak 22 tahun, 7 bulan, dan 18 hari, Safira Nur Aini berhasil menorehkan prestasi luar biasa sebagai lulusan Magister Agronomi termuda dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada ( UGM ).
Ia resmi diwisuda pada Rabu (23/7) di Grha Sabha Pramana, menjadi wisudawan termuda dalam periode tersebut, jauh di bawah rata-rata usia lulusan magister yang mencapai 28 tahun 6 bulan.
Baca juga: Lulus Cumlaude dari UGM di Usia 19 Tahun, Mutiara Jadi Wisudawan Termuda
Perjalanan akademik Safira dimulai sejak usia dini. Berkat dukungan orang tuanya yang mendorong pendidikan lebih awal, ia sudah masuk SD di usia 5,5 tahun dan terus menuntaskan jenjang pendidikan lebih cepat dibanding teman-teman seangkatannya.
Sebagai perempuan muda yang berkecimpung di dunia pertanian, Safira menyatakan kebanggaannya.
Baca juga: Kisah Enggis, Wisudawan Termuda UNY Raih Gelar Doktor di Usia 25 Tahun
“Pertanian bukan sekadar soal hasil panen besar, tapi tentang menjaga keberlanjutan. Kuncinya adalah memahami alam,” ujarnya, mengutip laman UGM, Sabtu (26/7/2025).
Tumbuh besar di Desa Ngaditirto, lereng Gunung Sumbing, Temanggung, Safira terbentuk dari lingkungan agraris yang penuh tantangan. Sejak kecil ia terbiasa bersentuhan dengan tanah, tanaman, dan siklus pertanian.
Baca juga: Hendy Gilang Syahputra, Wisudawan ITS Raih Tiga Gelar di Usia 21 Tahun
Pengalaman inilah yang membentuk kepeduliannya dan membawanya menempuh studi S-1 Agronomi di UGM pada 2020, hingga akhirnya lolos program fast track magister pada 2023.
Ia memilih Magister Agronomi karena program ini memberi pemahaman menyeluruh tentang teknik budidaya, teknologi pertanian, hingga inovasi yang relevan untuk menjawab persoalan petani di lapangan.
Sambil kuliah, Safira juga aktif bekerja paruh waktu di Akademik Fakultas Pertanian UGM, pengalaman yang memperluas wawasan dan membentuk cita-cita barunya sebagai akademisi.
Tesis yang ia angkat berjudul “Potensi Tanaman untuk Bioherbisida pada Aktivitas Pertanian” menjadi bukti nyata komitmennya terhadap lingkungan.
Dibimbing oleh Dr. Dyah Weny Respatie dan Prof. Aziz Purwantoro, penelitian ini lahir dari keprihatinan akan dampak negatif herbisida kimia, dan bertujuan mencari alternatif ramah lingkungan untuk para petani.
Lebih dari sekadar prestasi akademik, Safira membawa semangat besar untuk kemajuan pertanian Indonesia. Ia berharap ilmunya dapat membantu petani di daerah asalnya dan mendorong lebih banyak perempuan mengambil peran strategis dalam sektor pangan.
Ia juga berpesan kepada generasi muda untuk aktif dalam membangun bangsa. “Pendidikan adalah bentuk bela negara. Ayo berani melangkah demi Indonesia yang lebih maju,” pesannya.
Ia resmi diwisuda pada Rabu (23/7) di Grha Sabha Pramana, menjadi wisudawan termuda dalam periode tersebut, jauh di bawah rata-rata usia lulusan magister yang mencapai 28 tahun 6 bulan.
Baca juga: Lulus Cumlaude dari UGM di Usia 19 Tahun, Mutiara Jadi Wisudawan Termuda
Perjalanan akademik Safira dimulai sejak usia dini. Berkat dukungan orang tuanya yang mendorong pendidikan lebih awal, ia sudah masuk SD di usia 5,5 tahun dan terus menuntaskan jenjang pendidikan lebih cepat dibanding teman-teman seangkatannya.
Sebagai perempuan muda yang berkecimpung di dunia pertanian, Safira menyatakan kebanggaannya.
Baca juga: Kisah Enggis, Wisudawan Termuda UNY Raih Gelar Doktor di Usia 25 Tahun
“Pertanian bukan sekadar soal hasil panen besar, tapi tentang menjaga keberlanjutan. Kuncinya adalah memahami alam,” ujarnya, mengutip laman UGM, Sabtu (26/7/2025).
Tumbuh besar di Desa Ngaditirto, lereng Gunung Sumbing, Temanggung, Safira terbentuk dari lingkungan agraris yang penuh tantangan. Sejak kecil ia terbiasa bersentuhan dengan tanah, tanaman, dan siklus pertanian.
Baca juga: Hendy Gilang Syahputra, Wisudawan ITS Raih Tiga Gelar di Usia 21 Tahun
Pengalaman inilah yang membentuk kepeduliannya dan membawanya menempuh studi S-1 Agronomi di UGM pada 2020, hingga akhirnya lolos program fast track magister pada 2023.
Ia memilih Magister Agronomi karena program ini memberi pemahaman menyeluruh tentang teknik budidaya, teknologi pertanian, hingga inovasi yang relevan untuk menjawab persoalan petani di lapangan.
Sambil kuliah, Safira juga aktif bekerja paruh waktu di Akademik Fakultas Pertanian UGM, pengalaman yang memperluas wawasan dan membentuk cita-cita barunya sebagai akademisi.
Tesis yang ia angkat berjudul “Potensi Tanaman untuk Bioherbisida pada Aktivitas Pertanian” menjadi bukti nyata komitmennya terhadap lingkungan.
Dibimbing oleh Dr. Dyah Weny Respatie dan Prof. Aziz Purwantoro, penelitian ini lahir dari keprihatinan akan dampak negatif herbisida kimia, dan bertujuan mencari alternatif ramah lingkungan untuk para petani.
Lebih dari sekadar prestasi akademik, Safira membawa semangat besar untuk kemajuan pertanian Indonesia. Ia berharap ilmunya dapat membantu petani di daerah asalnya dan mendorong lebih banyak perempuan mengambil peran strategis dalam sektor pangan.
Ia juga berpesan kepada generasi muda untuk aktif dalam membangun bangsa. “Pendidikan adalah bentuk bela negara. Ayo berani melangkah demi Indonesia yang lebih maju,” pesannya.
(nnz)
Lihat Juga :