Peraih Nobel Brian Schmidt: Ekosistem Sains dan Teknologi Kunci Masa Depan Indonesia

Sabtu, 09 Agustus 2025 - 14:07 WIB
loading...
Peraih Nobel Brian Schmidt:...
Peraih Nobel Fisika 2011, Brian Schmidt, menegaskan bahwa masa depan pertumbuhan Indonesia sangat bergantung pada kemampuan membangun ekosistem sains dan teknologi yang berkelanjutan. Foto/Diktisaintek.
A A A
BANDUNG - Peraih Nobel Fisika 2011, Brian Schmidt, menegaskan bahwa masa depan pertumbuhan Indonesia sangat bergantung pada kemampuan membangun ekosistem sains dan teknologi yang berkelanjutan. Menurutnya, riset merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan konsistensi lebih dari satu dekade.

Schmidt menjelaskan, sebagian besar penemuan ilmiah memang tidak langsung berdampak pada perekonomian. Namun, jika ada ekosistem yang menghubungkan sains dengan bisnis, temuan tersebut dapat diubah menjadi inovasi yang membawa kemajuan.

Baca juga: Wamendiktisaintek Stella Christie: Duplikasi di Dunia Sains Itu Baik

“Keberhasilan bukan memaksa ilmuwan untuk selalu menemukan penerapan, tetapi menciptakan kondisi yang memudahkan mereka menerjemahkan ide ketika ada peluang,” ujar Schmidt, pada konferensi pers Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di Sabuga ITB, Bandung, dikutip Sabtu (9/8/2025).

Ia memaparkan pilar ekosistem riset yang kuat meliputi keterhubungan antara kampus, lembaga penelitian, industri, dukungan modal, insentif ekonomi, dan kebijakan pemerintah yang fokus memperbaiki kegagalan pasar. Kemitraan internasional juga menjadi faktor penting, dengan Singapura dan Australia sebagai mitra potensial bagi Indonesia.

Baca juga: Momen Presiden Prabowo Sapa Menteri Sambil Sebut Almamater Kampus Mereka di KSTI 2025

"Sains akan berkembang ketika universitas, lembaga penelitian, industri, modal, dan kebijakan pemerintah yang mendukung saling terhubung dan ketika keterhubungan itu meluas lintas batas negara," tegas Schmidt.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus menjalankan misi menghadirkan solusi berbasis sains dan teknologi untuk berbagai tantangan lintas sektor. Melalui arah kebijakan Diktisaintek Berdampak, kampus di seluruh Indonesia dilibatkan untuk memajukan sains, teknologi, dan inovasi demi mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Baca juga:KSTI 2025 Hadirkan Ilmuwan Fisika Peraih Nobel, Indonesia Mantapkan Arah Riset

Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 menjadi wadah strategis memperkuat sinergi antar kementerian dan ekosistem riset nasional. Diharapkan, forum ini menghasilkan kebijakan strategis dan inovasi unggulan untuk meningkatkan daya saing industri sekaligus pemerataan pembangunan.

Dalam forum yang digelar di Sasana Budaya Ganesa, Jumat (8/8), Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menekankan pentingnya penguatan kapasitas teknologi dan talenta nasional sebagai fondasi transformasi menuju knowledge-based economy.

Dengan potensi sumber daya alam strategis, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk melakukan hilirisasi dan lompatan industrialisasi bernilai tambah tinggi. Transformasi ini menjadi langkah kunci memperkuat daya saing bangsa dan mewujudkan kemandirian ekonomi berkelanjutan.

“Penguasaan sains dan teknologi harus maksimal untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Para peneliti dan akademisi memiliki tugas mulia dalam memajukan industri dan menghasilkan SDM unggul,” ujar Menteri Brian.

Ia menegaskan, sains tidak boleh berhenti pada seremoni atau publikasi ilmiah, tetapi harus melahirkan inovasi konkret yang bermanfaat bagi industri dan masyarakat. Pemerintah kini tengah menyusun peta jalan riset untuk memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan lembaga pemerintah guna mempercepat transformasi menuju ekonomi berbasis pengetahuan
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Peneliti UNEJ Ungkap...
Peneliti UNEJ Ungkap Keunikan Puyuh Gonggong, Fauna Endemik Jember yang Rentan Punah
Peneliti Universitas...
Peneliti Universitas Jember Buktikan Tanaman Liar Kalimantan Efektif Turunkan Gula Darah
Riset LAPI ITB: Konektivitas...
Riset LAPI ITB: Konektivitas Digital Dongkrak PDRB dan Serap 685 Ribu Tenaga Kerja
FK Unair Kolaborasi...
FK Unair Kolaborasi dengan Adelaide University, Soroti Sistem Kesehatan Kebidanan Indonesia
Cerita Djoko Slamet...
Cerita Djoko Slamet Pudjorahardjo, Peneliti yang Lulus S2 Teknik Fisika UGM di Usia 68 Tahun
Peneliti UNJ Gandeng...
Peneliti UNJ Gandeng MGMP Seni Budaya Kota Depok dalam Pengembangan Gim Literasi Gerak
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
NASA Temukan Sesuatu...
NASA Temukan Sesuatu yang Misterius saat Perubahan Waktu Siang ke Malam
Israel Temukan Batu...
Israel Temukan Batu Suci Berusia 2.700 Tahun yang Tertulis dalam Alkitab
Rekomendasi
Kedaulatan Digital Jadi...
Kedaulatan Digital Jadi Sorotan, Solusi AI Terintegrasi Siap Percepat Transformasi Industri
Hizbullah Tegaskan Terapkan...
Hizbullah Tegaskan Terapkan Gencatan Senjata dengan Israel Segera
4 Tentara Israel Tewas,...
4 Tentara Israel Tewas, Menteri-menteri Ekstremis Ancam Bakar Seluruh Lebanon, Buka Gerbang Neraka
Berita Terkini
Universitas Brawijaya...
Universitas Brawijaya Tembus Peringkat 616 Dunia di QS WUR 2027
PMB Madrasah Jakarta...
PMB Madrasah Jakarta Jalur Tahfiz 2026 Dibuka, Cek Syarat dan Cara Daftarnya
ITS Raih Peringkat 497...
ITS Raih Peringkat 497 Dunia di QS WUR 2027, Unggul pada Rasio Mahasiswa Internasional
Pangeran George Masuk...
Pangeran George Masuk Eton College, Sekolah Elit Keluarga Kerajaan
Insentif Guru PAI Tahap...
Insentif Guru PAI Tahap II 2026 Cair, Berikut Besaran dan Jumlah Penerimanya
Kamboja Targetkan Kerja...
Kamboja Targetkan Kerja Sama Pendidikan Tinggi dengan Indonesia, Fokus Double Degree
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved