Wamendiktisaintek Stella Christie: Duplikasi di Dunia Sains Itu Baik
Jum'at, 08 Agustus 2025 - 16:16 WIB
loading...
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menyatakan bahwa duplikasi dalam dunia keilmuan merupakan hal yang baik. Foto/Diktisaintek.
A
A
A
JAKARTA - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ( Wamendiktisaintek ) Stella Christie menyatakan bahwa duplikasi dalam dunia keilmuan merupakan hal yang baik. Namun hal ini bukan dalam artian menduplikasi (plagiat) sepenuhnya.
"Sebenarnya saya akan bisa bilang mungkin duplikasi itu baik," kata Stella dalam jumpa pers Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di Sasana Budaya Ganesha, ITB, Bandung, Jumat 8 Agustus 2025.
Ia mencontohkan, penelitian sains dari Amerika, Australia, Singapura, dan China memang terlihat mengagumkan. Namun, menurutnya, keunggulan tersebut bukan semata karena peneliti di negara itu jenius, melainkan karena mereka mau berkolaborasi dengan metode duplikasi, yakni mengerjakan topik yang sama.
Baca juga: KSTI 2025 Jadi Ajang Penyusunan Peta Jalan Riset dan Inovasi Teknologi Nasional
"Jadi, ini bukan duplikasi. Tetapi Anda mengerjakan topik yang sama dan Anda memiliki perspektif yang berbeda. Terkadang Anda berkolaborasi, terkadang Anda bersaing," katanya.
Stella menambahkan, selain kolaborasi, kompetisi juga menjadi faktor penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
"Anda berkolaborasi, terkadang Anda berkompetisi, kompetisi juga membantu. Karena tanpa kompetisi, tanpa sains terbuka kita tidak akan memiliki kemampuan," tutupnya.
Baca juga: KSTI 2025 Hadirkan Ilmuwan Fisika Peraih Nobel, Indonesia Mantapkan Arah Riset
Dalam kesempatan yang sama, Stella menegaskan komitmen pemerintah memperkuat ekosistem riset nasional melalui dua strategi utama: meningkatkan pendanaan dan memperbaiki regulasi.
“Untuk pendanaan, setelah sembilan bulan berada di pemerintahan, kami berhasil meningkatkan hampir dua kali lipat anggaran riset, atau naik sekitar 80%. Dana ini akan langsung disalurkan kepada peneliti di universitas,” ujar Stella Christie.
Ia mengungkapkan, pemerintah juga menyiapkan skema pendanaan senilai Rp1,8 triliun. Skema ini memungkinkan peneliti menerima insentif pribadi ketika berhasil memenangkan hibah riset.
“Selain itu, regulasi akan disederhanakan untuk mengurangi beban administrasi, baik bagi peneliti maupun industri, agar proses riset berjalan lebih lancar,” tambahnya.
"Sebenarnya saya akan bisa bilang mungkin duplikasi itu baik," kata Stella dalam jumpa pers Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di Sasana Budaya Ganesha, ITB, Bandung, Jumat 8 Agustus 2025.
Ia mencontohkan, penelitian sains dari Amerika, Australia, Singapura, dan China memang terlihat mengagumkan. Namun, menurutnya, keunggulan tersebut bukan semata karena peneliti di negara itu jenius, melainkan karena mereka mau berkolaborasi dengan metode duplikasi, yakni mengerjakan topik yang sama.
Baca juga: KSTI 2025 Jadi Ajang Penyusunan Peta Jalan Riset dan Inovasi Teknologi Nasional
"Jadi, ini bukan duplikasi. Tetapi Anda mengerjakan topik yang sama dan Anda memiliki perspektif yang berbeda. Terkadang Anda berkolaborasi, terkadang Anda bersaing," katanya.
Stella menambahkan, selain kolaborasi, kompetisi juga menjadi faktor penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
"Anda berkolaborasi, terkadang Anda berkompetisi, kompetisi juga membantu. Karena tanpa kompetisi, tanpa sains terbuka kita tidak akan memiliki kemampuan," tutupnya.
Baca juga: KSTI 2025 Hadirkan Ilmuwan Fisika Peraih Nobel, Indonesia Mantapkan Arah Riset
Dalam kesempatan yang sama, Stella menegaskan komitmen pemerintah memperkuat ekosistem riset nasional melalui dua strategi utama: meningkatkan pendanaan dan memperbaiki regulasi.
“Untuk pendanaan, setelah sembilan bulan berada di pemerintahan, kami berhasil meningkatkan hampir dua kali lipat anggaran riset, atau naik sekitar 80%. Dana ini akan langsung disalurkan kepada peneliti di universitas,” ujar Stella Christie.
Ia mengungkapkan, pemerintah juga menyiapkan skema pendanaan senilai Rp1,8 triliun. Skema ini memungkinkan peneliti menerima insentif pribadi ketika berhasil memenangkan hibah riset.
“Selain itu, regulasi akan disederhanakan untuk mengurangi beban administrasi, baik bagi peneliti maupun industri, agar proses riset berjalan lebih lancar,” tambahnya.
(nnz)
Lihat Juga :