Sekolah Rakyat Ditinggalkan Ratusan Siswa dan Guru, Guru Besar IPB: Programnya Baik, Tapi...
Sabtu, 09 Agustus 2025 - 12:16 WIB
loading...
A
A
A
“Ini sinyal bahwa membuat program yang baik itu tidak cukup hanya dengan niat, tapi harus dialokasikan pada masyarakat sekitar dengan pendekatan dialog. Jadi ada dialog yang dibangun, sehingga mereka paham,” ungkapnya.
Menurutnya, absennya pendekatan partisipatif bisa menjadi penyebab utama ketidakbetahan siswa. "Kalau katanya tidak betah, boleh jadi orang yang sekolah di situ memang jauh dari budaya lokal. Bisa jadi mereka mengalami homesick," jelasnya.
Menanggapi model sekolah berasrama yang digunakan di beberapa Sekolah Rakyat, Prof Lala menilai metode ini sebenarnya cocok untuk anak-anak dari keluarga rentan di desa. “Boarding itu satu pilihan metode pendidikan, yang bisa membentuk karakter lebih kuat,” ujarnya.
Baca juga: Dukung Inisiatif Kemensos, Partai Perindo: Sekolah Rakyat Hadir untuk Putus Rantai Kemiskinan Ekstrem
Namun, ia menggarisbawahi bahwa adaptasi adalah tantangan besar dalam model ini. “Orang keluar dari rumah itu perlu dampingan adaptasi. Tidak bisa langsung dipaksa masuk asrama tanpa persiapan sosial hingga aspek psikologis mereka yang akan belajar,” tegasnya.
Kunci keberhasilan sekolah berasrama, menurutnya, terletak pada proses awal—dialog, pemetaan sosial, serta seleksi siswa yang mempertimbangkan kondisi sosial budaya mereka.
"Selama prosesnya dilakukan dengan melibatkan masyarakat sejak awal, sekolahnya akan lebih mudah diterima. Jangan sampai semuanya diputuskan dari atas tanpa mempertimbangkan kompetensi dan kecerdasan kontekstual yang akan dicapai.”
Agar Sekolah Rakyat lebih diterima, Prof Lala menegaskan perlunya komunikasi dialogis sejak perencanaan. “Komunikasi itu dialog. Harus menyiapkan masyarakat sekitar atas kehadiran sekolah tersebut,” paparnya.
Ia mengkritisi pendekatan afirmatif top-down cenderung instruktif. “Perlu dilengkapi model pendidikan yang membebaskan. Sekolah perlu disiapkan bersama pihak-pihak berkepentingan sejak awal.
Menurutnya, dialog ini penting untuk menciptakan kesadaran bersama bahwa sekolah bukan hanya bangunan fisik, tapi juga sarana membangun masa depan. “Jangan hanya melihat fasilitas fisik, tapi juga pemahaman psikologis stakeholders,” ujarnya.
Menurutnya, absennya pendekatan partisipatif bisa menjadi penyebab utama ketidakbetahan siswa. "Kalau katanya tidak betah, boleh jadi orang yang sekolah di situ memang jauh dari budaya lokal. Bisa jadi mereka mengalami homesick," jelasnya.
Potensial, Tapi Butuh Pendampingan
Menanggapi model sekolah berasrama yang digunakan di beberapa Sekolah Rakyat, Prof Lala menilai metode ini sebenarnya cocok untuk anak-anak dari keluarga rentan di desa. “Boarding itu satu pilihan metode pendidikan, yang bisa membentuk karakter lebih kuat,” ujarnya.
Baca juga: Dukung Inisiatif Kemensos, Partai Perindo: Sekolah Rakyat Hadir untuk Putus Rantai Kemiskinan Ekstrem
Namun, ia menggarisbawahi bahwa adaptasi adalah tantangan besar dalam model ini. “Orang keluar dari rumah itu perlu dampingan adaptasi. Tidak bisa langsung dipaksa masuk asrama tanpa persiapan sosial hingga aspek psikologis mereka yang akan belajar,” tegasnya.
Kunci keberhasilan sekolah berasrama, menurutnya, terletak pada proses awal—dialog, pemetaan sosial, serta seleksi siswa yang mempertimbangkan kondisi sosial budaya mereka.
"Selama prosesnya dilakukan dengan melibatkan masyarakat sejak awal, sekolahnya akan lebih mudah diterima. Jangan sampai semuanya diputuskan dari atas tanpa mempertimbangkan kompetensi dan kecerdasan kontekstual yang akan dicapai.”
Komunikasi Dialogis jadi Landasan
Agar Sekolah Rakyat lebih diterima, Prof Lala menegaskan perlunya komunikasi dialogis sejak perencanaan. “Komunikasi itu dialog. Harus menyiapkan masyarakat sekitar atas kehadiran sekolah tersebut,” paparnya.
Ia mengkritisi pendekatan afirmatif top-down cenderung instruktif. “Perlu dilengkapi model pendidikan yang membebaskan. Sekolah perlu disiapkan bersama pihak-pihak berkepentingan sejak awal.
Menurutnya, dialog ini penting untuk menciptakan kesadaran bersama bahwa sekolah bukan hanya bangunan fisik, tapi juga sarana membangun masa depan. “Jangan hanya melihat fasilitas fisik, tapi juga pemahaman psikologis stakeholders,” ujarnya.
Lihat Juga :