Riwayat Pendidikan Gustika Jusuf, Cucu Bung Hatta yang Lantang Kritik Pemerintah
Kamis, 21 Agustus 2025 - 09:48 WIB
loading...
Gustika Jusuf-Hatta, cucu proklamator Mohammad Hatta, menjadi sorotan publik usai unggahannya di Instagram yang mengkritik tajam pemerintah. Foto/Instagram @gustikajusuf.
A
A
A
JAKARTA - Gustika Jusuf-Hatta , cucu proklamator Mohammad Hatta , menjadi sorotan publik usai unggahannya di Instagram yang mengkritik tajam pemerintah saat momentum peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.
Melalui unggahan di akun Instagramnya, dalam acara upacara Detik-Detik Proklamasi di Istana Negara, ia tampil anggun dengan kebaya hitam yang dipadukan dengan kain batik slobog—sebuah simbol budaya Jawa yang sarat makna duka dan doa peralihan.
Baca juga: Riwayat Pendidikan Mohammad Hatta, Wakil Presiden Pertama RI yang Pernah Kuliah di Belanda
Gustika mengunggah foto itu dengan keterangan foto yang mengkritik kondisi Pemerintahan Indonesia terkini.
![Riwayat Pendidikan Gustika Jusuf, Cucu Bung Hatta yang Lantang Kritik Pemerintah]()
Foto/Instagram @gustikajusuf.
Di balik sikap kritisnya terhadap isu hak asasi manusia dan pemerintahan, Gustika memiliki rekam jejak pendidikan yang cemerlang di berbagai kampus bergengsi dunia.
Riwayat akademiknya membentuk dirinya menjadi seorang peneliti sekaligus profesional di bidang keamanan internasional, hak asasi manusia, hingga reformasi sektor keamanan.
Baca juga: Daftar Wakil Presiden RI: Mohammad Hatta hingga Ma'ruf Amin, Siapa Selanjutnya?
Menurut profil LinkedIn-nya, Gustika kini tengah menempuh studi Master of Advanced Studies (MAS) International Law in Armed Conflict di Geneva Academy of International Humanitarian Law and Human Rights (2022–2024). Sebelumnya, ia meraih gelar Bachelor of Arts (Honours) War Studies dari King’s College London (2015–2018).
Baca juga: Profil 5 Kampus di Indonesia yang Menggunakan Nama Pahlawan
Foto/Instagram @gustikajusuf.
Selain pendidikan formalnya, Gustika juga memperkaya wawasan akademisnya dengan sejumlah studi non-gelar di universitas dan lembaga internasional, di antaranya:
Sotheby’s Institute of Art (semester course, Asian Art and Its Market)
Harvard Extension School (2021, non-degree)
The Hague Academy of International Law (2019)
Sciences Po Lyon (2013–2014, Certificat d'Études Politiques in Political Science and Government)
Cambridge Education Group (2013, Undergraduate Foundation Year, Humanities)
Selain itu, ia juga pernah menjadi bagian dari Atlas Corps Virtual Leadership Institute dalam program kepemimpinan publik yang didukung oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta.
![Riwayat Pendidikan Gustika Jusuf, Cucu Bung Hatta yang Lantang Kritik Pemerintah]()
Foto/Instagram @gustikajusuf.
Dalam deskripsi akademisnya, Gustika menyebut dirinya sebagai peneliti dan profesional yang berfokus pada reformasi sektor keamanan (SSR/G), kerja sama keamanan internasional, dan analisis konflik.
![Riwayat Pendidikan Gustika Jusuf, Cucu Bung Hatta yang Lantang Kritik Pemerintah]()
Foto/Instagram @gustikajusuf.
Ia juga menaruh perhatian khusus pada isu hak asasi manusia, demiliterisasi, feminisme interseksional, serta dekolonisasi.
Baca juga: Peringati Hari Koperasi, Wamenkop Temui Tiga Putri Bung Hatta
Selama lebih dari lima tahun, ia berkiprah di berbagai organisasi antar-pemerintah maupun non-pemerintah. Latar belakang pendidikannya yang berkelas internasional ini menjadi modal penting bagi perannya sebagai peneliti sekaligus pengkritik kebijakan publik di Indonesia.
Tidak hanya berfokus pada akademik, Gustika juga menorehkan karier internasional. Ia pernah magang di Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenkopolhukam) pada 2016, serta menjadi Political and Security Intern di Permanent Mission of Indonesia to the United Nations (2017–2018).
Baca juga: Meutia: Koperasi Warisan Bung Hatta untuk Ekonomi Indonesia
Selain itu, ia juga pernah bekerja sebagai research intern di CSIS, youth adviser di UNFPA (2019–2020), researcher di Imparsial, hingga National Youth Consultant di Plan International (2020–2022). Di luar jalur formal, Gustika juga dikenal sebagai podcaster di Box2Box ID.
Dengan latar belakang pendidikan mentereng di universitas top dunia, Gustika Jusuf Hatta membuktikan dirinya bukan hanya sekadar pewaris nama besar kakeknya, Bung Hatta.
Ia menjadikan pendidikan dan karier internasionalnya sebagai landasan untuk bersuara kritis terhadap pemerintah, terutama menyangkut isu demokrasi, kemanusiaan, dan hak asasi manusia.
Melalui unggahan di akun Instagramnya, dalam acara upacara Detik-Detik Proklamasi di Istana Negara, ia tampil anggun dengan kebaya hitam yang dipadukan dengan kain batik slobog—sebuah simbol budaya Jawa yang sarat makna duka dan doa peralihan.
Baca juga: Riwayat Pendidikan Mohammad Hatta, Wakil Presiden Pertama RI yang Pernah Kuliah di Belanda
Gustika mengunggah foto itu dengan keterangan foto yang mengkritik kondisi Pemerintahan Indonesia terkini.

Foto/Instagram @gustikajusuf.
Di balik sikap kritisnya terhadap isu hak asasi manusia dan pemerintahan, Gustika memiliki rekam jejak pendidikan yang cemerlang di berbagai kampus bergengsi dunia.
Riwayat akademiknya membentuk dirinya menjadi seorang peneliti sekaligus profesional di bidang keamanan internasional, hak asasi manusia, hingga reformasi sektor keamanan.
Baca juga: Daftar Wakil Presiden RI: Mohammad Hatta hingga Ma'ruf Amin, Siapa Selanjutnya?
Pendidikan Tinggi di Kampus-Kampus Ternama Dunia
Menurut profil LinkedIn-nya, Gustika kini tengah menempuh studi Master of Advanced Studies (MAS) International Law in Armed Conflict di Geneva Academy of International Humanitarian Law and Human Rights (2022–2024). Sebelumnya, ia meraih gelar Bachelor of Arts (Honours) War Studies dari King’s College London (2015–2018).
Baca juga: Profil 5 Kampus di Indonesia yang Menggunakan Nama Pahlawan

Foto/Instagram @gustikajusuf.
Selain pendidikan formalnya, Gustika juga memperkaya wawasan akademisnya dengan sejumlah studi non-gelar di universitas dan lembaga internasional, di antaranya:
Sotheby’s Institute of Art (semester course, Asian Art and Its Market)
Harvard Extension School (2021, non-degree)
The Hague Academy of International Law (2019)
Sciences Po Lyon (2013–2014, Certificat d'Études Politiques in Political Science and Government)
Cambridge Education Group (2013, Undergraduate Foundation Year, Humanities)
Selain itu, ia juga pernah menjadi bagian dari Atlas Corps Virtual Leadership Institute dalam program kepemimpinan publik yang didukung oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta.

Foto/Instagram @gustikajusuf.
Peneliti dengan Fokus HAM dan Keamanan Internasional
Dalam deskripsi akademisnya, Gustika menyebut dirinya sebagai peneliti dan profesional yang berfokus pada reformasi sektor keamanan (SSR/G), kerja sama keamanan internasional, dan analisis konflik.

Foto/Instagram @gustikajusuf.
Ia juga menaruh perhatian khusus pada isu hak asasi manusia, demiliterisasi, feminisme interseksional, serta dekolonisasi.
Baca juga: Peringati Hari Koperasi, Wamenkop Temui Tiga Putri Bung Hatta
Selama lebih dari lima tahun, ia berkiprah di berbagai organisasi antar-pemerintah maupun non-pemerintah. Latar belakang pendidikannya yang berkelas internasional ini menjadi modal penting bagi perannya sebagai peneliti sekaligus pengkritik kebijakan publik di Indonesia.
Jejak Karier Internasional
Tidak hanya berfokus pada akademik, Gustika juga menorehkan karier internasional. Ia pernah magang di Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenkopolhukam) pada 2016, serta menjadi Political and Security Intern di Permanent Mission of Indonesia to the United Nations (2017–2018).
Baca juga: Meutia: Koperasi Warisan Bung Hatta untuk Ekonomi Indonesia
Selain itu, ia juga pernah bekerja sebagai research intern di CSIS, youth adviser di UNFPA (2019–2020), researcher di Imparsial, hingga National Youth Consultant di Plan International (2020–2022). Di luar jalur formal, Gustika juga dikenal sebagai podcaster di Box2Box ID.
Cucu Bung Hatta dengan Sikap Kritis
Dengan latar belakang pendidikan mentereng di universitas top dunia, Gustika Jusuf Hatta membuktikan dirinya bukan hanya sekadar pewaris nama besar kakeknya, Bung Hatta.
Ia menjadikan pendidikan dan karier internasionalnya sebagai landasan untuk bersuara kritis terhadap pemerintah, terutama menyangkut isu demokrasi, kemanusiaan, dan hak asasi manusia.
(nnz)
Lihat Juga :