Sri Mulyani Bantah Sebut Guru Beban Negara, Ungkap Video Deepfake
Rabu, 20 Agustus 2025 - 10:47 WIB
loading...
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menyatakan guru sebagai beban negara. Foto/Aldhi Chandra S.
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menyatakan guru sebagai beban negara. Klarifikasi ini disampaikan langsung melalui akun Instagram resminya setelah potongan video yang viral tersebar di media sosial, menimbulkan kesalahpahaman publik.
Dalam unggahannya, Sri Mulyani menulis, "Potongan video yang beredar yang menampilkan seolah-olah saya menyatakan guru sebagai beban negara adalah HOAX. Faktanya, saya tidak pernah menyatakan bahwa Guru sebagai Beban Negara," tulis Sri Mulyani, dikutip Rabu (20/8/2025).
Baca juga: PGRI: Pernyataan Sri Mulyani soal Gaji Guru Berlebihan dan Lukai Hati Pendidik
Ia juga menjelaskan bahwa video tersebut merupakan hasil deepfake dan cuplikan tidak utuh dari pidatonya dalam Forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di ITB pada 7 Agustus lalu.
Lebih lanjut, Sri Mulyani mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. "Marilah kita bijak dalam bermedia sosial," tulisnya sebagai penutup klarifikasi.
Sementara itu, dalam pidato aslinya, Menkeu Sri Mulyani awalnya menyampaikan paparan mengenai alokasi anggaran pendidikan tahun 2025 sebesar Rp724,3 triliun. Anggaran tersebut mencakup berbagai program seperti KIP Kuliah untuk 1,1 juta mahasiswa, PIP untuk 20,4 juta siswa, BOS untuk 9,1 juta siswa, serta beasiswa LPDP untuk 36.000 penerima yang sedang berjalan, serta beberapa alokasi pendidikan lainnya.
Baca juga: Sri Mulyani Viral Sebut Guru Beban Negara, Ini Penjelasan Kemenkeu
Ia juga menjelaskan bahwa klaster anggaran kedua terkait guru dan dosen, yang mencakup gaji hingga tunjangan kinerja.
"Banyak di media social mengatakan oh menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya ngga besar," katanya, dikutip dari YouTube Kemendiktisaintek.
"Ini menjadi suatu tantangan bagi keuangan negara. Apakah semuanya harus keuangan negara ataukah ada partisipasi dari masyarakat," ujar Sri Mulyani.
Setelah itu, ia menerangkan klaster anggaran pendidikan lainnya termasuk sarana dan prasarana seperti revitalisasi sekolah, pembangunan sekolah baru, rumah sakit pendidikan, dan berbagai fasilitas untuk memperkuat ekosistem pendidikan dan riset di Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Sri Mulyani juga melaporkan kepada para pemimpin intelektual, peneliti, dan pegiat sains bahwa Indonesia memiliki dana abadi pendidikan sebesar Rp154,1 triliun. Anggaran dana abadi tersebut terbagi ke dalam beberapa kategori, yakni dana abadi pendidikan, dana abadi penelitian, dana abadi perguruan tinggi, dan dana abadi kebudayaan, termasuk beasiswa LPDP.
Dalam unggahannya, Sri Mulyani menulis, "Potongan video yang beredar yang menampilkan seolah-olah saya menyatakan guru sebagai beban negara adalah HOAX. Faktanya, saya tidak pernah menyatakan bahwa Guru sebagai Beban Negara," tulis Sri Mulyani, dikutip Rabu (20/8/2025).
Baca juga: PGRI: Pernyataan Sri Mulyani soal Gaji Guru Berlebihan dan Lukai Hati Pendidik
Ia juga menjelaskan bahwa video tersebut merupakan hasil deepfake dan cuplikan tidak utuh dari pidatonya dalam Forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di ITB pada 7 Agustus lalu.
Lebih lanjut, Sri Mulyani mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. "Marilah kita bijak dalam bermedia sosial," tulisnya sebagai penutup klarifikasi.
Sementara itu, dalam pidato aslinya, Menkeu Sri Mulyani awalnya menyampaikan paparan mengenai alokasi anggaran pendidikan tahun 2025 sebesar Rp724,3 triliun. Anggaran tersebut mencakup berbagai program seperti KIP Kuliah untuk 1,1 juta mahasiswa, PIP untuk 20,4 juta siswa, BOS untuk 9,1 juta siswa, serta beasiswa LPDP untuk 36.000 penerima yang sedang berjalan, serta beberapa alokasi pendidikan lainnya.
Baca juga: Sri Mulyani Viral Sebut Guru Beban Negara, Ini Penjelasan Kemenkeu
Ia juga menjelaskan bahwa klaster anggaran kedua terkait guru dan dosen, yang mencakup gaji hingga tunjangan kinerja.
"Banyak di media social mengatakan oh menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya ngga besar," katanya, dikutip dari YouTube Kemendiktisaintek.
"Ini menjadi suatu tantangan bagi keuangan negara. Apakah semuanya harus keuangan negara ataukah ada partisipasi dari masyarakat," ujar Sri Mulyani.
Setelah itu, ia menerangkan klaster anggaran pendidikan lainnya termasuk sarana dan prasarana seperti revitalisasi sekolah, pembangunan sekolah baru, rumah sakit pendidikan, dan berbagai fasilitas untuk memperkuat ekosistem pendidikan dan riset di Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Sri Mulyani juga melaporkan kepada para pemimpin intelektual, peneliti, dan pegiat sains bahwa Indonesia memiliki dana abadi pendidikan sebesar Rp154,1 triliun. Anggaran dana abadi tersebut terbagi ke dalam beberapa kategori, yakni dana abadi pendidikan, dana abadi penelitian, dana abadi perguruan tinggi, dan dana abadi kebudayaan, termasuk beasiswa LPDP.
(nnz)
Lihat Juga :