Perpusnas Wakili Indonesia di Kongres Perpustakaan Dunia 2025 di Kazakhstan
Rabu, 20 Agustus 2025 - 08:30 WIB
loading...
Delegasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) turut hadir di World Library and Information Congress/WLIC) di Kazakshtan. Foto/Perpusnas.
A
A
A
JAKARTA - Kongres Perpustakaan dan Informasi Dunia (World Library and Information Congress/WLIC) ke-89 yang diselenggarakan oleh International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) resmi dibuka di Astana, Kazakhstan pada Senin (18/8/2025). Acara ini akan berlangsung selama lima hari, dari tanggal 18 hingga 22 Agustus 2025, dan mengusung tema “Uniting Knowledge, Building the Future”.
Kongres tahun ini berhasil mempertemukan lebih dari 1.630 peserta dari 114 negara, terdiri dari pimpinan perpustakaan, spesialis informasi, pendidik, mahasiswa, serta perwakilan penerbit terkemuka.
Baca juga: Perpustakaan Jakarta Gelar Pameran Ruang Sastra Bicara
Negara dengan delegasi terbesar antara lain Kazakhstan, Amerika Serikat, China, Korea Selatan, Jerman, dan Jepang. Dari Indonesia, hadir 14 peserta, termasuk 5 orang pegawai perpustakaan Nasional RI ( Perpusnas ) yang tampil sebagai pembicara.
Program kongres menampilkan lebih dari 80 sesi profesional, dengan topik mencakup perpustakaan digital, kecerdasan buatan, metode preservasi koleksi, serta standar katalogisasi seperti UNIMARC. Kehadiran ribuan peserta ini menegaskan relevansi kongres sebagai forum global utama untuk membahas praktik terbaik dan tren terkini di bidang kepustakawanan.
Delegasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) turut hadir dalam kongres ini. Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, menyampaikan bahwa partisipasi Indonesia dalam IFLA WLIC 2025 adalah bentuk komitmen untuk terus memperkuat peran Perpusnas di tingkat global.
“Indonesia melihat perpustakaan bukan hanya sebagai pusat pengetahuan, tetapi juga sebagai agen transformasi sosial yang memperkuat literasi masyarakat. Melalui forum global seperti IFLA, kami ingin memastikan suara dan pengalaman Indonesia ikut berkontribusi dalam membangun masa depan pengetahuan dunia,” ungkapnya, melalui siaran pers, Rabu (20/8/2025).
Selain menghadiri pembukaan, Perpusnas juga berbangga karena lima pegawai terpilih tampil sebagai pemateri dalam berbagai sesi kongres:
Sadariyah Ariningrum Wijiastuti – Unlocking Historical Treasure: Optimizing the Utilization of Manuscripts at National Library of Indonesia in the Digital Age (15/08).
Nadya Mentari – Enhancing Inclusive Bibliographic Data: A Study of Disability Terminology in the Subject Headings of the National Library of Indonesia (19/08).
Fandi Rahman Hidayat – Virtual Service in Library as a Hub of Information Openness: A Digital Strategy to Combat Misinformation in the AI Era (19/08).
Soraya Hariyani Putri – Censorship and Its Implications for the Accessibility of LGBTQIA+ Themed Collections in the National Library of Indonesia (19/08).
Vania Sukma Putri Daniswara – Digital Repository for Preserving Queer Archives Histories in Indonesia (19/08).
Kehadiran para pemateri ini menunjukkan kapasitas sumber daya manusia Perpusnas dalam memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu perpustakaan, akses informasi, dan literasi global.
Astana mengukir sejarah sebagai kota pertama di Asia Tengah yang menjadi tuan rumah IFLA WLIC 2025, menjadikannya pionir yang mempertemukan para profesional perpustakaan dunia. Dalam sejarah hampir seabad, wilayah ini baru dua kali menjadi tuan rumah kongres, dan hanya sembilan kali di Asia.
Acara pembukaan ditutup dengan ungkapan budaya Kazak “Do” yang berarti persahabatan, simbol persatuan komunitas perpustakaan dunia.
