Kembangkan Teknologi Kesehatan dan Pangan, Dua Dosen Universitas Ini Raih Prestasi Nasional
Minggu, 10 Agustus 2025 - 08:00 WIB
loading...
Dua dosen SGU berhasil meraih penghargaan nasional usai mengembangkan inovasi kesehatan dan pangan tingkat nasional melalui teknologi AI. Foto/SGU.
A
A
A
JAKARTA - Dua dosen Swiss Germany University (SGU) berhasil meraih penghargaan nasional usai mengembangkan inovasi kesehatan dan pangan tingkat nasional melalui teknologi AI.
Hasil penelitian dua ilmuan bernama Dr. Hery Sutantoter dan Aulia Arif Iskandar, dipilih sebagai produk inovasi nasional terbaik 2022–2025, dan dipamerkan secara langsung kepada Presiden Republik Indonesia dan jajaran menteri dalam Convention of Science, Technology, and Industry (STI) Indonesia 2025.
Rektor Swiss German University, Assoc. Prof. Dr. Dipl.-Ing. Samuel P. Kusumocahyoapresiasi mendalam terhadap capaian dua dosen tersebut. Baginya inovasi yang dikembangkan keduanya di perguruan tinggi tidak hanya untuk jurnal, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Baca juga: Peraih Nobel Brian Schmidt: Ekosistem Sains dan Teknologi Kunci Masa Depan Indonesia
"Ini bukan sekadar prestasi individu, tapi kontribusi langsung untuk bangsa dan masa depan yang lebih baik," kata Rektor melalui siaran persnya, Minggu (10/8/2025).
Bagi Rektor, keduanya memiliki satu kesamaan yaitu memiliki semangat besar untuk menjawab persoalan bangsa melalui ilmu pengetahuan. Karya mereka telah menembus batas akademik dan mulai memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Tujuan utama saya bukan sekadar menciptakan teknologi canggih, tapi menciptakan teknologi yang bermanfaat dan bisa diakses masyarakat luas, terutama di daerah dengan keterbatasan layanan kesehatan,” ungkap Aulia.
Kehadiran mereka di Convention STI 2025 menjadi bukti bahwa Indonesia tidak kekurangan talenta unggul. Yang dibutuhkan adalah kepercayaan dan dukungan lebih luas agar riset dan inovasi lokal bisa terus berkembang dan memberi dampak besar bagi negeri ini.
Terpisah, Dr. Hery Sutanto mengembangkan Kemirich Gold, minyak nabati hasil olahan kemiri yang dapat menjadi salah satu alternatif minyak sehat karya anak negeri.
Kekayan hayati yang dimiliki Indonesia merupakan tanaman lokal, melimpah dan hanya dianggap pelengkap dapur. Padahal, jika diolah dengan benar, kandungan nutrisinya bisa menyaingi minyak nabati impor.
"Kemirich Gold mengandung Omega 3, Omega 6, Omega 9, DHA, EPA, LA, dan Vitamin E, yang secara ilmiah terbukti bermanfaat untuk kesehatan jantung orang dewasa, serta mendukung pertumbuhan balita dan anak-anak. Produk ini juga telah tersertifikasi halal dan memiliki izin edar resmi dari BPOM RI," kata Dekan Fakultas Life Sciences and Technology Swiss German University.
Senada Aulia Arif Iskandar, yang kini menjabat Kepala Program Studi Biomedical Engineering di Swiss German University, menciptakan dua alat revolusioner: Dub-Dub Mini EKG dan Stetoskop Digital yang keduanya berbasis AI.
Aulia mengatakan dua inovasi ini berangkat dari keprihatinan terhadap akses terbatas masyarakat terhadap deteksi dini penyakit jantung dan paru-paru, ia mengembangkan solusi cerdas yang portabel, terjangkau, dan berbasis teknologi terkini.
Dub-Dub Mini EKG adalah alat elektrokardiogram 1-lead yang mampu mendeteksi irama jantung abnormal secara real-time dan mengirimkan data ke aplikasi ponsel melalui Bluetooth. Aplikasi ini memiliki fitur emergency alert dan telekonsultasi, memberikan akses lebih cepat dan aman kepada pasien untuk penanganan awal.
Sementara itu, Stetoskop Digital Berbasis AI dirancang untuk menganalisis suara paru-paru, bukan sekadar mendengarkannya. Dengan memanfaatkan machine learning, alat ini mampu mengklasifikasi penyakit paru berdasarkan pola suara pernapasan yang terekam, menjadikannya asisten diagnostik digital bagi tenaga medis.
