Raih Gelar Doktor Fisika di Usia 25 Tahun, Fikhri Jadi Wisudawan Termuda S3 UGM
Kamis, 31 Juli 2025 - 21:21 WIB
loading...
Fikhri Astina Tamara menjadi wisudawan termuda program S3 UGM setelah berhasil meraih gelar doctor di usia 25 tahun 8 bulan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.80. Foto/UGM.
A
A
A
JAKARTA - Fikhri Astina Tamara menjadi wisudawan termuda pada program S3 UGM setelah berhasil meraih gelar doktor di usia 25 tahun 8 bulan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.80. Ia meraih gelar Doktor Fisika di Fakultas MIPA UGM.
Bukan dari tokoh kenamaan, perempuan asal Makassar, Sulawesi Selatan ini mengaku mendapatkan inspirasi dari kakak perempuannya untuk menyelesaikan studi di usia muda.
Baca juga: Raih Gelar Doktor, Anggota BPK Nyoman Adhi Teliti Peran PT DI dalam Pertahanan Nasional
Motivasi yang memecut dirinya hingga bisa meraih gelar doktor di usia 25 tahun adalah senyum mendiang ayahnya Ketika ia mendapat peringkat satu di kelas.
Tak lupa ia berterima kasih kepada ibu dan neneknya yang selalu mengajarkan bahwa Wanita harus memiliki daya dan kemampuan untuk mandiri dalam hidup.
"Ini selalu menjadi mindset yang terus saya bawa sepanjang hidup saya, sehingga saya selalu terdorong untuk terus belajar dan berkembang,” ujarnya.
Baca juga: Kisah Ibu dan Anak Kompak Raih Gelar Doktor Ilmu Hukum, Ini Judul Disertasinya
Sebelum melanjutkan studi doktoralnya di UGM, Fikhri mengambil pendidikan S1 di Universitas Hasanuddin dengan jurusan Fisika karena fisika menjadi salah satu mata pelajaran yang paling saya minati sejak SMP hingga SMA.
Ia juga mengaku alasannya memilih melanjutkan studi ke Program Studi Doktor Fisika di UGM adalah karena UGM menawarkan lingkungan yang ideal untuk riset yang aplikatif dan berdampak bagi masyarakat.
“Saya percaya bahwa UGM dapat memberikan lingkungan akademik yang kondusif untuk mengembangkan potensi dan memperdalam ilmu pengetahuan di bidang fisika, yang sudah saya geluti sejak jenjang S1,” katanya.
Baca juga: Kisah Nitya, Doktor Termuda IPB yang Ciptakan Inovasi Deteksi Kerusakan Lingkungan
Salah satu pengalaman menariknya selama di UGM adalah menyadari bahwa ilmu fisika yang ia pelajari telah membawa saya ke banyak tempat. Semasa studinya di UGM, ia berkesempatan untuk bisa menghadiri berbagai konferensi di Indonesia, yang tidak hanya memberinya kesempatan untuk melihat tempat baru, tetapi juga untuk memperluas jaringan dan bertemu dengan rekan-rekan yang memiliki minat serupa.
Salah satu pengalaman yang paling membekas di benak Fikhri adalah ketika ia menjadi visiting researcher di salah satu universitas terkemuka di Jepang yakni Tohoku University, Sendai, Jepang, di Graduate School of Biomedical Engineering.
Ia mengatakan bahwa pengalaman risetnya selama di sana sangatlah berharga, dan mendapatkan wawasan baru dalam penelitian dan kolaborasi.
Maka dari itu, salah satu cara Fikhri untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan akademik dan pribadinya adalah dengan memadatkan jadwal dan memastikan bahwa setiap hari memiliki sesuatu yang ditunggu.
Baca juga: 2 Petinju yang Punya Gelar S3: Siapa Saja?
Dengan membuat jadwal yang tidak hanya untuk tugas-tugas akademik, tetapi juga untuk kegiatan sosial, ia memiliki cara untuk tidak menunda tugas-tugasnya.
“Dengan cara ini, saya bisa tetap fokus pada tugas akademik sambil menikmati momen sosial. Ini juga membantu saya menghindari stres berkepanjangan, karena keseimbangan tersebut membuat saya tetap produktif,” katanya.
Fikhri berpesan untuk mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan studinya untuk selalu menjaga semangat dan fokus pada tujuan. Terkadang, perjalanan akademik bisa terasa berat dan penuh tantangan, namun Fikhri mengingatkan bahwa setiap langkah kecil yang kita ambil menuju tujuan adalah bagian dari proses yang berharga.
“Cobalah untuk tidak terlalu terbebani dengan hasil instan, tetapi nikmati setiap proses belajarnya,” pesannya.
Rasa senang dan haru datang ketika mengetahui bahwa ia merupakan wisudawan termuda dengan IPK 3.80. Fikhri mengaku memiliki prinsip bahwa semakin cepat ia berproses, semakin banyak kesempatan yang bisa diraih.
“Meskipun terkadang banyak halangan yang menghadang di jalan kita, namun karena semuanya dimulai lebih cepat, kita jadi memiliki waktu lebih untuk terus memperbaiki diri dan memikirkan solusi atas masalah yang kita hadapi,”pungkasnya.