Kongres ini diharapkan menjadi wadah strategis bagi para pemimpin, pustakawan, akademisi, dan praktisi informasi untuk memperkuat kerja sama, menghadirkan inovasi, dan membangun masa depan perpustakaan yang inklusif serta berkelanjutan.
Kongres tahun ini berhasil mempertemukan lebih dari 1.630 peserta dari 114 negara, terdiri dari pimpinan perpustakaan, spesialis informasi, pendidik, mahasiswa, serta perwakilan penerbit terkemuka.
Baca juga: Perpustakaan Jakarta Gelar Pameran Ruang Sastra Bicara
Negara dengan delegasi terbesar antara lain Kazakhstan, Amerika Serikat, China, Korea Selatan, Jerman, dan Jepang. Dari Indonesia, hadir 14 peserta, termasuk 5 orang pegawai perpustakaan Nasional RI ( Perpusnas ) yang tampil sebagai pembicara.
Program kongres menampilkan lebih dari 80 sesi profesional, dengan topik mencakup perpustakaan digital, kecerdasan buatan, metode preservasi koleksi, serta standar katalogisasi seperti UNIMARC. Kehadiran ribuan peserta ini menegaskan relevansi kongres sebagai forum global utama untuk membahas praktik terbaik dan tren terkini di bidang kepustakawanan.
Delegasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) turut hadir dalam kongres ini. Sekretaris Utama Perpusnas, Joko Santoso, menyampaikan bahwa partisipasi Indonesia dalam IFLA WLIC 2025 adalah bentuk komitmen untuk terus memperkuat peran Perpusnas di tingkat global.
“Indonesia melihat perpustakaan bukan hanya sebagai pusat pengetahuan, tetapi juga sebagai agen transformasi sosial yang memperkuat literasi masyarakat. Melalui forum global seperti IFLA, kami ingin memastikan suara dan pengalaman Indonesia ikut berkontribusi dalam membangun masa depan pengetahuan dunia,” ungkapnya, melalui siaran pers, Rabu (20/8/2025).
Selain menghadiri pembukaan, Perpusnas juga berbangga karena lima pegawai terpilih tampil sebagai pemateri dalam berbagai sesi kongres:
Sadariyah Ariningrum Wijiastuti – Unlocking Historical Treasure: Optimizing the Utilization of Manuscripts at National Library of Indonesia in the Digital Age (15/08).
Nadya Mentari – Enhancing Inclusive Bibliographic Data: A Study of Disability Terminology in the Subject Headings of the National Library of Indonesia (19/08).
Fandi Rahman Hidayat – Virtual Service in Library as a Hub of Information Openness: A Digital Strategy to Combat Misinformation in the AI Era (19/08).
Soraya Hariyani Putri – Censorship and Its Implications for the Accessibility of LGBTQIA+ Themed Collections in the National Library of Indonesia (19/08).
Vania Sukma Putri Daniswara – Digital Repository for Preserving Queer Archives Histories in Indonesia (19/08).
Kehadiran para pemateri ini menunjukkan kapasitas sumber daya manusia Perpusnas dalam memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu perpustakaan, akses informasi, dan literasi global.
Astana mengukir sejarah sebagai kota pertama di Asia Tengah yang menjadi tuan rumah IFLA WLIC 2025, menjadikannya pionir yang mempertemukan para profesional perpustakaan dunia. Dalam sejarah hampir seabad, wilayah ini baru dua kali menjadi tuan rumah kongres, dan hanya sembilan kali di Asia.
Acara pembukaan ditutup dengan ungkapan budaya Kazak “Do” yang berarti persahabatan, simbol persatuan komunitas perpustakaan dunia.
Kongres ini diharapkan menjadi wadah strategis bagi para pemimpin, pustakawan, akademisi, dan praktisi informasi untuk memperkuat kerja sama, menghadirkan inovasi, dan membangun masa depan perpustakaan yang inklusif serta berkelanjutan.
(nnz)
Lihat Juga :