"Kedua alat ini telah memperoleh penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI, termasuk sebagai alat terbaik ke-2 kategori inovasi alkes pada 2019 dan Produk Riset Alkes Unggulan Pertama 2024, menegaskan potensi besar teknologi lokal dalam sistem layanan kesehatan nasional," tutupnya.
Hasil penelitian dua ilmuan bernama Dr. Hery Sutantoter dan Aulia Arif Iskandar, dipilih sebagai produk inovasi nasional terbaik 2022–2025, dan dipamerkan secara langsung kepada Presiden Republik Indonesia dan jajaran menteri dalam Convention of Science, Technology, and Industry (STI) Indonesia 2025.
Rektor Swiss German University, Assoc. Prof. Dr. Dipl.-Ing. Samuel P. Kusumocahyoapresiasi mendalam terhadap capaian dua dosen tersebut. Baginya inovasi yang dikembangkan keduanya di perguruan tinggi tidak hanya untuk jurnal, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Baca juga: Peraih Nobel Brian Schmidt: Ekosistem Sains dan Teknologi Kunci Masa Depan Indonesia
"Ini bukan sekadar prestasi individu, tapi kontribusi langsung untuk bangsa dan masa depan yang lebih baik," kata Rektor melalui siaran persnya, Minggu (10/8/2025).
Bagi Rektor, keduanya memiliki satu kesamaan yaitu memiliki semangat besar untuk menjawab persoalan bangsa melalui ilmu pengetahuan. Karya mereka telah menembus batas akademik dan mulai memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Tujuan utama saya bukan sekadar menciptakan teknologi canggih, tapi menciptakan teknologi yang bermanfaat dan bisa diakses masyarakat luas, terutama di daerah dengan keterbatasan layanan kesehatan,” ungkap Aulia.
Kehadiran mereka di Convention STI 2025 menjadi bukti bahwa Indonesia tidak kekurangan talenta unggul. Yang dibutuhkan adalah kepercayaan dan dukungan lebih luas agar riset dan inovasi lokal bisa terus berkembang dan memberi dampak besar bagi negeri ini.
Terpisah, Dr. Hery Sutanto mengembangkan Kemirich Gold, minyak nabati hasil olahan kemiri yang dapat menjadi salah satu alternatif minyak sehat karya anak negeri.
Kekayan hayati yang dimiliki Indonesia merupakan tanaman lokal, melimpah dan hanya dianggap pelengkap dapur. Padahal, jika diolah dengan benar, kandungan nutrisinya bisa menyaingi minyak nabati impor.
"Kemirich Gold mengandung Omega 3, Omega 6, Omega 9, DHA, EPA, LA, dan Vitamin E, yang secara ilmiah terbukti bermanfaat untuk kesehatan jantung orang dewasa, serta mendukung pertumbuhan balita dan anak-anak. Produk ini juga telah tersertifikasi halal dan memiliki izin edar resmi dari BPOM RI," kata Dekan Fakultas Life Sciences and Technology Swiss German University.
Senada Aulia Arif Iskandar, yang kini menjabat Kepala Program Studi Biomedical Engineering di Swiss German University, menciptakan dua alat revolusioner: Dub-Dub Mini EKG dan Stetoskop Digital yang keduanya berbasis AI.
Aulia mengatakan dua inovasi ini berangkat dari keprihatinan terhadap akses terbatas masyarakat terhadap deteksi dini penyakit jantung dan paru-paru, ia mengembangkan solusi cerdas yang portabel, terjangkau, dan berbasis teknologi terkini.
Dub-Dub Mini EKG adalah alat elektrokardiogram 1-lead yang mampu mendeteksi irama jantung abnormal secara real-time dan mengirimkan data ke aplikasi ponsel melalui Bluetooth. Aplikasi ini memiliki fitur emergency alert dan telekonsultasi, memberikan akses lebih cepat dan aman kepada pasien untuk penanganan awal.
Sementara itu, Stetoskop Digital Berbasis AI dirancang untuk menganalisis suara paru-paru, bukan sekadar mendengarkannya. Dengan memanfaatkan machine learning, alat ini mampu mengklasifikasi penyakit paru berdasarkan pola suara pernapasan yang terekam, menjadikannya asisten diagnostik digital bagi tenaga medis.
"Kedua alat ini telah memperoleh penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI, termasuk sebagai alat terbaik ke-2 kategori inovasi alkes pada 2019 dan Produk Riset Alkes Unggulan Pertama 2024, menegaskan potensi besar teknologi lokal dalam sistem layanan kesehatan nasional," tutupnya.
(nnz)
Lihat Juga :