Bukan dari tokoh kenamaan, perempuan asal Makassar, Sulawesi Selatan ini mengaku mendapatkan inspirasi dari kakak perempuannya untuk menyelesaikan studi di usia muda.
Keluarga Jadi Inspirasi
“Melihat bagaimana kakak saya menjalani pendidikannya dengan penuh dedikasi dan menjadi sukses, saya merasa termotivasi untuk terus melangkah maju dan menyelesaikan studi saya dengan cara yang sama,”katanya, mengutip laman UGM, Kamis (31/7/2025).Baca juga: Raih Gelar Doktor, Anggota BPK Nyoman Adhi Teliti Peran PT DI dalam Pertahanan Nasional
Motivasi yang memecut dirinya hingga bisa meraih gelar doktor di usia 25 tahun adalah senyum mendiang ayahnya Ketika ia mendapat peringkat satu di kelas.
Tak lupa ia berterima kasih kepada ibu dan neneknya yang selalu mengajarkan bahwa Wanita harus memiliki daya dan kemampuan untuk mandiri dalam hidup.
"Ini selalu menjadi mindset yang terus saya bawa sepanjang hidup saya, sehingga saya selalu terdorong untuk terus belajar dan berkembang,” ujarnya.
Baca juga: Kisah Ibu dan Anak Kompak Raih Gelar Doktor Ilmu Hukum, Ini Judul Disertasinya
Kepincut dengan Fisika
Sebelum melanjutkan studi doktoralnya di UGM, Fikhri mengambil pendidikan S1 di Universitas Hasanuddin dengan jurusan Fisika karena fisika menjadi salah satu mata pelajaran yang paling saya minati sejak SMP hingga SMA.
Ia juga mengaku alasannya memilih melanjutkan studi ke Program Studi Doktor Fisika di UGM adalah karena UGM menawarkan lingkungan yang ideal untuk riset yang aplikatif dan berdampak bagi masyarakat.
“Saya percaya bahwa UGM dapat memberikan lingkungan akademik yang kondusif untuk mengembangkan potensi dan memperdalam ilmu pengetahuan di bidang fisika, yang sudah saya geluti sejak jenjang S1,” katanya.
Baca juga: Kisah Nitya, Doktor Termuda IPB yang Ciptakan Inovasi Deteksi Kerusakan Lingkungan
Salah satu pengalaman menariknya selama di UGM adalah menyadari bahwa ilmu fisika yang ia pelajari telah membawa saya ke banyak tempat. Semasa studinya di UGM, ia berkesempatan untuk bisa menghadiri berbagai konferensi di Indonesia, yang tidak hanya memberinya kesempatan untuk melihat tempat baru, tetapi juga untuk memperluas jaringan dan bertemu dengan rekan-rekan yang memiliki minat serupa.
Salah satu pengalaman yang paling membekas di benak Fikhri adalah ketika ia menjadi visiting researcher di salah satu universitas terkemuka di Jepang yakni Tohoku University, Sendai, Jepang, di Graduate School of Biomedical Engineering.
Ia mengatakan bahwa pengalaman risetnya selama di sana sangatlah berharga, dan mendapatkan wawasan baru dalam penelitian dan kolaborasi.
Kunci Rahasia
Berhasil menyelesaikan studi di usia yang muda dalam waktu 2 tahun 10 bulan tidaklah mudah bagi Fikhri. Terlebih, ia juga berhasil menjadi wisudawan dengan IPK yang tinggi.Maka dari itu, salah satu cara Fikhri untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan akademik dan pribadinya adalah dengan memadatkan jadwal dan memastikan bahwa setiap hari memiliki sesuatu yang ditunggu.
Baca juga: 2 Petinju yang Punya Gelar S3: Siapa Saja?
Dengan membuat jadwal yang tidak hanya untuk tugas-tugas akademik, tetapi juga untuk kegiatan sosial, ia memiliki cara untuk tidak menunda tugas-tugasnya.
“Dengan cara ini, saya bisa tetap fokus pada tugas akademik sambil menikmati momen sosial. Ini juga membantu saya menghindari stres berkepanjangan, karena keseimbangan tersebut membuat saya tetap produktif,” katanya.
Fikhri berpesan untuk mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan studinya untuk selalu menjaga semangat dan fokus pada tujuan. Terkadang, perjalanan akademik bisa terasa berat dan penuh tantangan, namun Fikhri mengingatkan bahwa setiap langkah kecil yang kita ambil menuju tujuan adalah bagian dari proses yang berharga.
“Cobalah untuk tidak terlalu terbebani dengan hasil instan, tetapi nikmati setiap proses belajarnya,” pesannya.
Rasa senang dan haru datang ketika mengetahui bahwa ia merupakan wisudawan termuda dengan IPK 3.80. Fikhri mengaku memiliki prinsip bahwa semakin cepat ia berproses, semakin banyak kesempatan yang bisa diraih.
“Meskipun terkadang banyak halangan yang menghadang di jalan kita, namun karena semuanya dimulai lebih cepat, kita jadi memiliki waktu lebih untuk terus memperbaiki diri dan memikirkan solusi atas masalah yang kita hadapi,”pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :