Menkeu Sri Mulyani: Skema Super Tax Deduction Tarik 224 Proposal Riset Senilai Rp1,46 Triliun
Kamis, 07 Agustus 2025 - 15:46 WIB
loading...
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di acara Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025. Foto/Diktisaintek.
A
A
A
BANDUNG - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa kebijakan insentif pajak untuk penelitian dan pengembangan atau super tax deduction telah menarik perhatian dunia industri.
“Kami menyediakan instrumen fiskal dalam bentuk tax incentive untuk penelitian. Yang disebut super tax deduction dalam hal ini, kegiatan penelitian, pengembangan, dan juga di bidang sains ini,”kata Sri Mulyani saat memberikan sambutan dalam acara Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025.
"Saat ini sudah ada 30 wajib pajak yang mengajukan 224 proposal yang estimasinya mencapai Rp1,46 triliun," lanjutnya.
Baca juga: KSTI 2025 Jadi Ajang Penyusunan Peta Jalan Riset dan Inovasi Teknologi Nasional
Mekanisme insentif ini memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan pengurangan pajak hingga tiga kali lipat dari dana yang dikeluarkan untuk kegiatan riset dan pengembangan.
“Kalau ada wajib pajak perusahaan, saya harap di sini ada industri yang akan mengeluarkan untuk biaya penelitian, untuk produknya, untuk pengembangan. Kalau dia mengeluarkan Rp1 miliar, mereka bisa mendeduct tiga kali lipatnya untuk pengurangan pajak. Jadi kalau dia mengeluarkan Rp1 miliar, bisa mendeduct Rp3 miliar untuk pengenaan pajaknya,” jelasnya.
Baca juga: Momen Presiden Prabowo Sapa Menteri Sambil Sebut Almamater Kampus Mereka di KSTI 2025
Sri Mulyani juga mendorong para peneliti agar bersikap lebih proaktif dan menjalin kolaborasi dengan sektor industri.
“Saya berharap Bapak dan Ibu sekalian peneliti juga agak entrepreneurial. Ajak aja industri, terus bilang, ‘Eh kalau kamu bener ini ama saya, kamu mengeluarkan Rp1 miliar, you can deduct triple dari pajak Anda’. Itu kan malah untung kan mestinya ya,” ujarnya.
Menurut Sri Mulyani, sinergi antara peneliti dan industri penting untuk mempercepat inovasi dan mendorong transformasi ekonomi berbasis pengetahuan. Pemerintah, lanjutnya, terus menyediakan berbagai dukungan, termasuk beasiswa dan pendanaan riset.
“Saya rasa itu yang kami bisa lakukan untuk mendukung seluruh upaya dari Ibu Bapak sekalian. Beasiswa ada, pembangunan ada, penelitian ada, resources-nya dibuat fleksibel. Jadi jika kita sudah belajar bagian kita, saatnya kita lakukan bagian kita,” tegasnya.
Selain insentif pajak, Sri Mulyani menjelaskan bahwa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) juga menjadi ujung tombak pembiayaan riset nasional. Hingga kini, LPDP telah mendanai 2.792 proyek penelitian di bidang STEM dan industri strategis, dengan rincian 1.274 proyek masih berjalan dan 1.199 telah selesai.
“The good side about LPDP adalah, saya tahu karena saya pernah jadi peneliti, selalu bilang: 'Bu, peneliti itu gak mengikuti tahun anggaran. Kita idenya bisa jalan, research kita muncul, data barangkali juga perlu’. Sehingga gak mungkin Desember tiba-tiba ditutup, nanti Januari mulai lagi,” ujar Sri Mulyani.
Skema LPDP memungkinkan pendanaan multiyears yang menyesuaikan ritme riset dan bukan pada siklus anggaran tahunan.
“Kita semuanya mencoba untuk mendengar dan mendesain, sehingga bukan alasan administrasi keuangan yang menjadi kendala Anda. Tapi saya mengatakan ini bukan bahwa uangnya unlimited, resource selalu terbatas di seluruh dunia juga begitu. Dan resource harus kita teralokasikan dengan baik. Tidak berarti bahwa kalau kemudian peneliti, then you can use seenak-enaknya,” tegasnya.
Sri Mulyani juga menyebut bahwa riset-riset unggulan yang saat ini didanai mencakup berbagai topik terkini dan strategis, seperti kecerdasan buatan (AI), internet of things (IoT), semikonduktor, dan teknologi hijau.
“Bila kalian tahu lebih dalam menurut ketumbuhan, kita menduduki juga berbagai topik yang sekarang sangat aktual, AI, internet of things, semikonduktor, teknologi hijau. Semuanya adalah area yang juga didanai untuk penelitian,” tutupnya.
“Kami menyediakan instrumen fiskal dalam bentuk tax incentive untuk penelitian. Yang disebut super tax deduction dalam hal ini, kegiatan penelitian, pengembangan, dan juga di bidang sains ini,”kata Sri Mulyani saat memberikan sambutan dalam acara Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025.
"Saat ini sudah ada 30 wajib pajak yang mengajukan 224 proposal yang estimasinya mencapai Rp1,46 triliun," lanjutnya.
Baca juga: KSTI 2025 Jadi Ajang Penyusunan Peta Jalan Riset dan Inovasi Teknologi Nasional
Mekanisme insentif ini memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan pengurangan pajak hingga tiga kali lipat dari dana yang dikeluarkan untuk kegiatan riset dan pengembangan.
“Kalau ada wajib pajak perusahaan, saya harap di sini ada industri yang akan mengeluarkan untuk biaya penelitian, untuk produknya, untuk pengembangan. Kalau dia mengeluarkan Rp1 miliar, mereka bisa mendeduct tiga kali lipatnya untuk pengurangan pajak. Jadi kalau dia mengeluarkan Rp1 miliar, bisa mendeduct Rp3 miliar untuk pengenaan pajaknya,” jelasnya.
Baca juga: Momen Presiden Prabowo Sapa Menteri Sambil Sebut Almamater Kampus Mereka di KSTI 2025
Sri Mulyani juga mendorong para peneliti agar bersikap lebih proaktif dan menjalin kolaborasi dengan sektor industri.
“Saya berharap Bapak dan Ibu sekalian peneliti juga agak entrepreneurial. Ajak aja industri, terus bilang, ‘Eh kalau kamu bener ini ama saya, kamu mengeluarkan Rp1 miliar, you can deduct triple dari pajak Anda’. Itu kan malah untung kan mestinya ya,” ujarnya.
Menurut Sri Mulyani, sinergi antara peneliti dan industri penting untuk mempercepat inovasi dan mendorong transformasi ekonomi berbasis pengetahuan. Pemerintah, lanjutnya, terus menyediakan berbagai dukungan, termasuk beasiswa dan pendanaan riset.
“Saya rasa itu yang kami bisa lakukan untuk mendukung seluruh upaya dari Ibu Bapak sekalian. Beasiswa ada, pembangunan ada, penelitian ada, resources-nya dibuat fleksibel. Jadi jika kita sudah belajar bagian kita, saatnya kita lakukan bagian kita,” tegasnya.
Selain insentif pajak, Sri Mulyani menjelaskan bahwa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) juga menjadi ujung tombak pembiayaan riset nasional. Hingga kini, LPDP telah mendanai 2.792 proyek penelitian di bidang STEM dan industri strategis, dengan rincian 1.274 proyek masih berjalan dan 1.199 telah selesai.
“The good side about LPDP adalah, saya tahu karena saya pernah jadi peneliti, selalu bilang: 'Bu, peneliti itu gak mengikuti tahun anggaran. Kita idenya bisa jalan, research kita muncul, data barangkali juga perlu’. Sehingga gak mungkin Desember tiba-tiba ditutup, nanti Januari mulai lagi,” ujar Sri Mulyani.
Skema LPDP memungkinkan pendanaan multiyears yang menyesuaikan ritme riset dan bukan pada siklus anggaran tahunan.
“Kita semuanya mencoba untuk mendengar dan mendesain, sehingga bukan alasan administrasi keuangan yang menjadi kendala Anda. Tapi saya mengatakan ini bukan bahwa uangnya unlimited, resource selalu terbatas di seluruh dunia juga begitu. Dan resource harus kita teralokasikan dengan baik. Tidak berarti bahwa kalau kemudian peneliti, then you can use seenak-enaknya,” tegasnya.
Sri Mulyani juga menyebut bahwa riset-riset unggulan yang saat ini didanai mencakup berbagai topik terkini dan strategis, seperti kecerdasan buatan (AI), internet of things (IoT), semikonduktor, dan teknologi hijau.
“Bila kalian tahu lebih dalam menurut ketumbuhan, kita menduduki juga berbagai topik yang sekarang sangat aktual, AI, internet of things, semikonduktor, teknologi hijau. Semuanya adalah area yang juga didanai untuk penelitian,” tutupnya.
(nnz)
Lihat Juga :